Header Ads

Mempertahankan Kewarasan Diri dan Komunitas di Derasnya Arus Kompetisi Eksistensi Diri


Bagi sebagian orang, ada satu perasaan yang begitu menakutkan. Membayangkannya sudah menimbulkan rasa sakit, apalagi jika itu benar-benar terjadi. Sakitnya mungkin tidak akan tertanggungkan. Akan butuh waktu lama untuk sembuh. Setahun dua tahun tidaklah cukup.

Rasa itu adalah diabaikan, dilupakan, dianggap tidak ada, atau tidak pernah ada lagi.

Oleh karena itu sebagian orang melakukan banyak hal agar dirinya dianggap tetap ada. Mengembangkan diri dan mencoba gaya baru merupakan dua perilaku yang sering dilakukan seseorang untuk menjaga eksistensi. Apabila otoritas kepemimpinan sedang di tangannya, satu perilaku yang juga sering terlihat adalah mengendalikan peningkatan kualitas para pengikut. Tujuannya jelas, agar para pengikut tidak segera tumbuh dan menjadi rival baru dalam eksistensi.

Egois? Mungkin.

Akan tetapi ada perspektif yang mungkin perlu dipahami, sebutlah ‘pertarungan eksistensi’. Setiap pihak ingin eksis. Sehingga setiap pihak saling berlomba untuk eksis, walaupun menjatuhkan pihak lain. Menjaga eksistensi diri sekedar ikhtiar pertahanan diri agar tidak dijatuhkan oleh rival.

Sungguh, ongkos yang dibayarkan kerapkali sangat mahal terutama ongkos emosional. Kewaspadaan, misalkan, akhirnya menjadi situasi batin yang mendominasi. Kapanpun dan dimanapun lirik-melirik dilakukan. Konflik demi konflik meletup, walaupun berupa gelembung, timbul dan pecah.

Dalam hal ini kiranya pemeriksaan motivasi diri perlu dilakukan secara mandiri, apakah penjagaan eksistensi diri lebih dikarenakan pertahanan diri. Agar diri tidak terbawa pihak lain, biasa saja saling mengalahkan. Agar sesosok buas tidak terus tumbuh dalam diri.

Sebagai pemeriksaan tersebut, pertanyaan-pertanyaan kritis bisa diajukan kepada diri sendiri. Beberapa model pertanyaan menjadi pilihan, sebutlah 7 whys. Model pertanyaan ini mengantarkan seseorang untuk menjawab pertanyaan dalam 7 tingkatan. Apabila tingkatan tertinggi berhasil dilalui, maka hampir dapat dipastikan ada motivasi baik dalam dirinya. Sebaliknya jika seseorang tidak berhasil sampai ke 7 tingkatan, maka hampir bisa dipastikan ego lebih mendominasi.

Di sisi lain kiranya kewarasan perlu dipertahankan oleh orang-orang yang tidak berkeinginan untuk berlomba eksis. Jangan sampai mereka terseret arus kompetisi atas nama eksistensi. Bagaimanapun mereka merupakan penyeimbang bagi komunitas. Keberadaan mereka diperlukan untuk memberikan sudut pandang yang lebih jernih.

Dua hal bisa dilakukan. Pertama, mereka terus menguatkan kesadaran spiritual bahwa eksistensi diri tidak penting. Berkemampuan untuk munajat kepada Allah ta’ala, berkecukupan dalam hidup, dan bertumbuh seiring waktu, inilah hal-hal yang penting. Kedua, mereka mengajak orang lain untuk sama-sama menjaga kewarasan. Mungkin tidak banyak orang yang mau diajak menjaga kewarasan, tapi tidak masalah. Ikhtiar dikuatkan saja.

Inilah dunia. Sesuatu bernama eksistensi diri ikut mewarnai, bahkan mendominasi sebagian insan. Akhirnya ia dikejar. Sebagian orang sadar sebelum terlambat. Akan tetapi sebagian lainnya terjebak dalam kerumitan seibarat jala yang mengelilingi tubuh. Jangankan bergerak, bernafas saja sulit. Sementara kehidupan dunia diciptakan bukan untuk itu.

Wallah a’lam.

 



Diberdayakan oleh Blogger.