Menguatkan Akar Growth Mindset Guru di Sekolah dan Dampak Positifnya bagi Murid
Secara umum dikenal dua mindset yang saling berseberangan, fixed mindset dan growth mindset. Fixed mindset mengantarkan pemiliknya untuk tidak banyak bertumbuh. Budaya belajar tidak terlihat dalam wujud apapun. Sementara growth mindset, sebaliknya, mengarahkan pemiliknya untuk senantiasa tumbuh. Perilaku dan budaya belajar terlihat jelas, entah dalam perkataan ataupun perbuatan.
Dalam konteks persekolahan, jebakan fixed mindset kerapkali tidak disadari. Diawali dari kesibukan teknis yang tidak pernah habis, seorang guru kemudian menyerah untuk bertumbuh. Benaknya hanya berisi satu kalimat: Tuntaskan semua pekerjaan teknis.
Akhirnya sang guru tidak berpikir untuk mengerjakan pekerjaan yang taktis apalagi strategis. Menggali info baru tentang ilmu pengetahuan, menelaah perkembangan teori pedagogis, dan memetakan tantangan masa depan murid tidak pernah ditulis dalam agendanya sebagai bagian pekerjaan. Hanya tugas-tugas harian yang tertulis di situ.
Akibatnya dapat ditebak, metode dan materi belajar yang disampaikan sang guru kepada para murid sifatnya hanya pengulangan. Tidak ada sesuatu yang baru. Begitu terus kejadiannya. Sehingga murid tidak mengalami progresivitas mental pembelajar yang signifikan.
Di sini ada peran kritis kepemimpinan sekolah, yakni merancang lingkungan yang menstimulus guru untuk terus belajar berbingkai growth mindset. Beberapa hal mendasar yang bisa disebutkan antara lain ruang publik yang cukup luas untuk berpikir serta bicara, beban mengajar tidak sepenuh jam kerja, tersedia media hasil tulisan guru, dan hubungan kerja berorientasi kemitraan. Ya, benar sekali, guru ditempatkan pada kesejajaran hubungan dengan pimpinan sekolah.
Hal ini berbeda dengan pemikiran lama bahwa guru subordinasi dari pimpinan sekolah. Guru hanya penerima instruksi dan wajib taat. Hampir tidak ada ruang publik yang leluasa untuk saling menyampaikan masukan kritis.
Sungguh kesejajaran hubungan guru dengan pimpinan sekolah tidak dimaksudkan sebagai demokratisasi apalagi liberalisasi pendidikan. Justru kesejajaran hubungan tersebut merupakan wujud apresiasi kepada guru sebagai insan intelektual. Ia tidak sekedar mengajar murid tapi juga mengembangkan pemikiran-pemikiran untuk lingkungannya.
Di sisi lain hubungan imamah jamaah tidak bersifat tunggal yang top-down. Imamah jamaah juga membuka peluang terbangunnya hubungan bottom-up. Salah satu landasannya adalah hadits riwayat Ibnu Asakir dan Al-Khatib, "Pemimpin kaum adalah pelayan mereka."
Dua model komunikasi organisasional ini, top-down dan bottom-up, bisa diatur implementasinya di sekolah. Misalkan setiap guru disilakan berpendapat dan curhat berbasis argumentasi yang akuntabel, tapi keputusan tetap diserahkan kepada pimpinan sekolah. Saat keputusan telah diambil, seluruh guru dan staf taat pada keputusan tersebut.
Kolaborasi Pendidik sebagai Salah Satu Basis Pembangunan Budaya Belajar Guru
Valsiner dalam artikelnya Leadership: A Useful Action, sebagaimana dimuat dalam buku Culture and Leadership, menyampaikan satu klasifikasi pekerja: Knowledge worker.
Tidak seperti pekerja biasa, knowledge worker perlu diperlakukan dengan perlakukan khusus. Salah satunya basis penilaian yang didasarkan pada kolaborasi. Semakin banyak dan efektif kolaborasi dilakukan oleh seorang knowledge worker, maka penilaian kinerjanya semakin baik.
Guru termasuk knowledge worker. Karena kinerjanya berbasis pengetahuan. Sehingga kolaborasi tidak boleh ditinggalkan, entah sebagai ikhtiar pembagunan budaya belajar ataupun penilaian kinerja. Lesson study, peer-coaching, dan penelitian bersama itu tiga contoh kolaborasi yang bisa dilakukan guru.
Dengan kolaborasi, diharapkan terjadi peningkatan komunal terjadi secara simultan. Tidak ada guru yang tertinggal, sebagaimana setiap murid senantiasa bertumbuh menjadi pembelajar mandiri sepanjang masa.
Wallah a'lam.
Fu'ad F


Post a Comment