Rakerwil Muslimat Hidayatullah DIY–Jawa Tengah Bagian Selatan Perkuat Arah Gerak Organisasi
Yogyakarta — Muslimat Hidayatullah (Mushida) DIY–Jawa Tengah Bagian Selatan sukses menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) pada Jumat–Sabtu, 1–2 Mei 2026 bertepatan dengan 13–14 Dzulqaidah 1447 H, bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta. Mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Muslimat Hidayatullah yang Mandiri dan Berpengaruh,” kegiatan ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat arah gerak organisasi, meningkatkan kapasitas kader, serta meneguhkan peran muslimah dalam dakwah dan kemandirian ekonomi.
Klik untuk Informasi Penerimaan Santri Baru Sekolah Hidayatullah Yogyakarta
Rakerwil diikuti oleh total 67 peserta yang terdiri dari Majelis Murabbiyah Wilayah (MMW) sebanyak 5 orang, Pengurus Wilayah (PW) 17 orang, serta 45 peserta dari 13 Pengurus Daerah (PD), yaitu PD Sleman, Kebumen, Surakarta, Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Karanganyar, Sukoharjo, Sragen, Kodya Yogyakarta, Bantul, Purworejo, Temanggung, dan Cilacap.
Penguatan Organisasi dan Transformasi Mindset
Ketua PW Mushida DIY–Jateng Bagian Selatan, Ustadzah Aini Sofia Kartika, S.T., M.S.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa tema Rakerwil kali ini berfokus pada penguatan organisasi dan kemandirian kader melalui transformasi pola pikir.
Ia menekankan bahwa Muslimat Hidayatullah harus bergerak menuju organisasi yang tidak terus bergantung secara finansial kepada induknya, melainkan mampu menciptakan kekuatan ekonomi melalui unit-unit usaha produktif yang dikelola secara profesional.
Menurutnya, kemandirian ekonomi merupakan bagian penting dari profesionalisme dalam menjalankan amanah organisasi. Ia pun memberikan apresiasi kepada sejumlah pengurus daerah yang telah memulai langkah konkret melalui program ekonomi seperti peternakan lele dan ayam sebagai bentuk implementasi nyata kemandirian kader.
Amanat Pengurus Pusat: Sinergi dan Dampak yang Lebih Luas
Dalam sambutannya, Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, dalam hal ini Sekretaris Jenderal PP Muslimat Hidayatullah, Zahratun Nahdah, S.H.I., M.Pd. menegaskan pentingnya konsolidasi jati diri organisasi di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks. PP Mushida juga mendorong seluruh elemen organisasi agar memperkuat sinergi, baik secara internal maupun eksternal, dengan pihak-pihak yang memiliki visi sejalan.
Melalui penguatan kolaborasi tersebut, Mushida diharapkan mampu melahirkan program-program kerja yang lebih berdampak luas bagi umat. Selain itu, para muslimah juga diajak untuk mengambil peran aktif dalam dakwah dan pemberdayaan ekonomi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai perjuangan organisasi.
Membangun Organisasi Berarti Membangun Manusia
Sesi konsolidasi organisasi yang diwakili oleh Sekretaris DPW Hidayatullah, Ustadz Dr. Muhammad Nur Islam, M.Pd.I., menyoroti aspek mendasar dalam membangun organisasi, yakni manusia sebagai inti penggerak.
Ia menegaskan bahwa organisasi pada hakikatnya adalah kumpulan manusia, sehingga keberhasilan organisasi sangat ditentukan oleh kualitas manusia di dalamnya. Infrastruktur dan sistem hanyalah pelengkap, sementara manusia tetap menjadi faktor utama yang menggerakkan sekaligus digerakkan oleh organisasi.
“Semakin kuat pemahaman pimpinan terhadap manusia, maka semakin besar peluang terciptanya dinamika organisasi yang sehat dan berkembang,” ungkapnya.
Dalam pesannya yang menggugah, beliau juga mengingatkan bahwa kelelahan dalam perjuangan adalah hal biasa, namun keberkahan dari perjuangan itulah yang luar biasa.
Kewaspadaan terhadap Ancaman Moral di Era Digital
Pada sesi bertema Kabar Dunia Islam Hari Ini, Ibu Santi Soekanto menyampaikan refleksi mendalam tentang tantangan besar umat Islam saat ini, khususnya ancaman moral dan ideologi yang masuk melalui dunia digital.
Ia menyoroti bahwa serangan terhadap umat Islam tidak hanya datang dalam bentuk fisik atau geopolitik, tetapi juga melalui sistem kehidupan, gaya hidup Barat, pornografi, riba, pinjaman online, judi online, dan berbagai konten merusak yang dapat diakses dengan mudah melalui gadget.
Menurutnya, keluarga muslim harus menjadi benteng utama dalam menjaga generasi dari ancaman tersebut. Ia mengingatkan bahwa banyak keretakan rumah tangga, penyimpangan moral, hingga krisis identitas generasi muda bermula dari lemahnya pengawasan terhadap dunia digital.
Indonesia, menurutnya, sedang berada dalam kondisi darurat pornografi dan dikepung oleh sistem riba yang melemahkan umat dari dalam. Karena itu, peran ibu sebagai penjaga keluarga menjadi sangat strategis dalam menjaga aqidah, moralitas, dan masa depan generasi.
Meneguhkan Peran Muslimah
Rakerwil ini menjadi ajang penting untuk mempertegas arah perjuangan Muslimat Hidayatullah sebagai organisasi perempuan Islam yang tidak hanya fokus pada pembinaan internal, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi kekuatan dakwah, sosial, dan ekonomi yang mandiri.
Dengan semangat konsolidasi jati diri, transformasi organisasi, dan penguatan peran strategis muslimah, Rakerwil Mushida DIY–Jateng Bagian Selatan diharapkan melahirkan langkah-langkah nyata menuju organisasi yang semakin profesional, berdaya, dan berpengaruh bagi umat serta bangsa.
*Report by: Roidatun Nahdhah

Post a Comment