Header Ads

Bersabar dalam Menyampaikan dan Mewujudkan Gagasan


Suatu gagasan yang dilontarkan lumrah saja mendapat penolakan. Alasannya beraneka macam. Sebagian alasannya logis, sebagian lainnya sangat kentara dibuat-buat.

Pemilik gagasan, siapapun, perlu memahami hal ini. Agar stabilitas pikiran dan emosi terjaga. Pikiran tidak ribut semisal dengan pernyataan, "Mungkin aku memang tidak kompeten, usulku tidak bermutu."

Emosi tidak tersulut oleh marah atau semacamnya. Rileks saja. Semoga ketenangan yang dijaga akan membuka sebuah peluang baik.

Tidak jarang seiring waktu Allah ta'ala buka peluang baik itu. Dengan ketenangan yang terjaga, sang pemilik gagasan bisa menggunakan peluang baik itu dengan lihai, seakan-akan tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Gagasan disampaikan lagi, kali ini dengan kualitas komunikasi yang lebih bermutu. Sehingga peluang diterimanya gagasan jauh lebih besar.

Sebaliknya jika emosi meledak-ledak, kemungkinan peluang baik jadi sulit terlihat. Orang-orang sekitar juga sudah tidak nyaman. Gagasan tinggal kenangan.

Dapatlah kemudian diambil satu pelajaran. Gagasan, sebaik apapun, perlu perjuangan pikiran dan emosi yang baik. Garis waktu yang panjang terkadang harus dilalui. Rasa bosan untuk mengangkat kembali gagasan lagi dan lagi, upayakan tidak pernah ada.

Bukan apa-apa, ada satu alasan mengapa sebuah gagasan perlu diperjuangkan supaya orang-orang sekitar menerimanya, yakni amal jariyah. Saat gagasan diterima lalu diangkat bersama dan membawa manfaat, sang pemilik gagasan tentu akan mendapat pahala dari-Nya. Alasan lainnya boleh ada, tapi tetap berada di bawah alasan lillahi ta'ala.

Bahkan lillahi ta'ala ini semoga jadi bahan bakar yang memungkinkan gagasan diperjuangkan terus hingga mewujud. Cemoohan dianggap biasa, bahkan bahan memperkaya gagasan. Apalagi jika ada reviu yang sifatnya ilmiah, pengayaan gagasan bisa lebih canggih.

Lillahi ta'ala ini juga akan membuka diri untuk sebanyak mungkin orang lain terlibat. Siapapun boleh bergabung untuk mensukseskan gagasan, asalkan siap bersinergi. Karena tanpa sinergi, gagasan sulit terwujud.

Satu disclaimer digarisbawahi di sini, yakni lillahi ta'ala tidak menutup kemungkinan untuk klaim gagasan khususnya berkonsekuensi finansial. Bagaimanapun gagasan lahir dari suatu proses berpikir. Sedangkan kerumitan kadang mewarnai perjalanan proses berpikir. Wajar jika pemilik gagasan kemudian ingin mendapatkan kompensasi. 

Perihal klaim gagasan ini tidak bertentangan dengan niat lillahi ta'ala. Bahkan klaim gagasan dapat menguatkan tanggung jawab ilmiah. Lebih jauh klaim gagasan dengan kompensasi finansial berpotensi melahirkan gagasan lain yang mungkin jauh lebih hebat. Karena melahirkan gagasan kadang membutuhkan modal finansial.  

Gagasan itu karunia Allah ta'ala. Mendapatkannya berarti mendapatkan karunia yang banyak. Hendaklah karunia tersebut disuarakan dan diwujudkan. Semuanya atas satu dasar, yaitu kesyukuran.

Wallah a'lam.


Fu'ad F
Diberdayakan oleh Blogger.