Agar Tidak Gila dalam Hidup
Kegilaan kadang terjadi di kehidupan ini. Aturan ditabrak, tidak peduli sanksinya. Apalagi sanksinya abstrak seperti dosa.
Banyak perspektif yang bisa digunakan untuk mengurai penyebab kegilaan perilaku. Salah satunya ketiadaan arah hidup yang benar. Asalkan hati senang, sudahlah, gasss, rencana disusun lalu dijalankan.
Terkadang tidak ada rencana sebelumnya, refleks saja. Hanya saja karena hidup seseorang tidak memiliki arah yang benar sehingga prinsip menjadi kosong, maka tindakan yang dilakukan kadang merugikan. Jangka pendeknya merugikan orang lain, sedangkan jangka panjangnya merugikan orang lain dan diri sendiri.
Di sinilah pentingnya arah hidup yang benar. Agar segala apa yang di kepala senantiasa terarah pada kebaikan. Semua perilaku senantiasa diikhtiarkan baik, meskipun sesekali kesalahan dilakukan secara tidak sengaja.
Dalam hal ini pendidikan berperan penting, khususnya keluarga. Anak diantarkan untuk mengenali arah hidup yang benar. Logika, rasa, dan pertemanan diatur agar menguatkan kebenaran serta kebaikan.
Harus diakui lingkungan juga tidak kalah kuat dalam memberikan pengaruh. Wujudnya kadang tidak sekedar hitam dan putih, tapi bergradasi dari hitam ke abu-abu lalu putih. Di situasi ini penting kiranya orangtua mengurai, mana bagian-bagian asasi dan mana yang masih ditoleransi.
Bagian-bagian asasi merupakan hal penting untuk diyakini dan dijadikan panduan hidup. Misalkan iman. Sementara bagian-bagian yang bisa ditoleransi lebih banyak terkait interaksi antarmanusia untuk meraih tujuan baik bersama.
Dengan memahami kesemuanya, semoga anak bisa berinteraksi bahkan membawa kebaikan pergaulannya. Pendampingan serta penguatan hendaklah terus dilakukan oleh orangtua. Sampai kapan? Sampai ajal menjemput.
Tentu saja pendampingan kepada anak perlu banyak penyesuaian. Anak di usia dini didampingi, apalagi memiliki sejumlah karakter khas, mendapatkan pendampingan yang berbeda dengan jenjang usia lainnya. Begitu juga anak di usia remaja dan seterusnya. Orangtua tinggal menyesuaikan saja.
Di satu atau dua situasi, kiranya dianjurkan kepada orangtua untuk mengintervensi segala perilaku anak, khususnya saat ada indikasi penyimpangan. Misalkan anak menyukai kesendirian disertai rasa murung, atau sebaliknya terasakan lebih ekspresif jauh dari biasanya.
Keterlambatan berpotensi menimbulkan masalah besar. Mengatasinya juga tidak ringan. Energi besar diperlukan. Tidak jarang dibutuhkan banyak biaya juga.
Apabila semua ikhtiar itu sudah dilakukan namun anak tetap berperilaku buruk, maka kembalikan semuanya kepada Allah ta'ala. Meminta kepada-Nya itu satu jalan utama. Berikutnya lakukan perenungan, cara apa yang sangat mungkin ditempuh.
Mungkin berkolaborasi dengan keluarga besar bisa dilakukan. Opsi lainnya kolaborasi dengan sesama orangtua di satu komunitas. Opsi lainnya kolaborasi antarkeluarga di lingkungan. Satu lagi, mendekatkan kembali keluarga kepada kumpulan orang shaleh bisa jadi titian kokoh berkelanjutan.
Menahan Perih dengan Lirih dan Rintih Doa
Hari-hari ini begitu banyak berita kejahatan, meskipun masih ditemukan pula berita-berita baik. Akibatnya hati jadi perih. Lirih dan rintih doa terasa jadi satu-satunya jalan keluar.
Bagaimanapun penyelesaian berbagai kejahatan tersebut tidak bisa individual atau sporadis. Sinergi antarunsur masyarakat serta pemerintah dibutuhkan. Saat sinergi itu tiada, runtuh semua harap perbaikan.
Bagaimana, misalnya, hanya satu orang menghadapi pemilik toko miras yang melecehkan Al-Qur'an dengan memberikan hadiah kepada orang yang mau membacakan sebagian ayat? Tentu satu orang ini akan kalah.
Bagaimana pula, misalnya, hanya satu orang menyelesaikan masalah pembunuhan seorang ibu oleh anaknya? Sang ibu dibunuh oleh anaknya hanya karena marah dibangunkan shalat Subuh. Jawabannya, tidak mudah. Akan lebih baik apabila penyelesaiannya utuh. Sisi hukum dituntaskan. Berikutnya sisi lain semisal pendampingan taubat.
Bagaimana juga dengan persoalan korupsi dan kebijakan yang ugal-ugalan? Satu demi satu orang tentu akan terlempar.
Sekali lagi, situasinya tidak mudah. Sinergi jadi jawabannya. Semua pihak diharapkan membuka pintu kerja sama. Agar bangsa dan generasi masa depan lebih bisa diselamatkan.
Wallah a'lam.

Post a Comment