Header Ads

'Rumah' Tempat Berbagi Cerita


Mari bercerita. Ceritakanlah apa saja yang dirasakan atau dialami. Boleh kepada diri sendiri, pun tidak masalah untuk cerita dituturkan kepada orang lain. Lisan atau tertulis, mana saja bebas dipilih.

Mungkin ada perasaan malu, minder, atau sungkan. Karena terasa tidak ada yang istimewa dengan cerita di kepala. Semuanya biasa.

Akan tetapi ini tidak sekedar tentang cerita. Ada sesuatu yang lebih penting ketimbang ceritanya. Apa itu? Tentang mengistimewakan diri sendiri.

Ya, setiap diri itu istimewa. Salah satu tandanya adalah perbedaan karunia. Mungkin seseorang mendapatkan lebih banyak karunia kesehatan. Sementara orang lainnya lebih banyak kekayaannya, atau kecerdasannya.

Oleh karena itu tempatkanlah diri sendiri di posisi istimewa. Lakukan dialog dengan diri sendiri sesering mungkin. Dengar dan responlah. Semoga kelegaan akan terasa. Sekali lagi, boleh lisan dipilih, ataupun tertulis.

Dalam hal bincangan lisan dengan diri sendiri, memang ada anggapan ngomong sendiri itu tanda kegilaan. Akan tetapi, sebagaimana sering dirasakan, begitu banyak suara-suara di kepala saling bersahutan, riuh dan bising. Apabila dipendam, suara-suara itu bisa saja meledak. Akibatnya perilaku tidak terkendali muncul. Ada bahaya di situ.

Benar sekali, mungkin bicara sendiri dapat dilakukan saat benar-benar sepi. Alternatif lainnya adalah tertulis. Tergantung situasi dan kondisi.

Hal yang tidak kalah penting adalah kesadaran bersama untuk saling menopang. Jika memang cerita tidak bisa didengarkan karena kesibukan, maka alternatif lain bisa disediakan. Misalkan ada kamar atau ruang pribadi, mungkin juga waktu menyendiri. Di sana segala cerita bisa dituturkan secara aman serta nyaman.

Berikutnya apabila cerita butuh dirahasiakan, tentu jaga rahasia jadi pilihan terbaik. Hormatilah privasi orang lain. Semoga Allah ta'ala akan menghadiahkan privasi yang luas sebagai balasannya.

Pada intinya, sebagaimana tadi telah dijelaskan, mari berusaha menempatkan setiap insan di posisi yang istimewa. Khususnya diri sendiri. Bukan karena apa, tapi karena setiap insan itu ciptaan Allah ta'ala.

Apabila mengistimewakan sulit dilakukan, minimal menghargai. Tidak ada ejekan, apalagi merendahkan. Saat tenang atau diliput kemarahan, sama saja, tidak ada kata-kata buruk.


'Rumah' Tempat Berbagi Cerita 

Bukan hanya sebuah bangunan yang dimaksud dengan rumah. Akan tetapi pasangan dan keluarga yang mau mendengarkan cerita, itu juga rumah. Ada juga ruang untuk mengekspresikan rasa apapun yang bergumul di dalam diri. 

Sehubungan dengan itu, dianjurkan untuk dibangun kesepakatan seputar ruang ekspresi. Apabila marah, sejauh mana ekspresinya ditoleransi. Mungkin menceritakan kemarahan dan meminta ruang sendiri jadi kesepakatannya. Lalu teriakan-teriakan kecil dibolehkan.

Begitu juga dengan rasa lain, seperti sedih atau gembira. Ada batasan yang disepakati dan terus diedukasi. Semoga saling nyaman tercipta.

Mungkin demikian gambaran rumah yang dimaksud oleh Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam. Beliau bersabda, "Jagalah lisanmu, jadikanlah rumahmu terasa lapang untukmu, dan menangislah atas dosa-dosamu." (Terjemah hadits riwayat Tirmidzi) 

Dengan menjaga lisan dan respon, semoga rumah benar-benar tercipta.

Wallah a'lam.

Diberdayakan oleh Blogger.