Menjembatani Alumnus Perguruan Tinggi untuk Berkontribusi di Masyarakat
Di sebuah banner ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri, wajah dan nama sang pejabat terpampang. Tidak tertinggal gelar akademiknya. Tidak tanggung-tanggung, gelarnya doktor, gelar tertinggi di dunia persekolahan tingkat perguruan tinggi.
Ada rasa senang di hati saat mata melihat banner tersebut. Akan tetapi tidak lama terbersit pertanyaan-pertanyaan, “Dimanakah beliau berkuliah? Seberapa tinggi capaian akademiknya? Seberapa luas jangkauan outcome-nya?”
Mungkin
pertanyaan-pertanyaan tersebut terlampau kritis, bahkan terkesan tidak sopan,
seakan mempertanyakan kebenaran atas proses perjalanan akademik yang telah
dilalui sang pejabat. Akan tetapi setelah telaah lebih lanjut, terasakan wajar.
Bahwa siapapun yang mencantumkan gelar akademiknya sebagai output perguruan
tinggi akan dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan serupa.
Output
perguruan tinggi itu perlu diapresiasi. Di sisi lain output tidak boleh menjadi
titik henti terhadap belajar dan kontribusi. Hal ini dikarenakan tantangan yang
lebih nyata terbentang di masyarakat.
Ilmu yang
telah diperoleh di bangku perkuliahan perlu disesuaikan dengan situasi di
masyarakat. Dalam hal ini, ilmu dimungkinkan mengalami banyak penyesuaian. Demikian
juga kontribusi, awalnya tertulis sebagai makalah kemudian mengalami
penyesuaian menjadi perencanaan aksi yang relevan dengan situasi di masyarakat.
Dengan terus
belajar dan berkontribusi di masyarakat, seorang alumnus perguruan tinggi berkemungkinan
untuk memperdalam keilmuannya. Mungkin sekilas tidak nampak linearitas ilmu
dengan aktivitas hariannya, tetapi sebenarnya koneksi tetap tercipta. Karena ilmu
tidak hanya berkaitan konten tapi juga kerangka pikir. Nah, kerangka pikir inilah
yang kerapkali terus hidup saat seseorang telah meninggalkan bangku perkuliahan,
bahkan bangku sekolah tingkat bawahnya.
Dari uraian
tersebut, muncul dua sisi sekaligus. Pertama, perkuliahan hendaklah ditempuh
oleh siapapun yang berkesempatan. Karena ini akan jadi modal besar dalam
kehidupan bermasyarakat nantinya. Kedua, masyarakat sekitar perlu menerima
alumnus dengan terbuka, agar bertahap sang alumnus bisa berinteraksi serta
berkontribusi di masyarakat.
Khusus poin
kedua, masyarakat perlu menyadari bahwa seorang alumnus perguruan tinggi memerlukan
waktu untuk berakulturasi pasca lulus. Bagaimanapun ada kesenjangan antara dunia
perkuliahan dengan masyarakat. Sangat baik jika masyarakat melakukan pendampingan
yang seksama agar akulturasi berjalan baik. Sehingga sang alumnus punya
gambaran relatif utuh tentang masyarakat. Berikutnya solusi-solusi pengembangan
masyarakat dapat dilahirkan olehnya.
Dengan demikian
output perguruan tinggi tidak akan lagi dipertanyakan, entah itu efektivitasnya
apalagi kebenaran prosesnya. Karena outcome-nya benar-benar terlihat. Keseimbangan
output dan outcome benar-benar terjadi. Sinergi dunia perkuliahan, bahkan
persekolahan tingkat bawahnya, dengan masyarakat terjalin kuat. Keduanya sama-sama
memberikan manfaat yang luas.
Wallah a’lam.
Fu'ad F

Post a Comment