Memandu Masyarakat Pra-Literasi ke Tahapan Berikutnya
Ada orang-orang yang bisa menikmati ceramah panjang lebar, tak peduli runtutan dan isinya. Asalkan retorika sang penceramah memukau, mereka akan memirsanya hingga rampung. Bagi mereka, sang penceramah itu idola besar.
Dari sang penceramah, mereka merasakan semangat. Entah sebentar atau lama semangat itu menyala dalam diri mereka, tak jadi soal bagi mereka. Pokoknya semangat sempat terasakan.
Walaupun di posisi yang pasif, hanya memirsa, mereka asyik saja. Tak pernah mereka menggugat agar sang penceramah terstruktur dalam menyampaikan ceramah. Tak pernah pula mereka berharap ada catatan yang mendokumentasikan ceramah. Penyampaian verbal sudah cukup.
Setelah ceramah selesai, berwaktu-waktu, tak terlihat mereka bergerak proaktif dan terstruktur. Adanya lontaran dan komentar yang cenderung sporadis. Akhirnya tidak ada yang berubah dalam komunitas mereka.
Tidak ada yang salah dengan suka mendengarkan ceramah panjang lebar, sebagaimana tidak wajib untuk menstrukturisasi isi ceramah. Hanya saja, sekali lagi disampaikan, perubahan sulit ditumbuhkan. Bakat-bakat terbaik berpotensi pergi ke tempat lain yang lebih menantang.
Demikianlah gambaran masyarakat pra-literasi. Semuanya berjalan alamiah. Tidak ada rencana terstruktur yang memandu.
Literasi memang memiliki makna sebagai aktivitas baca-tulis untuk menggapai serta menyampaikan makna. Akan tetapi lebih jauh literasi bermakna sistem. Masyarakat berliterasi berarti masyarakat yang siap mengatur sekaligus diatur dalam sebuah sistem.
Peningkatan derajat masyarakat dari pra-literasi ke literasi butuh kesadaran para pemimpinnya, formal ataupun nonformal. Alternatif lainnya ada seorang tokoh perubahan dari masyarakat. Tentu tergambar beratnya sang tokoh untuk memandu masyarakatnya.
Intervensi dari eksternal masih memungkinkan. Akan tetapi tanpa otoritas, sepertinya intervensi dari pihak eksternal hanya bersifat himbauan. Efektivitasnya relatif kecil.
Otoritas mungkin satu-satunya jawaban. Meskipun demikian otoritas perlu menjalankan dua aktivitas sekaligus: Regulasi dan edukasi. Tanpa keduanya resistensi bisa muncul. Masyarakat tak sekedar stagnan, tapi berpotensi melakukan framing telah disakiti. Ikhtiar yang dilakukan pihak otoritas seakan jadi senjata makan tuan.
Wallah a'lam.

Post a Comment