Mengenali Tahapan-tahapan dalam Mewujudkan Gagasan
Setiap orang diberi potensi untuk melahirkan gagasan, baik tentang keseharian personal atau yang lebih luas. Selain itu, setiap orang juga diberi potensi untuk mewujudkan gagasannya. Hanya saja sejumlah tahapan yang menjadi ujian perlu dilalui, khususnya pada gagasan yang menyangkut kepentingan orang banyak.
Tahap pertama adalah mengomunikasikan gagasan. Dua hal sekaligus diperlukan di tahap ini, yakni keyakinan pemilik gagasan terhadap gagasannya dan penyampaian yang relevan. Apabila salah satunya tiada, maka kemungkinan gagasan tidak bisa dipahami bahkan diterima orang lain.
Keyakinan terhadap gagasan berkaitan dengan nilai yang dianut oleh sang pemilik gagasan. Saat gagasan berkesesuaian dengan nilai yang dianut, maka keyakinan pemilik gagasan relatif kuat. Penyampaian bisa dilakukan dengan mantap.
Sebaliknya saat gagasan bertentangan dengan nilai yang dianut, kemungkinan besar sang pemilik gagasan akan gagap. Lisannya kelu. Kata-katanya tak tersusun rapi, serampangan. Makna menguar, sulit untuk digenggam.
Sementara itu artikulasi berkaitan dengan kualitas komunikasi, terutama lisan. Diksi, susunan kalimat, runtutan pembicaraan, tekanan suara dan intonasi merupakan beberapa hal yang berhubungan artikulasi. Meskipun kompleks, kabar baiknya, kualitas komunikasi masih mungkin untuk dilatih. Apalagi jika telah diketemukan pelatih yang ahli.
Artikulasi juga berkaitan relevansi, yakni gagasan punya kaitan dengan situasi terkini. Mungkin gagasan berpotensi untuk menyelesaikan satu masalah, atau mempersempit suatu kesenjangan, atau meningkatkan kualitas sebuah situasi. Tanpa relevansi, artikulasi hanya menjadi kumpulan kata-kata yang sulit melukis makna.
Tahapan kedua adalah memperbaiki gagasan. Setelah gagasan dikomunikasikan dan diterima orang lain, ada kemungkinan terjadi perbaikan pada gagasan tersebut. Mungkin perbaikannya mendasar, mungkin juga tidak. Akan tetapi dengan perbaikan, gagasan cenderung meningkat kualitasnya. Publik lebih berkemungkinan untuk menerimanya.
Sehubungan dengan perbaikan gagasan, kiranya sang pemilik gagasan tidak perlu malu dan sungkan untuk mengakuinya. Karena perbaikan terhadap gagasan itu sesuatu yang biasa terjadi. Justru dengan mengakuinya, orang lain akan mengetahui bahwa telah proses upgrading pada diri sang pemilik gagasan.
Tahapan ketiga adalah membangun tim kerja. Sifatnya krusial. Kegagalan membentuk tim bisa berdampak pada kegagalan perwujudan gagasan.
Sehubungan dengan itu, pemilik gagasan punya dua opsi besar: Membentuk dan memimpin tim sendiri, atau menyerahkan gagasannya kepada seorang pemimpin tim untuk diwujudkan.
Mengapa opsi kedua muncul? Karena tidak setiap pemilik gagasan punya kemampuan mengelola tim dan aktivitasnya. Sebagaimana diketahui, mengelola tim membutuhkan kapasitas kepemimpinan dan manajerial. Sedangkan sebagian pemilik gagasan hanya berfokus pada proses kelahiran gagasan, tidak pada hal lainnya.
Apabila dipaksakan untuk sang pemilik gagasan menjadi pemimpin tim, maka perlu dipastikan kapasitasnya. Seberapa mungkin ia menjalani dua arus sekaligus, membangun serta mewujudkan gagasan?
Tahapan keempat adalah membuat rencana aksi. Agar ikhtiar mewujudkan gagasan menjadi lebih terstruktur dan terukur. Sehingga alur kerja terbentuk.
Dengan alur kerja yang jelas, banyak hal dapat diretas. Salah satunya jalur koordinasi, sesuatu yang penting dalam menyelesaikan masalah atau merampungkan instruksi. Setiap anggota tim tahu apa tugasnya dan kemana ia harus berkoordinasi saat sesuatu terjadi.
Tahapan kelima adalah evaluasi. Ada dua hal yang butuh dipisahkan: Evaluasi terhadap gagasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan gagasan.
Keduanya terlihat sama, tapi sebenarnya berbeda. Sebagaimana dapat dipahami dari uraian terdahulu, gagasan berhubungan dengan filosofi dan teori. Sedangkan pelaksanaannya berhubungan dengan kepemimpinan dan manajerial.
Sasarannya juga berbeda. Sasaran evaluasi gagasan adalah pemilik gagasan. Sedangkan sasaran evaluasi pelaksanaannya adalah pada pemimpin tim eksekusi.
Sedemikian panjang tahapan suatu gagasan terwujud, semoga mendorong lahirnya gagasan-gagasan yang matang. Sehingga masyarakat bisa memanfaatkannya dalam kehidupan. Nikmat akal dari Allah ta'ala terasa betul hebatnya.
Wallah a'lam.
Fu'ad F


Post a Comment