Header Ads

Reorientasi Industri dan Perburuhan Menuju Maslahat Islami

Islam menganjurkan umatnya agar bekerja. Tujuannya mencegah seorang muslim minta-minta kepada orang lain. Jika ini terjadi, sang muslim akan jadi beban orang lain. Sementara orang yang jadi beban orang lain tidaklah terhormat, kecuali disebabkan sakit atau situasi lain yang dimaklumi.


Terkait lapangan pekerjaan, Islam tidak memberikan batasan. Asalkan halal, suatu pekerjaan bisa dilakoni. Lebih baik lagi apabila pekerjaan tersebut tidak merendahkan kehormatan diri.

Apalagi saat ini begitu banyak jenis pekerjaan baru. Silakan seorang muslim mempelajari fatwa ulama tentang pekerjaan-pekerjaan itu, seberapa halal. Apabila ada kesamaran (gharar, syubhat), lebih baik suatu pekerjaan tidak diambil.

Lebih jauh, Islam menganjurkan ta'awun bil birr wat taqwa (kerjasama dalam kebaikan dan takwa) dalam setiap aktivitas kehidupan manusia, termasuk seputar pekerjaan. Salah satu wujudnya adalah kesiapan duduk bersama untuk membangun kesepakatan-kesepakatan yang saling menguntungkan. Ini berlaku di dalam satu unit kerja, juga lintas unit kerja. 

Nah, dalam bincangan untuk sepakat, seringkali perwakilan dibutuhkan. Hal ini dikarenakan jumlah orang yang terlibat sangat banyak. Menghadirkan seluruh orang sangat tidak efektif dan efisien.

Akhirnya perkumpulan-perkumpulan dibentuk. Nama dan formatnya beraneka ragam. Serikat dan asosiasi dua contohnya.

Lebih khusus tentang perburuhan, semoga lahirnya serikat-serikat buruh dilandasi niat yang demikian, yakni membangun kesepakatan saling menguntungkan antara buruh dengan pengusaha. Demikian pula dengan lahirnya asosiasi pengusaha, semoga dilandasi niat yang sinergis. Tidak ada niatan di kedua pihak untuk berkumpul dengan sesamanya agar bisa menekan pihak lain.

Memang, sebagaimana dipahami, industrialisasi lahir dari barat sesaat setelah ditemukannya mesin uap. Sementara itu barat tidak memiliki ajaran ta'awun sebagaimana Islam. Sehingga hubungan pemilik industri (pengusaha) dengan buruh kerap diwarnai konflik.

Kini seiring waktu, secara perlahan dan bertahap, kiranya baik untuk mengubah orientasi. Pengusaha dan buruh sama-sama membangun keinginan maju bersama, tanpa ada yang dikorbankan. Sehubungan dengan itu, selain duduk dengan tawadhu' di meja dialog, aktivitas ibadah dan taklim butuh dijalani semuanya.

Lelah setelah seharian bekerja semoga tidak menghalangi untuk setiap orang beribadah dan taklim. Agar orientasi individual yang ukhrawi terbangun. Berikutnya semakin mudah untuk dibangun orientasi kolektif. 

Dengan demikian semoga aktivitas pekerjaan tidak melulu tentang uang dan perihal duniawi lainnya. Akan tetapi ada sentuhan dan arah lain yang lebih hakiki, yakni akhirat. Sehingga jiwa tidak lagi diselimuti gelisah, berganti dengan semangat bekerja untuk menggapai ridha-Nya.

Wallah a'lam.


Fu'ad F

Diberdayakan oleh Blogger.