Dari Korban Menjadi Pelaku Bullying
Mungkin sifatnya kasuistis tetapi satu kemungkinan perlu diterima bahwa korban bullying hari ini bisa jadi pelaku bullying di masa depan. Perasaan lemah dan tersiksa hari ini bisa berubah menjadi sifat beringas dan menjajah saat sedikit kekuatan dimilikinya. Sang korban ingin menunjukkan kepada dunia, ia tak lagi lemah.
Benar, dapat dimaklumi jika ada pertanyaan: Jika memang ingin menunjukkan penambahan kekuatan mental, mengapa ditunjukkan dengan cara menjajah pihak lain? Bukankah pengalaman sebagai korban pernah dirasakannya, mengapa sekarang menyebarkan pengalaman buruk itu kepada pihak lain?
Benar pula, dua pertanyaan itu mudah dijawab. Karena pengalaman buruk itu mengendap dalam hati, lalu memberikan tekanan yang kuat. Seperti bola dibungkus kain lalu ditekan sekuat-kuatnya. Jika tidak meletus, bola itu akan memberikan pantulan yang lebih kuat.
Di sinilah korban bullying butuh bantuan untuk mengurangi tekanan hatinya. Konseling jalan keluar utamanya. Selain itu dibutuhkan pula lingkungan yang suportif.
Problemnya tidak semua orang sadar tentang tekanan hatinya. Apalagi anak dan remaja, mereka tidak mudah merasakan serta menjelaskan rasa hatinya. Tetapi perilaku mereka sangat gamblang bercerita, tekanan hati itu memberi rasa sakit yang tak tertahankan.
Di sisi lain orangtua mungkin malu untuk mengantarkan sang anak kepada konselor. Anggapan yang kerapkali muncul, konseling itu untuk orang sakit jiwa. Padahal tekanan hati dapat berubah jadi sakit jiwa saat ikhtiar meringankan tidak pernah ada.
Demikian juga orang dewasa bersikap pada dirinya. Jarang evaluasi diri (muhasabah) dilakukan. Perasaan semuanya baik-baik saja. Akan tetapi sebenarnya ada yang bergejolak dalam dirinya.
Dalam hal ini hadirnya coach yang terlatih perlu disambut gembira. Sosoknya memiliki kemampuan konseling. Akan tetapi citranya tidak formal sebagaimana konselor lainnya. Orang-orang yang butuh bantuan konseling diharapkan lebih nyaman untuk menyelesaikan problema dirinya.
Berbeda dengan seseorang datang ke konselor bahkan psikolog. Tekanan hati lainnya kemungkinan ikut datang, mungkinkah ia sudah gila.
Selain itu ketakutan diketahui orang lain bisa menghantui. Sehingga semakin berat langkah menuju konselor. Apalagi orang-orang di sekitarnya toksik.
Oleh karena itu keluarga perlu mendukung. Wujudnya berupa perlindungan yang dibutuhkan. Mungkin keluarga cukup dengan merahasiakannya dari orang lain. Akan tetapi mungkin saja keluarga butuh meminta bantuan otoritas sekolah atau tempat kerja untuk membantu mengurangi ejekan dari orang-orang.
Lebih bagus jika keluarga terus membangun situasi yang kondusif bagi seluruh anggotanya. Sehingga keluarga menjadi pemupuk kekuatan. Hidup senantiasa dalam kondisi sejahtera.
Wallah a'lam.

Post a Comment