Motivasi Berharta dan Akibatnya
Salah satu motivasi bekerja dalam Islam adalah seseorang menghidarkan dirinya untuk minta-minta kepada orang lain. Ia mandiri, mampu mencukupi kebutuhan dirinya. Sehingga kehormatannya terjaga.
Setelah menikah,
seorang lelaki tidak hanya memikirkan dirinya saja tapi juga keluarganya.
Motivasi bekerjanya jadi bertambah, yakni kecukupan kebutuhan keluarga.
Sehatlah keluarga, terhormat pula keluarga di tengah orang-orang sekitar.
Apabila ada sisa
harta, seorang lelaki dianjurkan berinfak. Saat sisa harta itu melebihi nishab
(batas), maka ia wajib berzakat mal. Harta yang ada tidak disimpan sendiri tapi
sebagiannya dibagi.
Dengan demikian
terjadi dua hal sekaligus. Pertama, harta tidak terkumpul di satu orang tapi
terbagikan kepada orang-orang, khususnya mereka yang tidak mampu. Belanja
barang kemudian terjadi. Maka terjadi pulalah aktivitas ekonomi di masyarakat.
Kedua, kesiapan
kehilangan harta terpupuk di dalam hati sang pemiliknya. Ini penting. Agar hati
tidak terikat pada harta. Akan tetapi hati terikat kepada Allah ta’ala yang
telah memberikan karunia harta.
Keterikatan hati
kepada Allah ta’ala semoga melahirkan banyak kebaikan selanjutnya. Salah
satunya semakin kuat doa dan harapan kepada-Nya. Sehingga semangat hidup
semakin menyala, di saat bersamaan hidup semakin terasa tenang.
Demikianlah motivasi
yang benar akan bermuara pada kebaikan-kebaikan berikutnya. Sebaliknya motivasi
yang salah berpotensi melahirkan bencana, perlu dipelajari dan dijauhi. Semoga bencana
tetap menjauh.
Motivasi salah yang
kerap terjadi adalah mengumpulkan harta untuk berbangga atau berlomba. Beberapa
indikasinya antara lain pelit yang mengakar, sulit diubah. Di sisi lain
kebiasaan pamernya minta ampun. Kapanpun dan dimanapun harta diperlihatkan.
Medsos-nya tidak pernah kosong dari flexing-nya. Orang-orang yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala keheranan.
Motivasi salah
lainnya adalah ingin dihormati. Gambaran sang pemilik harta, banyaknya harta
akan membawakan kehormatan. Gelar-gelar disabet. Berikutnya dalam kehidupan
sehari-hari, gelar-gelar itu dihidupkan. Saat satu gelar saja tidak disebut,
kemarahan sang orang kaya ini bisa meledak.
Ada juga motivasi
ingin balas dendam. Dulu mungkin sang pemilik harta terlahir dari keluarga
miskin, dihina setiap hari. Saat kekayaan sudah di tangan, waktunya membalaskan
rasa sakit hati. Namanya balas dendam, kadang menghina balik sukar dihindarkan.
Orang yang tidak bersalah pun kadang terkena imbasnya.
Nah, ketiga
motivasi salah tersebut mungkin muncul secara halus. Setiap manusia perlu
berhati-hati. Istighfar dan infak semoga jadi pemurni motivasi, sehingga
motivasi kembali menapak jalan benar. Ujungnya hidup yang baik, untuk dirinya,
keluarganya, dan siapapun di sekitarnya.
Wallah a’lam.

Post a Comment