Hati-hati Salah Memahami Pesan
Salah menyimpulkan itu kurang baik, bahkan berpotensi bahaya. Respon yang diberikan tidak pas. Akibat buruknya bisa meluas.
Oleh karena
itu seseorang sangat diharapkan berhati-hati dalam membuat kesimpulan. Jika
perlu, kesimpulannya dikonfirmasi. Agar kesimpulannya benar-benar akurat.
Ada
beberapa hal yang menyebabkan terjadinya salah menyimpulkan. Sebagiannya
bersifat kognitif, sebagiannya personal, dan sebagian lainnya kultur. Terbuka
kemungkinan dua penyebab, bahkan lebih, berpadu. Apabila hal demikian terjadi,
salah menyimpulkan bisa sangat menyimpang dari maksud awal.
Penyebab
yang bersifat kognitif adalah ketidakmampuan dalam memahami pesan. Inti pesan
tidak ditangkap. Sehingga struktur pesan menjadi kacau. Kesimpulan dan respon
yang dihasilkan, dapat ditebak, jauh dari maksud awalnya.
Penyebab
yang bersifat personal adalah memahami pesan dari sudut pandangnya sendiri
dengan meragukan sikap orang lain. Saat orang lain bersikap A dan menyampaikan
A, seseorang dengan egosentris akan meragukannya. Bahkan ia akan menyimpulkan
bahwa sikap yang ditunjukkan itu bukan A, walaupun jelas-jelas A. Semakin kuat
egosentris, semakin menyimpang pula kesimpulan dari maksud awalnya.
Penyebab
lainnya adalah kultur. Beda logat sering mengakibatkan beda artikulasi. Begitu
pula dengan diksi, walaupun berbunyi sama tetapi maknanya bisa beda saat
diucapkan oleh orang dari suku bangsa lain. Akibatnya reseptif tidak bekerja
cepat. Di sisi lain ujaran yang diterima terus masuk. Kognitif bekerja super
cepat. Di sinilah salah menyimpulkan sangat mungkin terjadi.
Antisipasinya,
sebagaimana telah disampaikan, adalah konfirmasi. Seseorang yang telah mendapat
pesan kemudian membuat kesimpulan sementara. Berikutnya kesimpulan sementara
ini dikonfirmasi kepada pemberi pesan, demikiankah yang dimaksud. Setelah
disetujui, barulah kesimpulan sementara berubah jadi permanen.
Alternatif
lainnya adalah konfirmasi kepada orang lain yang dipercaya. Agar konfirmasi
disampaikan dengan tidak sungkan. Semoga jika ada revisi, disampaikanlah dengan
melegakan hati.
Antisipasi
lainnya adalah membangun keakraban, baik dengan diri sendiri ataupun orang
lain. Agar pengenalan semakin dalam. Ujaran-ujaran semakin dipahami. Sehingga
potensi salah menyimpulkan berkurang. Selain itu, dengan akrab, semoga saling
revisi dalam penyampaian pesan bisa dilakukan tanpa dongkol.
Dapat
dipahami dengan mudah terkait mengakrabi orang lain, bagaimana dengan
mengakrabi diri sendiri? Justru kepada diri sendiri, proses mengakrabi perlu
terus dilakukan. Karena tanpa sadar, bisa jadi diri terus bertumbuh.
Logika-logika baru berkembang. Dengan mengakrabi diri sendiri, potensi baik
dapat dikuatkan, sementara buruknya dilemahkan. Kualitas diri dalam
bersosialisasi semakin mempesona.
Wallahu a'lam.

Post a Comment