Header Ads

Menyampaikan Islam secara Efektif kepada Masyarakat Global

Sayyid Naquib Al-Attas rahimahullah, sebagaimana dikutip oleh Prof. Ugi Sugiarto dalam salah satu kesempatan, menyampaikan bahwa juru bicara Islam kepada masyarakat lebih banyak diembankan kepada filosof dan sufi Islam. Sedangkan ulama fikih lebih berperan pada bimbingan internal umat Islam. Setiap pihak memiliki perannya masing-masing.

Bukan berarti ulama fikih tidak bisa menjadi juru bicara Islam. Mereka mampu. Kapasitas mereka di atas rata-rata akademisi.

Hanya memang fikih lebih banyak mengatur internal umat Islam. Selain itu, penerimaan terhadap fikih mensyaratkan hadirnya keimanan. Menyampaikan fikih kepada pihak luar Islam yang tidak memiliki keimanan berpotensi untuk direspon negatif. 

Adapun filosof dan dan sufi Islam lebih banyak menyasar nalar dan alam kebatinan manusia, dua sisi manusia yang bersifat universal. Sehingga siapapun, internal ataupun eksternal umat Islam, bisa menjadi rekan bincang. Siapapun juga berpotensi menerima apa yang disampaikan.


Nah, menghadapi situasi global yang plural saat ini, baik kiranya pendapat Sayyid Naquib Al-Attas rahimahullah lebih diperhatikan. Bahwa membedah berbagai fenomena mutakhir, hendaklah pendekatan filsafat dan sufi lebih dikedepankan. Apabila fikih disertakan, maka posisinya sebagai penjelas.

Demikian pula dalam rangka mensosialisasikan dan membela Islam, filsafat dan sufi Islam dapat diprioritaskan. Semoga universalitas Islam masuk bertahap kepada masyarakat. Berikutnya setelah muncul kesiapan di masyarakat, sosialisasi fikih digencarkan.

Satu hal lagi yang penting digarisbawahi adalah kondisional fikih. Sebagaimana maklum dipahami, fikih lahir dari gabungan dalil dan latar belakang geososial. Sehingga penerapannya juga bersifat kondisional, menimbang keadaan waktu dan tempat. 

Sehingga mengedepankan fikih dalam sosialisasi Islam akan lebih banyak menempatkan Islam sebagai entitas yang kurang universal. Masyarakat kesulitan merasakan relevansinya. Apabila ini terjadi, maka Islam kemungkinan sulit diterima luas.

Memang menyampaikan filsafat dan tasawuf Islam butuh kapasitas yang tidak sembarangan. Kekuatan logika dan struktur pemikiran Islam keduanya butuh dipadukan secara kokoh. Gaya komunikasi yang relevan dengan zaman dan tempat bisa ditambahkan sebagai pendukung.

Oleh karena itu kiranya penting untuk para da'i terus belajar ilmu Islam secara mendalam. Agar detail struktur pemikiran bisa dikuasai. Selain itu, interaksi dengan masyarakat terus dijaga. Semoga komunikasi da'i senantiasa relevan.

Sementara itu pimpinan lembaga pendidikan Islam diharapkan untuk menjadikan filsafat dan tasawuf Islam sebagai mata pelajaran pokok. Tentu saja tahapan diperhatikan. Khusus tasawuf, tidak hanya dipelajari, tapi juga dipraktikkan.

Dunia, sebagaimana ditulis Syeikh Ali Nadwi rahimahullah dalam sebuah bukunya, merugi seiring mundurnya kaum muslimin. Dunia semakin tidak kenal Islam. Dalam hal ini, kaum muslimin diharapkan maju dan mensosialisasikan Islam kembali.

Perihal sosialisasi Islam ini tidak mudah. Bagaimanapun secara umum kaum muslimin sedang berada di posisi tersubordinasi. Kabar gembiranya, gerakan sosialisasi Islam ini bisa dilakukan lewat jalur manapun, salah satunya penyebaran pemikiran, tidak hanya politik dan ekonomi. Dan ikhtiar tersebut telah lama dilakukan, tinggal upgrading saja.

Wallah a'lam.


Fu'ad F
Diberdayakan oleh Blogger.