Header Ads

Jam Analog dan Membangun Kerangka Pikir Praktis-Sistemik di Kelas


Sebagaimana disampaikan di beberapa media, jam analog mulai diturunkan di dinding-dinding kelas. Tidak semua kelas memang, tetapi semakin banyak kelas yang kini menggunakan jam digital. Ya, benar, alasannya karena murid lebih mudah membaca jam digital.

Sebagaimana diketahui, gadget sudah digunakan luas. Sementara gadget lebih banyak menggunakan jam digital. Di sisi lain Gen Z dan Alpa merupakan pengguna aktif gadget. Sehingga mereka lebih akrab dengan jam digital.

Tidak salah apabila jam digital lebih banyak digunakan di kehidupan sehari-hari bahkan di kelas. Akan tetapi kemampuan membaca jam analog perlu terus diajarkan. Berikut beberapa alasannya.

Pertama, jam analog menyuguhkan penjelasan visual terkait konversi dari detik ke menit, begitu juga menit ke jam. Harapannya murid memiliki konsep konversi waktu yang lebih mapan. Selain itu, karena konversi berkaitan erat dengan rasio, semoga pembelajaran jam analog mampu menjadi modal konsep untuk murid belajar rasio secara lebih luas.

Kedua, jam analog juga menyuguhkan penjelasan visual terkait siklus waktu harian. Harapannya murid mengetahui konsep pagi dan siang secara utuh. Sehingga manajemen waktu dapat dibangun lebih mudah.

Ketiga, jam analog menyuguhkan korelasi sistemik secara visual. Setelah jarum detik kembali ke angka 12, maka jarum menit akan bergerak satu gerakan ke kanan. Begitu pula setelah jarum menit kembali ke angka 12, maka jarum jam akan bergerak satu gerakan ke kanan. Satu gerakan masing-masing jarum itu berbeda besaran sudutnya. 

Masih berkaitan dengan korelasi sistemik secara visual, pembacaan jarum pendek dan panjang perlu dilakukan dengan tepat. Jarum pendek mengarah ke angka berapa, lalu jam panjang ke angka berapa, keduanya perlu dibaca. Cara membacanya pun perlu urut, dimulai dari jarum pendek dulu. Di sini ada peluang belajar sistem.

Keempat, sebagaimana sempat disinggung sebelumnya, jam analog mengajarkan sudut. Uniknya ada potensi belajar sudut secara dinamis jika menggunakan jam analog. Suatu ukuran sudut bisa diputar ke berbagai arah, besarannya tetap saja. Berbeda saat belajar sudut dengan cara biasa, sudut lebih sering menghadap ke kanan.

Kelima, jam analog mengajarkan mekanika. Bagaimana baterai menggerakkan mesin, lalu mesin menggerakkan jarum. Ada keselarasan di sana.

Lebih jauh, ada satu hal filosofis yang perlu diperhatikan pendidik, yakni pengetahuan tentang proses esensial. Agar mudah, mari ilustrasikan dengan mencuci baju. Seseorang yang terlatih mencuci baju dengan tangan, lalu menggunakan mesin cuci, maka ia lebih paham indikasi pakaian bersih. Saat mesin cuci bermasalah, ia masih punya alternatif lain. Sebaliknya orang yang langsung menggunakan mesin cuci tanpa terlatih mencuci manual, tentu akan kesulitan tentang beberapa hal. 

Dengan mengajarkan analog dan digital, juga manual dan mesin, semoga murid memahami sesuatu yang bekerja di balik layar. Dampaknya murid lebih menghargai kerja-kerja yang mungkin tidak terlihat. Murid juga berpotensi untuk apresiatif terhadap hasil karya orang lain.

Terakhir, akhir zaman ditandai dengan ketiadaan mesin berbasis elektronik. Umat Islam meyakini perihal ini. Oleh karena itu penting mengajarkan sebanyak mungkin keterampilan non-digital supaya generasi depan mampu bertahan hidup, juga mengajarkannya kepada generasi berikutnya.

Wallah a'lam.
Diberdayakan oleh Blogger.