Header Ads

Potensi Penguatan Solidaritas Antarkader dan Pembelajaran Filosofis dari Krisis Global Mutakhir

Hari-hari ini hampir semua mata tertuju ke kawasan Timur Tengah. Pantauan kuat dilakukan. Selain mengamati setiap kejadian yang berlangsung, satu tujuan terbersit, yakni antisipasi atas dampak yang mungkin meluas.



Dampak yang paling berpotensi terjadi adalah langkanya bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Bahkan tersiar kabar di awal bulan ini bahwa cadangan BBM nasional hanya mampu menyuplai sekitar 20 hari. Memang, merujuk pada pemberitaan yang otoritatif, kabar ini tidak mengarah pada krisis tapi tetap perasaan ngeri sulit dihindarkan.

Di sisi lain ada berita beberapa hari lalu, kapal bahan bakar Pertamina boleh melewati selat Hormuz. Ini tentu memberi sedikit kelegaan. Paling tidak, cadangan BBM dalam negeri masih aman.

Sudah dapat dibayangkan jika cadangan BBM semakin menipis, maka pasokannya ke masyarakat akan semakin sedikit. Dengan kebutuhan yang tetap tinggi, harga BBM bisa melejit. Inflasi berpotensi naik ugal-ugalan.

Dalam hal ini, kesiapan ekonomi menjadi sangat penting. Minimal setiap keluarga perlu memastikan cadangan keuangannya cukup kuat menghadapi inflasi. Apabila diperlukan, pengaturan belanja keluarga dapat diatur kembali prioritasnya. 

Di level organisasi, perlu kiranya kesiapan yang bersifat ta'awun, baik organisasi dengan kadernya atau antarkader. Hal ini dikarenakan krisis energi dan ekonomi mungkin sangat berat jika dihadapi sendiri-sendiri, mengingat kapasitas keuangan individual kader yang bervariasi. Sebagiannya berada di ekonomi kelas atas, sebagiannya sedang dan lebih bawah lagi.

Organisasi tingkat wilayah atau daerah perlu mengumpulkan kader untuk membincangkan format ta'awun ekonomi yang paling relevan. Apalagi jika sudah ada lembaga keuangan ta'awun sebelumnya. Agar arus keuangan tidak mengalami kekeringan, baik di organisasi, amal usaha, atau kader.

Keterbukaan terkait keuangan organisasi, amal usaha, dan kader menjadi hal urgen di sini. Sehingga kekuatan ekonomi masing-masing bisa diprediksi, dilanjutkan dengan perencanaan ikhtiar ta'awun ekonomi. Semoga ruh jamaah hadir di sini, sementara tangan Allah ta'ala bersama jamaah.

Praktik ta'awun ekonomi ini memang terinspirasi dari Asy'ariyyun. Sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya kaum Asy'ariyyin, jika mereka kehabisan bekal dalam peperangan atau makanan keluarga mereka sedikit di Madinah, mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki dalam satu kain. Kemudian membaginya di antara mereka dalam satu wadah secara merata. Maka mereka adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari mereka."

Harus diakui dengan jujur, tetap ada kesenjangan antara konsep ta'awun ekonomi Asy'ariyyun dengan gagasan yang dituliskan di sini. Asy'ariyyun bersifat memberi. Sementara apa yang digagas lewat tulisan ini bersifat opsional, salah satunya pinjaman. 

Akan tetapi semangatnya sama, tidak boleh terjadi kekeringan uang. Arus uang harus terus mengalir. Operasional organisasi, amal usaha, dan kader terus berlangsung. Dengan demikian semoga krisis menambah kekuatan ruh berjamaah yang telah dirasakan selama ini.


Memetik Pelajaran Lain

Ada banyak pelajaran lain, selain ta'awun ekonomi antarkader, yang bisa dipetik dari peristiwa mutakhir di Timur Tengah. Pelajaran itu berkisar tentang sejarah, ideologi, kekuatan militer, peta politik dalam negeri, diplomasi antarnegara, hingga penguasaan teknologi. Kesemuanya mengarah pada tatanan keseimbangan global baru.


Dalam hal ini semoga peristiwa mutakhir dapat menjadi media pembelajaran para kader tentang geopolitik. Sehingga para kader lebih memiliki kesiapan saat perubahan-perubahan global terjadi. Para kader tidak menjadi penonton saja, tapi mengambil bagian dari lokomotif perubahan.

Para kader juga diharapkan mampu mengekstraksi berbagai prinsip filosofis dari semua kejadian ini. Agar dasar-dasar dari tegak atau jatuhnya suatu bangsa dapat dipahami, kemudian diproyeksikan pada organisasi. Sehingga organisasi semakin tegak serta berkontribusi kepada masyarakat, lokal ataupun global.

Fasilitasi ahli agama, ideologi, geopolitik, dan kebijakan ekonomi sangat mungkin diperlukan. Dalam hal ini para kader diharapkan membuka diri untuk duduk bersama dengan para ahli. Semoga pembacaan situasi bersifat akurat. Alhasil langkah-langkah berikutnya bisa tepat, para kader dan organisasinya semakin kuat.

Wallah a'lam.


Fu'ad F
Diberdayakan oleh Blogger.