Header Ads

Sebelum Daun Habis Dilumat Ulat: Mengenali dan Mencegah Kezhaliman Diri agar Kehidupan Terjaga dari Kehancuran


Selain pertolongan Allah ta'ala dengan kehendak-Nya, ada satu pelajaran penting lain dari gagalnya pasukan gajah menyerang Ka'bah, yakni habisnya seluruh kekuatan pasukan. Al-Qur'an surat Al-Fil ayat terakhir menggambarkan, "Seperti daun (kering) yang dilumat (habis oleh ulat)."

Tidak tersisa itu pasukan, benar-benar kalah. Demikianlah yang kemungkinan terjadi kepada siapa saja yang melawan Allah ta'ala. Dirinya dan kelompoknya dihancurkan sehancur-hancurnya.

Diproyeksikan di era modern, perlu kiranya direnungkan apa yang umum terjadi di permukaan bumi. Begitu banyak masalah, sebagian besar lahir dari kezhaliman manusia, kepada dirinya sendiri ataupun orang lain. Karena sudah terlanjur banyak terjadi, hampir-hampir manusia kehilangan kepekaan tentang kezhaliman. Apabila ada kezhaliman, dianggap biasa saja.

Salah satunya kezhaliman kepada diri sendiri. Dianggap biasa dan tidak merugikan orang lain, kezhaliman jenis ini begitu mudah menjangkiti manusia. Perilaku semisal syirik, mendekati zina, dan zinanya sendiri dianggap urusan privat.

Padahal Islam mengajak umatnya untuk saling peduli, saling mengajak pada kebaikan dan melarang pada keburukan. Agar kezhaliman itu tidak menyebar. Kualitas kehidupan individu-individu senantiasa baik, membentuk sebuah komunitas yang kokoh lahir-batin.

Di sinilah seharunya manusia sadar. Bahwa kebaikan dalam hidupnya perlu utuh. Agar barakah Allah ta'ala senantiasa turun kepadanya.

Dengan barakah itu, apapun yang menimpanya senantiasa disikapi sesuai tuntunan Allah ta'ala. Dampaknya karunia-Nya berpotensi besar untuk turun. Bentuknya berbagai macam.

Sebaliknya jika manusia terus mabuk dalam kezhaliman, perlahan bisa jadi siksa Allah ta'ala menimpanya. Bisa jadi siksa berat dari-Nya langsung turun. Saat itu semoga pintu taubat masih terbuka.

Apabila pintu taubat sudah tertutup, malanglah diri. Situasinya seperti daun kering yang dilumat oleh ulat: Habis tak tersisa.

Kesehatan drop. Uang habis. Keluarga menjauh. Teman-teman memutuskan hubungan. Karir anjlok. Yang paling ngeri, hubungan dengan Allah ta'ala terasa sangat jauh.

Sebelum semuanya terlambat, semoga senantiasa diri ingat kasih sayang Allah ta'ala yang senantiasa memanggil untuk kembali kepada rengkuhan-Nya. Sebanyak apapun dosa, selagi pintu taubat masih terbuka, ampunan-Nya masih mungkin diraih. Semoga putus asa tidak ada di hati.

Semoga pula ada dukungan dari orang-orang sekitar agar jalan kebaikan dapat ditapaki kembali. Karena jalan itu selalu tersedia bagi siapapun yang memang ingin menuju-Nya. 

Wallah a'lam.
Diberdayakan oleh Blogger.