Header Ads

Mengubah Lelah Jadi Indah, Kompetisi Lillah Berharga Tak Terkira


Salah satu sifat umum kehidupan insan di dunia ini adalah kompetisi. Satu sama lain ingin jadi yang terbaik. Jika tidak nomor satu, bolehlah dua, tiga, dan seterusnya.

Kemudian lahirlah berbagai strategi. Sebagian strategi itu halal dan sehat. Sebagian lainnya syubhat. Sementara sisanya haram. 

Lebih jauh kelelahan mulai merayapi tubuh dan mental. Anehnya kelelahan itu tidak diketahui asal muasalnya. Anehnya lagi kelelahan itu membuat sulit rehat. Jangankan tidur, menyandarkan punggung saja hampir-hampir tidak bisa. Entah bagaimana tapi terasa bersalah jika badan ini direhatkan sambil menutup mata. 

Apa yang diinginkan hanya bergerak, bergerak, dan bergerak. Sesuatu harus digapai untuk mengantarkan sang pemilik pada posisi puncak. Tubuh yang lelah dan mental yang terkuras tidak lagi dipedulikan. Kekhawatiran dikalahkan lebih besar ketimbang welas asih kepada diri sendiri.

Oleh karena itu hendaklah seseorang menjadi insan khusus. Kompetisinya juga khusus. Lelahnya juga tidak sembarang lelah, tapi lelah yang lillah. Lelah model ini membuat tidur lebih nyenyak dan dada lebih lapang.

Mari mengurai kompetisi sang insan khusus.

Rivalnya bukan orang lain, tapi diri sendiri. Diri sendiri yang lama harus dikalahkan oleh diri sendiri versi baru. Maksudnya perbaikan demi perbaikan dilakukan, agar ada peningkatan kualitas diri. 

Strategi utamanya adalah munajat dan berbuat baik kepada orang lain, sekuatnya. Jika tidak kuat, maka tidak ada paksaan. Memaksakan diri justru bahaya, ditakutkan ada kezhaliman di sana.

Aktivitas utamanya adalah membersihkan hati dari berbagai penyakit. Sehingga hidup nyaman. Apapun direspon dengan positif, dari hal biasa hingga luar biasa, dari ruwetnya jalanan pagi hingga capaian duniawi tetangga.

Orientasinya bukan validasi manusia, tapi Allah ta'ala. Sehingga tak dikenal itu bukanlah masalah. Asalkan kedekatan dengan-Nya terjaga, cukup sudah. 

Rehatnya adalah belajar. Membaca buku, bertemu orang baru, mendengarkan petuah sesepuh, diskusi dengan teman sebaya, dan menyapa orang yang lebih muda dilakukannya. Ia yakin bahwa ilmu Allah ta'ala beraneka ragam. Cara memperolehnya juga bermacam-macam.


Insan khusus mengerti bahwa dunia terlalu luas untuk diisi hanya dengan kompetisi biasa. Apalagi ada hati berpenyakit di situ. Jauh lebih nyaman untuk dunia dihidupi dengan sepenuh kesadaran menuju-Nya, bersama orang-orang yang cinta kepada-Nya, dengan cara yang telah ditentukan-Nya.

Wallah a'lam.

Diberdayakan oleh Blogger.