Aktif dan Maksimal Menyiapkan Diri untuk Menyambut Ganjaran atas Rasa Syukur
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Akan tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya siksa-Ku benar-benar sangat keras.” (Terjemah Q.S. Ibrahim: 7)
Ayat tersebut masyhur. Hampir semua muslim mengetahuinya, juga menjalankannya. Hanya saja mungkin ada hal yang terlewat, yakni perlunya seorang muslim menyiapkan diri untuk menyambut ganjaran syukur.
Ilustrasinya sederhana. Misalkan seseorang telah bersyukur atas harta yang sudah ada. Lalu ia berdoa agar hartanya ditambah. Pertanyaannya sudahkah ia memiliki ilmu dan kebiasaan sebagai orang super kaya, minimal lebih kaya ketimbang sebelumnya.
Salah satu ilmu dan kebiasaan penting orang super kaya adalah zakat mal dan infak. Perlu keduanya dipelajari serta dilatih. Agar ketika harta datang berlimpah, zakat mal dan infak sudah biasa dilakukan. Harta terus diguyur berkah.
Sebaliknya apabila zakat mal dan infak diabaikan dengan alasan belum kaya, maka mungkin ada baiknya harta belum bertambah. Karena ketika harta melimpah tapi kewajibannya tidak ditunaikan, harta berkemungkinan jadi musibah. Pemiliknya berpotensi mendapatkan siksa.
Dalam hal ini, apabila harta belum bertambah padahal syukur sudah dipanjatkan dengan khusyu', maka pemeriksaan diri perlu dilakukan: Sudahkah ilmu dan kebiasaan orang kaya dimiliki?
Jika sudah, maka mungkin keikhlasan dan kesabaran perlu ditingkatkan. Demikian juga dengan munajat. Satu lagi, pastikan harta syubhat dikurangi, apalagi yang haram.
Jika belum, maka mungkin perihal penguasaan zakat mal dan infak perlu diikhtiarkan segera. Semoga dalam waktu sebentar, harta bertambah. Bukan hanya jumlahnya tapi juga berkahnya.
Lebih jauh kiranya perlu hati dibuka. Karena ada kemungkinan lain tentang takdir masa depan, yakni karunia jatuh pada sisi selain harta. Mungkin tidak ada pertambahan signifikan harta, tapi sisi lain terasa lebih nikmat, contohnya kesehatan. Dirinya dan orang-orang yang dicintainya semakin sehat. Sehingga uang bisa dihemat.
Ketika hati terbuka, semoga ridha tumbuh. Dengan tumbuhnya ridha dalam diri hamba, semoga keridhaan Allah ta'ala turun kepada sang hamba. Akhirnya hidup terasa begitu tenang.
Ada satu lagi skenario takdir yang mungkin menimpa: Musibah.
Seseorang sudah bersyukur dengan baik, tapi ia malah mendapat musibah. Ini berat sekali. Akan tetapi, sekali lagi, semoga ada ridha pada diri hamba.
Hal ini dikarenakan bisa jadi Allah ta'ala begitu cinta kepada sang hamba. Sebagaimana hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah, "Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka."
Allah ta'ala ingin sang hamba semakin dekat kepada-Nya. Munajat semakin meningkat. Khusyu semakin menguat. Ikhtiar semakin hebat. Semoga dalam waktu dekat, jalan keluar diberikan oleh-Nya.
Mungkin jalan keluarnya lewat jalur yang memang diupayakan sang hamba. Bisa juga jalan keluarnya lewat jalur yang tidak disangka. Husnuzhan, baik sangka, perlu terus ditumbuhkan.
Pada akhirnya, sebagai kesimpulan, syukur ternyata memiliki satu sisi yang kompleks. Memahaminya semoga jadi sarana untuk terus tenang menghadapi berbagai kemungkinan. Allah ta'ala tetap jadi harapan.
Wallah a'lam.

Post a Comment