Menjaga Anak karena Iman
Sebagian orang mendambakan kehadiran anak, sebagiannya biasa saja, dan sebagian lainnya tidak mengharapkan. Di sisi lain, secara umum, anak masih rapuh. Kerapuhan itu akan berkurang, berganti menjadi kuat, seiring dengan berkembangnya lingkungan yang edukatif. Sebaliknya kerapuhan itu akan memburuk saat lingkungan destruktif.
Oleh karena
itu setiap orang, di usia berapapun, perlu disiapkan untuk mendukung terwujudnya
lingkungan edukatif. Pengetahuan dasar dan keterampilan perlu jadi bahan saling
berbagi antarorang sehingga kesiapan dukungan untuk mewujudkan lingkungan edukatif
terbangun. Selain itu, sinergi antarorang semoga juga terbangun. Peluang
terwujudnya lingkungan edukatif semakin besar.
Dapat dikatakan
setiap orang merupakan pendidik sekaligus murid di lingkungannya. Kedua peranan
tersebut sebenarnya tidak terpisahkan. Karena demikianlah sesosok insan,
memberi dan diberi.
Dengan
demikian keamanan dan kenyamanan saling berbagi antarorang perlu disuburkan
terlebih dulu. Bahwa bicara dan mendengar dianggap sesuatu yang baik, tidak
perlu dicela. Celaan sekecil apapun dihindarkan secara sungguh-sungguh.
Tidak ada mindset
yang merendahkan kelompok orang tertentu semisal anak-anak. Mereka dianggap insan
yang belum matang pikirannya. Sehingga ujaran-ujaran mereka diabaikan begitu
saja. Kehadiran mereka dianggap tidak penting.
Lebih dalam
ditemukan bahwa keimanan merupakan dasar bagi apresiasi terhadap kehidupan, terutama
insan-insan di dalamnya. Tidak ada insan yang direndahkan. Semuanya dihargai
sebagai bagian dalam mewujudkan kehidupan yang berperadaban.
Di sinilah
pengenalan terhadap agama dibutuhkan. Agar pemahaman tentang Tuhan menyuburkan
pemahaman tentang manusia dan kehidupannya. Berikutnya tindakan-tindakan yang
lahir merupakan tindakan dengan kebaikan yang luas.
Tanpa agama,
kebaikan mungkin tumbuh. Akan tetapi ada sisi kehidupan yang disentuh kebaikan.
Sisi kehidupan itu berkemungkinan rusak dan menyebarkan kerusakan. Hidup kemudian
diselimuti penderitaan.
Pada
akhirnya, semoga anak dihargai keberadaannya. Mungkin ia tidak dicintai. Tapi
iman melahirkan kepeduliaan untuk ia terjaga. Agar kasih sayang Allah ta’ala
terasakan, saat orang dewasa yang kuat menjaga anak dengan berbagai
kerapuhannya. Di tahap berikutnya sang anak dapat diharapkan tumbuh sebagai
penyayang kehidupan.
Wallah a’lam.

Post a Comment