Header Ads

Bersiap untuk Menelusuri Masalah

Dalam khazanah bahasa Arab ditemukan sebuah pepatah, "Memahami pertanyaan itu separuh jawaban (fahmus su'al nishful jawab)."


Pepatah ini memberikan pelajaran penting bagi manusia dalam menjalani kehidupannya, baik cakupan pribadi ataupun lebih luas. Bahwa memperjelas masalah itu harus dilakukan untuk menemukan jawaban akurat. Sehingga perbaikan dapat dilakukan. 

Apabila masalah belum jelas, tapi tindakan sudah diambil, maka sangat mungkin terjadi banyak kesalahan. Masalah yang ada semakin pelik. Energi untuk menyelesaikannya jauh lebih besar.

Oleh karena itu hendaklah setiap orang diberikan pengetahuan dan keterampilan terkait memperjelas masalah. Misalkan lewat pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menguji. Cara ini sudah sangat lazim digunakan, khususnya terkait masalah pribadi.

Sementara itu, terkait masalah sosial ataupun profesional, mengajukan pertanyaan-pertanyaan penguji dapat dimodifikasi menjadi survey atau piranti analisis. Dalam hal ini sudah banyak tawaran ahli. Tinggal pilihan dijatuhkan, piranti mana yang digunakan. Karena semua piranti memiliki plus dan minusnya, tinggal mana yang lebih relevan dengan situasi yang berlangsung.

Justru pertanyaan yang mengemuka adalah kesiapan dalam menggunakan piranti. Paling tidak, dapat diidentifikasi tiga kondisi berkaitan dengan ketidaksiapan menggunakan piranti. Berikut penjelasannya.

Pertama, ketidaksiapan belajar mendalam tentang piranti. Belajar dilakukan hanya di permukaan. Sehingga keraguan terhadap efektivitas piranti terus muncul.

Kedua, ketidaksiapan evaluasi diri. Bahwa kerapkali ada sekumpulan orang yang tidak siap untuk dievaluasi. Mereka beranggapan, letak masalah bukan pada diri mereka. Padahal dalam cakupan kehidupan sosial, formal ataupun nonformal, seluruh orang dalam satu komunitas perlu dievaluasi. Agar telaah sistemik piranti berjalan secara maksimal. Semoga masalah benar-benar ditemukan.

Ketiga, tidak ada kerangka waktu yang proporsional. Sebagian orang terburu-buru dalam menggunakan pirantinya, sedangkan lainnya sangat lamban. Akibatnya piranti yang digunakan gagal berfungsi sebagai alat pelacak masalah.

Keempat, momennya kurang pas. Dalam hal ini kerapkali masalah sudah sangat parah, dampaknya terlanjur meluas, baru proses penemuan masalah dilakukan. Akibatnya bias banyak terjadi. Masalah semakin sulit untuk ditemukan, apatah lagi solusinya.

Sehubungan dengan itu, hendaklah proses penemuan masalah dilakukan saat semuanya terlihat baik-baik saja. Agar keteraturan lebih mendominasi aktivitas penemuan masalah. Sehingga, sebagaimana telah disampaikan, bias-bias tidak muncul. Masalah atau minimal potensi masalah dapat terlacak lebih akurat.

Lalu bagaimana jika momen pasnya sudah lewat alias masalah terlanjur berat? Jawabannya adalah penetapan status gawat darurat. Sebagaimana dalam penanganan medis, luka berat perlu segera mendapat pertolongan pertama, lalu berikutnya dan berikutnya.



Tabayyun

Agar masalah semakin terang benderang, tabayyun (konfirmasi) itu penting. Konsep dan implementasinya mirip dengan triangulasi. Satu temuan dengan temuan lain dikonfrontir. Semoga dapat diekstraksi suatu kesimpulan akurat.

Dikarenakan triangulasi merupakan bagian dari proses penemuan masalah, maka pengetahuan dan keterampilan terkait triangulasi bersifat sangat penting. Satu tim yang terdiri dari orang-orang berkapasitas dan berintegritas wajib dibentuk. Di pundak merekalah harapan diletakkan.

Di sisi lain dukungan moral serta finansial untuk tim hendaklah diperhatikan. Lebih bagus jika ada penghargaan khusus, berupa insentif dan fasilitasi. Semoga kinerja optimal dapat tercapai. Masalah terus-menerus dapat diurai, lalu solusi direkomendasikan. Implementasi berlangsung relatif lancar dan berdampak.

Wallah a'lam.



Fu'ad F
Diberdayakan oleh Blogger.