Header Ads

Bertahap dalam Menceritakan Gagasan


Gagasan berada di alam pikiran. Apabila tidak dikomunikasikan dan diwujudkan, teruslah gagasan terkurung di alam pikiran. Tidak ada orang lain yang tahu, atau sekedar mendengar sedikit tentangnya.

Tidak salah untuk seseorang menyimpan gagasannya dengan rapi. Ia tidak ingin menceritakannya kepada siapapun, hanya ingin menyimpan untuk dirinya sendiri. Baginya berbagi gagasan tidaklah penting.

Di sisi lain seseorang perlu mengetahui bahwa gagasan yang hanya disimpan beresiko hilang. Seiring waktu gagasan itu tertumpuk dengan memori baru yang terus berdatangan. Akhirnya gagasan itu tak meninggalkan bekas sama sekali.

Di sisi yang lain lagi, gagasan itu sifatnya karunia dari Allah ta'ala. Hendaklah siapapun mensyukurinya. Salah satu caranya adalah menceritakan gagasan kepada orang-orang yang tepat. Mereka itu apresiatif terhadap berbagai gagasan, tidak meremehkan apalagi melecehkan.


Di sini dapat dipahami ada dua poin: Kemampuan menceritakan gagasan dan menemukan orang-orang apresiatif terhadap gagasan.

Siapapun perlu memiliki keterampilan untuk menceritakan gagasan. Jika perlu, latihan dilakukan. Teknik vokal, visualisasi, pengaturan waktu, hingga runtutan berceita, semuanya dilatih. Semoga gagasan dapat diuraikan dengan baik kepada orang lain. 

Tidak mesti kemudian gagasan dijalankan saat itu, baik oleh pemilik gagasan atau orang lain, tetapi minimal terjadi pengayaan pikiran antarorang. Ini penting sebagai jalan peningkatan kapasitas orang-orang. Sehingga perlahan terbentuk suatu komunitas atau lingkar pergaulan berisi orang-orang handal. Mereka mampu memandang suatu realitas atau objek dari berbagai perspektif / sudut pandang.

Dengan pandangan yang multiperspektif, semoga terbangun kemampuan personal dalam menyelesaikan masalah secara efektif. Jika tidak diketemukan masalah, maka kemampuan personal ini berkemungkinan mendorong situasi yang ada untuk lebih baik di masa depan (upgrading). Apabila kemampuan personal ini terus dibangun, maka proses upgrading dapat terjadi berkelanjutan.

Betul sekali, tidak mudah menemukan orang-orang yang mau mendengarkan dan mengapresiasi gagasan. Apabila mudah menemukan orang-orang tipe ini, gagasan-gagasan mungkin sudah berterbangan di mana-mana. Faktanya terasa sulit menemukan gagasan dibincangkan secara terbuka, objektif, integratif, dan sekaligus suportif.

Komunitas atau lingkar pergaulan yang toksik terlanjur merata di masyarakat. Sehingga ketakutan menceritakan gagasan sedemikian kuat mencengkeram perasaan setiap orang. Alhasil terkunci sudah potensi-potensi kebaikan dalam diri kebanyakan insan.

Sehubungan itu semua, ada baiknya memulai aktivitas cerita gagasan kepada satu atau dua orang terlebih dulu. Sifatnya individu ke individu, face to face. Berikutnya secara perlahan dan bertahap, cerita gagasan dilakukan ke lingkar pergaulan kecil. Selanjutnya lingkar pergaulan yang lebih besar bisa dijadikan sasaran. Demikian terus dilakukan.

Semoga respon negatif yang diterima pemilik gagasan tidak menorehkan luka batin yang berat, cukup ringan saja. Sehingga sembuhnya tidak butuh waktu lama. Perbaikan gagasan juga cepat dilakukan. Hasilnya gagasan semakin matang dan pemilik gagasan semakin percaya diri. Cerita gagasan berlanjut terus dan terus.

Satu harapan yang selalu perlu dikuatkan adalah gagasan terwujud dan jadi amal shaleh. Sehingga pahalanya mengalir kepada pemilik gagasan dan orang-orang yang mewujudkannya. Kompensasi lainnya, semisal hal-hal duniawi, semoga Allah ta'ala berikan juga.

Wallah a'lam.


Fu'ad F
Diberdayakan oleh Blogger.