Header Ads

Landasan Kekuatan Tim

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kalian, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantara kalian, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (Terjemah Q.S. Al-Anfal: 65)

Ayat tersebut, menurut sejumlah mufassir, merupakan narasi. Akan tetapi sebagiannya berpendapat bahwa ayat tersebut merupakan instruksi. Seorang prajurit muslim perlu berkapasitas tinggi sehingga bisa mengalahkan sepuluh orang musuhnya, minimal dua orang musuh.


Hal ini dikarenakan posisi musuh sebenarnya lemah. Salah satu sumber kelemahannya, sebagaimana disebutkan di akhir ayat tersebut, adalah ketidakpahaman musuh. Mayoritas mufassir menjelaskan bahwa musuh, yakni orang kafir, tidak memahami orientasi ukhrawi dalam peperangan. Sebaliknya kaum muslimin memiliki orientasi ukhrawi yang kuat, dibuktikan dengan harapan syahid fi sabilillah.

Sebuah pelajaran dapat diambil bahwa orientasi atau visi ternyata memiliki kekuatan tersendiri dalam membangun kekuatan tim. Semakin kuat visi, potensi terbentuknya tim yang kuat semakin besar. Sebaliknya semakin lemah visi, terbentuknya tim yang kuat hanya seibarat mimpi di siang bolong.

Senada dengan pelajaran tersebut, dalam buku Recode Your Change DNA, Prof. Rhenald Kasali, menuliskan lima komponen peningkatan kapasitas tim: Visi, rencana aksi, sumber daya, keterampilan, dan insentif.

Visi yang kuat perlu diterjemahkan ke dalam rencana aksi. Agar visi dipahami dengan lengkap oleh tim. Sehingga tim yakin dengan visi sang pemimpin sekaligus memiliki arah gerak yang sama. Semisal sinar yang difokuskan oleh kaca pembesar, kekuatan/kapasitasnya berlipat ganda.

Visi dan rencana aksi lebih lengkap dengan kejelasan sumber daya. Dapat diilustrasikan sebagai berikut. Arah tujuannya ke kota A. Tim harus menggunakan mobil. Sementara mobil saat ini ada di garasi. Tim tinggal ke garasi lalu berangkat ke kota A.

Tanpa sumber daya yang jelas, tim akan kesulitan beraktivitas sesuai rencana aksi. Akhirnya rencana aksi terbengkalai. Visi tidak dapat diraih.

Tugas pemimpin menyediakan sumber daya. Investasi awal mungkin diperlukan. Sifatnya bisa dana, benda, ataupun fasilitas sumber belajar. Sedangkan fasilitas sumber belajar beragam, dari perpustakaan digital hingga berbagi antarrekan.  

Keterampilan merupakan komponen keempat dalam peningkatan kapasitas tim. Setiap orang dalam tim perlu dipastikan memiliki keterampilan yang telah distandardisasi. Apabila belum, maka anggota tim harus mengejar ketertinggalan.

Lagi-lagi tugas pemimpin untuk merancang sistem belajar dalam tim. Dimulai dari pemetaan awal dan diakhiri dengan asesmen, sistem belajar diharapkan memiliki kejelasan terutama terkait target serta timeline. Dengan demikian tim juga dapat berkontribusi untuk menilai efektivitas sistem belajar.

Komponen terakhir adalah insentif. Tim berhak mendapatkan imbalan atas aktivitasnya. Keadilan menjadi asas dalam pembagian imbalan. Agar kecemburuan tidak hadir di tengah-tengah tim.

Memiliki tim yang berkapasitas tinggi dan solid itu harapan seorang pemimpin. Di sisi lain awalannya dari sang pemimpin sendiri: Sudahkah kuat visi yang dibangun? Dan sudahkah visinya diuraikan secara detail dan sistematis kepada tim?

Wallah a’lam.


Fu'ad F

Diberdayakan oleh Blogger.