Membangun Eksklusivitas Sehat
Seseorang cenderung punya satu nilai yang dipegangnya dengan kuat. Mungkin itu agama, madzhab pemikiran, pilihan politik, hobi, dan sejenisnya. Selanjutnya nilai tersebut menjadi identitas personalnya.
Tidak ada yang salah untuk seseorang memeluk erat suatu nilai serta menjadikannya sebagai identitas personal. Setiap orang punya hak dalam beridentitas. Di sisi lain, bagaimanapun, perlu dibuka ruang pergaulan untuk orang lain yang beridentitas beda.
Semoga dengan terbukanya ruang pergaulan, terjadi interaksi antarorang. Komunikasi terjadi. Berbagai nilai bisa dipelajari bersama.
Dengan belajar bersama, semoga setiap orang bisa mengenali lebih jauh nilai-nilai yang bertebaran di masyarakat. Sisi baiknya diambil, sisi buruknya disisihkan. Selanjutnya semoga kerjasama bisa dilakukan, agar maslahat terbangun di masyarakat.
Harus diakui belajar bersama tentang nilai-nilai itu tidak mudah. Mengkritik atau dikritik, keduanya bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Akibatnya pergaulan jadi berjarak.
Sehubungan dengan itu, mengenali akar pemikiran / filosofi dari suatu nilai bersifat penting. Belajar bersama, selain lewat ngobrol, bagus juga dilakukan dengan telaah referensi. Buku atau artikel dibaca utuh, lalu diambil kesimpulan seputar hal-hal sensitifnya. Bagian sensitif inilah yang kemudian tidak perlu banyak dibahas di obrolan-obrolan.
Problemnya literasi tidak bisa dilakukan setiap orang. Masih cukup banyak orang yang enggan berliterasi. Di sisi lain dialog ala ngobrol santai lebih dinikmati. Entah salah atau benar, itu tidak masalah. Yang penting situasinya nyaman.
Sebuah solusi yang bisa diusulkan adalah proaktif menceritakan nilai kepada masyarakat, populer diistilahkan dengan dakwah. Komunitas pemilik nilai masing-masing proaktif berdialog dengan masyarakat. Pendekatannya dirancang seakrab mungkin. Biarkan masyarakat menikmati suguhan tentang nilai, lalu memutuskan sikap.
Eksklusivitas, Urgensi dan Antisipasinya
Pemilik nilai bisa menjadi eksklusif. Mereka berkumpul sebagai komunitas, lalu cenderung menutup diri dari kehidupan nyata masyarakat. Keyakinan atas nilai, yang kadang diperkuat oleh doktrin, mendorong ketertutupan/eksklusivitas komunitas.
Dalam hal ini para tetua komunitas diharapkan berkenan membangun jembatan komunikasi dengan kelompok lain, juga dengan masyakarat. Semoga alienasi tidak terjadi. Begitu juga perasaan lebih tinggi atas kelompok lain, semoga tidak ada. Potensi konflik sosial mengecil.
Bagaimanapun perbedaan nilai saat ini sulit terbendung. Di sisi lain interaksi sosial, dunia nyata atau maya, sulit dihindarkan. Oleh karena itu lebih dianjurkan untuk setiap orang membangun nilainya secara berkelanjutan. Agar nilai yang diyakininya semakin kokoh. Berikutnya ia berinteraksi dengan pihak lain secara dialogis.
Sebaliknya tidak dianjurkan kepada setiap orang untuk melebur semua nilai dan keyakinan. Sekilas terlihat baik, tapi peleburan nilai dan keyakinan justru memperlemah nalar kritis. Proses telaah dan konfirmasi tidak lagi difungsikan. Kognitif tahap tinggi, suprakognitif, perlahan mati. Akal dan hati tak lagi terhubung. Maka, bakal tersisakah insan beradab?
Wallah a'lam.

Post a Comment