Header Ads

Meningkatkan Kegesitan Organisasi melalui Sinergi Internal Yang Terstrukstur


Valsiner dalam artikelnya Leadership: A Useful Action, sebagaimana dimuat dalam buku Culture and Leadership, menyampaikan satu klasifikasi pekerja: Knowledge worker.

'Knowledge worker' dapat diartikan sebagai pekerja dengan keterampilan halus (soft skill). Sementara keterampilan halus yang dimaksudkan memiliki kaitan dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi semisal berpikir strategik. Secara hierarkis di organisasi, knowledge worker tidak mesti berada di level pimpinan tertinggi. Mereka bisa berada di posisi menengah.

Satu pernyataan menarik dari Valsiner adalah pengukuran kinerja knowledge worker. Mereka tidak bisa diukur dari pencapaian target kinerja saja, output dan outcome. Lebih jauh mereka harus diukur dengan banyaknya sinergi internal organisasi yang dilakukan.

Hal ini dikarenakan sinergi diyakini sebagai ikhtiar kompleks yang berdampak besar, baik di internal ataupun eksternal organisasi. Di internal, selain saling kenal dan paham antarpersonal, pertukaran pengetahuan terjadi. Ini berpotensi membuat suborganisasi bergerak dengan spektrum berpikir yang luas. Potensi kesalahan akibat minim koordinasi tidak terjadi. Selain itu semangat organisasi lahir. Ego sektoral menipis.

Satu keuntungan internal organisasi yang tidak kalah penting adalah: Dinamisasi mutasi. 

Dengan dinamisasi mutasi, mobilitas staf organisasi relatif lebih mudah. Karena staf sudah memiliki sedikit gambaran tentang tempat tugas lain. Adaptasi diharapkan lebih mudah.

Sementara secara eksternal organisasi, sinergi yang dilakukan knowledge worker membuka peluang kerjasama multibidang yang lebih besar. Sehingga jalinan eksternal sangat efektif. Dampak positifnya dirasakan kedua pihak, organisasi dan mitra.

Pentingnya sinergi sebenarnya telah disampaikan Covey sejak tahun 1990-an. Lewat bukunya 7 Habits of Highly Effective People, Covey menyampaikan bahwa sinergi merupakan habit level keenam. Habit ini akan mudah diperoleh dan diaplikasikan setelah seseorang mempelajari lima habit sebelumnya. 

Oleh karena itu suatu organisasi perlu desain sistemik untuk menumbuhsuburkan sinergi. Pelatihan soft skill terstruktur dan berkelanjutan salah satu jawabannya. Lebih lengkap jika coaching/mentoring dijalankan sebagai pendamping terhadap pelatihan.

Framework lain yang bisa dipertimbangkan organisasi dalam menumbuhsuburkan sinergi adalah framework dari Kasali. Sebagaimana dalam buku Recode Your Change DNA, Kasali menyampaikan bahwa lima hal dibutuhkan organisasi untuk menumbuhsuburkan ekosistem baik di internal dirinya: Visi, rencana aksi, keterampilan, insentif, dan sumber daya.

Kasali melanjutkan, kelima hal tersebut saling terkait. Kelimanya harus hadir jika perubahan positif diharapkan oleh organisasi. Dengan demikian ikhtiar seksama organisasi sangat penting. 

Dengan kompleksitas dan disrupsi yang terjadi secara luas, ada baiknya organisasi berpikir ulang tentang bagaimana internal dirinya bekerja. Apakah proses kerja yang dijalankan selama ini memadai merupakan satu pertanyaan penting untuk dijawab. Jika sudah, sagat baik apabila upgrading organisasi dilakukan. Agar organisasi semakin gesit. Semoga sinergi jadi salah satu solusinya.

Wallah a'lam.


Fu'ad Fahrudin, sekretaris DPW Hidayatullah DIY - Jateng Bagian Selatan 2020-2025 
Diberdayakan oleh Blogger.