Header Ads

Interkoneksi Kepemimpinan dan Manfaatnya bagi Organisasi


Salah satu aktivitas kepemimpinan di organisasi, bisnis ataupun nirlaba, adalah penugasan dari pemimpin kepada orang yang dipimpin. Penugasan ini bisa bersifat individual, bisa juga kolektif, tergantung pertimbangan sang pemimpin. Mungkin sang pemimpin mempertimbangkan situasi dan kondisi, sebagaimana kebutuhan dan tujuan kadang jadi pertimbangan juga.

Di sini ditemukan titik kritis, seperti apa pertimbangan yang dimiliki sang pemimpin. Tentu tidak diharapkan pertimbangannya asal-asalan. Akan tetapi diharapkan sebuah pertimbangan yang membawa kebaikan.

Pertanyaan kemudian muncul lagi, kebaikan untuk siapa. Ini menarik. Karena organisasi kadang perlu memisahkan kebaikan individu dengan kebaikan bersama. Contoh mudahnya seorang karyawan minta izin tidak masuk kerja karena sakit, maka sang pemimpin perlu mempertimbangkan kebaikan karyawan tersebut dan juga situasi tempat kerja. Penyeimbangan butuh dilakukan segera. Semoga karyawan tersebut segera sembuh, sementara aktivitas tempat kerja terus berlangsung seperti biasa.

Akan tetapi secara umum kebaikan di organisasi tidak perlu dipisah-pisah. Kebaikan individu berpotensi menjadi kebaikan bersama. Sementara kebaikan bersama semoga meliputi semua individu yang ada.

Sehubungan dengan itu, seorang pemimpin diharapkan memiliki pemikiran yang menyeluruh. Perihal ini cukup sulit. Oleh karena itu hendaklah ia membangun koneksi, baik di internal ataupun eksternal dirinya.

Membangun koneksi di internal dirinya berarti membangun kapasitas berpikir multiperspektif. Deduktif-induktif, umum-khusus, kuantitatif-kualitatif, dan spirit-emosi-intelektual merupakan sedikit contohnya. Rumit? Iya. Sehingga sesungguhnya menjadi pemimpin itu memang butuh banyak bekal.

Adapun membangun koneksi eksternal berarti membangun komunikasi dan koordinasi bersama orang-orang di organisasi. Satu sama lain berbincang dan berbagi. Pengetahuan serta kerangka berpikir yang berbeda-beda saling melengkapi. Semoga terbentuk satu pemahaman bersama yang bisa diterima oleh orang-orang di organisasi.

Selalu terbuka kemungkinan ada orang-orang yang tidak menerima bahkan puas dengan pemahaman bersama, padahal sudah melalui banyak proses untuk bisa terbentuk. Dalam hal ini narasi dan edukasi perlu disampaikan, bahkan bagus jika ada antisipasi. Sebelum ada pertanyaan, pernyataan disampaikan terlebih dulu. Sebelum ada sanggahan dan kritikan, jawaban telah disiapkan secara matang.

Dengan persiapan tersebut, semoga pemikiran bersama yang telah terbentuk bisa dipahami oleh orang-orang dalam organisasi. Kebaikan-kebaikannya telah tergambarkan. Berikutnya ada aktivitas yang lebih gesit di organisasi. Penugasan dari pemimpin kepada semua orang di organisasi juga lebih mudah dijalankan. Salah paham atau salah perasaan mampu ditekan seminimalkan mungkin.

Wallah a'lam. 


Fu'ad F

Diberdayakan oleh Blogger.