Mengenali Pola Pikir 'Tua' dan 'Muda' agar Kemajuan dan Kondusivitas Tetap Terjaga
Sering terdengar kejadian kaum muda berseberangan dengan kaum tua. Kaum muda menganggap kaum tua itu status quo. Sedangkan kaum tua menganggap kaum muda tidak beradab.
Kejadiannya bisa di mana saja, kota atau desa, komunitas formal atau informal. Di mana ada anak muda dan senior/sesepuh, di sana ada potensi saling berhadapan. Isunya mungkin sangat sederhana tapi tidak tertutup kemungkinan isunya kompleks.
Di sisi lain, jika diamati lebih dekat, sebenarnya head to head tidak hanya terjadi antara kalangan muda dengan tua. Ada juga head to head di antara kalangan tua. Bagaimana antarkawula muda? Sama saja, head to head tidak jarang terlihat.
Oleh karena itu sepatutnya dilakukan telaah, sebenarnya siapa versus siapa. Karena kompleksitas di kehidupan nyata tidak sesederhana muda versus tua. Mari melakukan sedikit analisis.
Istilah 'tua' mungkin bermakna tua secara literal. Akan tetapi bisa jadi 'tua' merupakan representasi dari seperangkat cara berpikir yang mengarah pada status quo. Sementara cara berpikir status quo tidak hanya menimpa orang berusia tua, ditemukan juga orang berusia muda dengan cara berpikir yang mirip.
Di saat bersamaan ada orang berusia senior, katakanlah 50-an tahun, tapi cara berpikirnya terbuka. Pergaulan mereka sedemikian luas. Diskusi terjadi di mana saja mereka berada, atmosfernya santai dan akrab. Saling peduli dan mendengar terasakan sekali.
Para senior model seperti ini mudah menerima dan diterima anak-anak muda, katakanlah berusia 20-30 tahun. Obrolan interaktif. Aspirasi dan inspirasi lalu lalang di sela-selanya.
Sebuah hipotesis kemudian diajukan, mungkinkah yang sebenarnya terjadi adalah pola berpikir terbuka versus status quo?
Pola berpikir terbuka mengajak komunitas untuk menerima input dari mana saja, internal ataupun eksternal. Apabila input itu teruji dan dinyatakan baik, input itu lalu diaplikasi. Sebaliknya apabila input itu dinyatakan buruk, input itu dibuang.
Adapun pola berpikir status quo mengajak komunitas untuk menolak input baru, agar kondusivitas terjaga. Jika input itu harus masuk ke komunitas, saringannya berlapis. Sehingga sangat sulit suatu input berakhir dengan aplikasi.
Terbayang situasi pertemuan orang-orang dengan dua pola pikir ini. Debat sulit dihindarkan. Kesimpulan, apalagi kesepakatan, tidak mudah tercapai. Benturan terasa.
Apalagi jika prejudice alias suuzhan terlanjur merasuk ke benak kedua pihak, benturan semakin terasa. Oleh karena itu meminimalisir prejudice sangat diperlukan sebagai langkah awal kompromi, bahwa tiap pihak sebenarnya menginginkan kebaikan. Pihak berpola pikir terbuka ingin kemajuan segera terjadi melalui aplikasi hal-hal baru. Sedangkan pihak status quo ingin nilai-nilai berharga milik komunitas terpelihara.
Berikutnya kedua pihak menentukan titik sepakat awal. Dari titik ini diskusi, bukan debat, berkembang. Perlahan tidak apa-apa. Yang penting diskusi berjalan terus dan menggapai satu demi satu kesepakatan baru.
Semoga dengan kesabaran semua pihak, banyak kesepakatan tercapai. Berikutnya kesepakatan-kesepakatan itu dijalankan. Kebersamaan dan perkembangan komunitas berjalan seiring.
Wallah a'lam.
Fu'ad F

Post a Comment