Menyeimbangkan Sosok Pribadi Introvert dan Ekstrovert
Manusia memiliki ragam kepribadian, walaupun secara umum terbagi dua: Introvert dan ekstrovert.
Keduanya memiliki kecenderungan berbeda dan berlawanan. Pribadi introvert cenderung tidak suka keramaian. Terasa banyak energi dibutuhkan saat berada di tengah-tengah banyak orang. Sehingga sosok ini butuh waktu menyendiri untuk mengisi kembali energi mentalnya.
Saat berkarya, pribadi introvert cenderung tidak menampilkan diri. Apabila terpaksa menampilkan diri, ala kadar saja dilakukan. Yang penting tercatat namanya.
Sebaliknya sosok berkepribadian ekstrovert suka berada di kerumunan. Ada energi yang tumbuh membesar saat melihat bahkan bergabung dengan banyak orang. Kesendirian itu satu momen yang agak menegangkan sekaligus menakutkan baginya.
Dalam berinteraksi dan bekerja, sangat bagus bila keduanya berinteraksi dengan seimbang. Titik ekstrem perlu dihindari. Sosok pribadi introvert diharapkan menampilkan diri sesuai tuntutannya, demikian pula ekstrovert tidak berlebihan.
Titik ekstrem perilaku berpotensi melemahkan, tidak hanya orang per orang, tapi juga keseluruhan orang. Bagaimanapun kekuatan suatu kumpulan orang dibangun dari kekuatan tiap orang. Kumpulan merupakan akumulasi dari satuan.
Saling jaga dan kontrol penting. Perihal tersebut dapat dilakukan sehalus mungkin. Semoga kondusivitas suasana terjaga. Kolaborasi terus berjalan.
Seorang pemimpin diharapkan mampu menjadi dirijen yang baik. Orkestrasi berjalan harmonis, menghasilkan daya yang berdampak. Hasilnya mampu untuk dinikmati bersama.
Akan menjadi masalah bila orkestrasi tidak berjalan baik. Subordinasi sosok pribadi ekstrovert kepada introvert sangat berpeluang terjadi. Bibit-bibit kebaikan tidak hanya berhenti tumbuh, tapi perlahan bisa membusuk.
Bagaimanapun setiap orang butuh tumbuh dan memiliki pengaruh. Memberikan ruang mental personal yang cukup bagi setiap orang itu opsi bijak dan suportif. Semoga citra dan cinta diri yang sehat terbangun. Selain itu, semoga terbentuk semangat kolektif yang kuat. Sehingga spot light tidak tertuju pada satu orang, sesuatu yang memudahkan terbangunnya jalan menuju kepemimpinan subordinatif.
Saat Dominasi Jadi Pilihan
Dominasi kadang jadi pilihan tak terhindarkan. Ada situasi-situasi memaksa. Katakanlah, misal, rintisan suatu entitas.
Di situasi tersebut sosok pimpinan puncak justru diupayakan mendapatkan spotlight sebanyak-banyaknya. Sumber daya yang dimiliki dikerahkan untuk mencapainya. Dengan spotlight sejenis itu, semoga entitas dapat dikenali publik.
Dalam perjalanan selanjutnya, hendaklah entitas merancang agar terjadi keseimbangan: Panggung depan dan panggung belakang; pimpinan puncak dan support system.
Keseimbangan ini semoga membangun jalan terbentuknya keberlanjutan. Entitas tidak tergantung pada sosok, tapi terus bergerak seiring perjalanan waktu. Bahkan kekokohan semakin bertambah.
Wallah a'lam.
Fu'ad F

Post a Comment