Bagaimana Tokoh Besar dengan Efektif Menyiapkan Calon Pemimpin Berikutnya?
Salah satu informasi yang tersiarkan seiring konflik Iran versus Amerika dan Zionis Israel adalah aktivitas Mahmud Ahmadinejad. Sebagaimana diketahui, sosoknya tenggelam seiring jabatannya sebagai presiden Iran rampung pada tahun 2013. Nah, diketahui bahwa kini ia menjalani kembali aktivitas mengajar di sekolah.
Sebenarnya kabar Ahmadinejad kembali mengajar sudah pernah diberitakan pada tahun 2013. Akan tetapi publik seakan tidak peduli. Kini di saat Iran disorot dari berbagai belahan penjuru dunia, kabar Ahmadinejad memberi sensasi tersendiri.
Ada kesan kesederhanaan. Begitu juga tertangkap kesan kecintaan kepada ilmu. Akan tetapi kesan berikut mungkin paling penting untuk digarisbawahi: Kecintaan untuk mengantarkan generasi muda menjadi pemimpin masa depan.
Dengan mengajar kembali setelah rampung di dunia pemerintahan dan politik, Ahmadinejad punya peluang untuk efektif melakukan bimbingan kepada generasi muda agar lebih bersiap menjadi pemimpin masa depan. Bimbingan yang diberikannya tidak sekedar basis teori, tapi juga praktik.
Delapan tahun sebagai kepala pemerintahan bukan masa pendek. Bakal banyak pengalaman yang bisa dibagikan kepada generasi muda. Alhasil bisa ditebak, kaderisasi kepemimpinan Iran memiliki potensi umur yang sangat panjang.
Berkaca pada fenomena tersebut, hendaklah sebuah framework dibentuk. Bahwa seorang pengajar sangat mungkin menjadi praktisi di kepemimpinan lembaga, negara atau swasta. Kemudian saat periodisasinya sebagai pimpinan lembaga selesai, ia kembali mengajar. Tentu ia tidak sekedar mengajar, tetapi memiliki misi untuk mengantarkan generasi muda menjadi pemimpin masa depan.
Di sisi lain perlu kiranya dibuka peluang agar pimpinan lembaga, negara ataupun swasta, dapat menjadi pengajar saat tugasnya di kepemimpinan lembaga rampung. Semoga ia bisa menyampaikan teori dan pengalamannya kepada generasi muda. Sehingga wawasan sekaligus langkah praktis menjadi pemimpin masa depan mampu dipahami secara gamblang oleh generasi muda.
Potensi persoalan yang muncul adalah kultur dan sistem. Secara kultur, di sebagian negara berkembang, pengajar itu profesi yang kurang prestise. Sementara pimpinan lembaga merupakan impian banyak orang. Dengan demikian tidak mudah bagi mantan pimpinan lembaga untuk menjadi pengajar setelah rampung tugas di lembaga yang dipimpinnya. Apalagi jika orang-orang di sekitar ikut mem-bully.
Adapun secara sistem, tidak semua negara memberikan perimbangan imbalan antara pengajar dengan pimpinan lembaga. Bisa ditebak mana yang lebih tinggi imbalannya. Sehingga memang peluang untuk adaptasi fenomena Ahmadinejad tidak terlalu besar.
Peluang Lembaga Swasta
Jika adaptasi fenomena Mahmud Ahamdinejad di tingkat negara tidak memungkinkan, semoga masih terbuka peluang untuk adaptasi dilangsungkan di tingkat lembaga swasta. Ada rancangan kelembagaan yang menetapkan kepengajaran sebagai karir tertinggi. Alternatif lainnya, karir tertinggi kepengajaran berada hanya satu level lebih rendah ketimbang kepemimpinan tertinggi lembaga.
Dengan demikian setiap personel diharapkan bersiap menjadi pengajar. Lembaga juga menyiapkan berbagai jenjang pelatihan. Tidak kalah penting imbalan pengajar bersifat kompetitif dengan pemimpin lembaga.
Satu disclaimer, pengajar yang dimaksudkan bersifat luas: Kelas, asrama, ataupun praktik lapangan.
Semoga dengan rancangan kelembagaan sedemikian rupa, kaderisasi pemimpin terus tumbuh. Daya adaptasi tinggi dimiliki oleh generasi muda. Tantangan dunia dijawab dengan kesiapan yang elegan.
Wallah a'lam.
Fu'ad F


Post a Comment