Membangun Muslimah, Organisasi dan Keluarganya
Salah satu buku tentang Khadijah radhiyallah 'anha adalah Khadijah Ummahatul Mu'minin karya Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal. Masuk ke Indonesia, buku ini diterjemahkan dengan judul Khadijah Teladan Agung Wanita Mukminah. Penerbit Insan Kamil menerbitkannya pada tahun 2014.
Dalam buku ini tergambar jelas sosok Khadijah. Salah satunya adalah pembacaannya yang seksama terhadap situasi dan kondisi. Sehingga ia bisa senantiasa terjaga dalam kebaikan.
Dalam hal pergaulan, misalkan, Khadijah menjauhi kumpulan wanita yang penuh ghibah dan sumpah serapah. Ia lebih memilih untuk banyak beraktivitas di rumah ketimbang mendapatkan banyak input yang merusak jiwa. Perlahan mungkin jiwa masih bisa kokoh, tapi bila terus dipengaruhi keburukan, keruhnya hanya menunggu waktu.
Khadijah juga pandai mengatur jarak dengan para mitra bisnis pria. Tidak ditemukan celaan terhadapnya dalam hal bergaul dengan mitra bisnis. Di sisi lain bisnisnya terus berkembang.
Tak bisa disangkal keahlian Khadijah dalam membaca potensi manusia, terutama menurut perspektif bisnis. Sesosok muda bernama Muhammad (shallallah 'alaih wa sallam) dipilihnya sebagai rekanan. Hasilnya di atas ekspektasi, bisnis menghasilkan laba besar.
Ternyata keahlian membaca potensi sumber daya insani yang dimiliki Khadijah sungguh luar biasa. Ia bisa memilih lelaki mana yang layak sebagai pendamping hidupnya. Di kehidupan berikutnya kebahagiaan pernikahan senantiasa menyelimuti diri serta keluarganya.
Saat Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam mulai bertahannuts di Gua Hira', Khadijah tetap setia mendampingi bahkan mendukung. Khadijah membaca bahwa sesuatu yang terjadi tidaklah biasa. Ketimbang banyak berkomentar, Khadijah lebih memilih untuk mendampingi Baginda Rasulullah.
Hingga amanah kenabian menghampiri Baginda Rasulullah, Khadijah tetap setia mendampingi dan memberikan saran. Baginda Rasulullah yang jiwanya masih belum stabil sangat terbantu dengan saran Khadijah. Amanah nubuwwah yang sangat berat di masa-masa awal terasa lebih ringan dengan hadirnya sesosok Khadijah.
Subhanallah.
Dengan demikian Khadijah layak menjadi inspirasi muslimah sepanjang masa. Bahwa kapasitasnya yang luar biasa bisa menjadi model output dan outcome pendidikan muslimah, formal ataupun informal. Di pendidikan formal semisal sekolah, seorang muslimah diantarkan untuk memiliki nalar kritis berbasis tauhid. Sementara di pendidikan informal semisal organisasi, seorang muslimah diantarkan memiliki soft skill yang sifatnya fundamental serta strategis.
Tidak mengapa lembaga pendidikan dan organisasi mengambil berbagai pendekatan pendidikan. Asalkan kemudian ada pemilihan dan pemilahan, mana pendekatan pendidikan yang masih selaras dengan nilai-nilai Islami. Selanjutnya nafas Islam dihembuskan dalam sistem pendidikan yang terbangun.
Khusus terkait organisasi muslimah, hendaklah disadari bahwa pendidikan/pembinaan anggota serta kader senantiasa menjadi kunci perbaikan organisasi. Orang, sistem, dan budaya organisasi tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu seiring peningkatan kapasitas sistem serta budaya organisasi, pembinaan anggota serta kader perlu terus dilaksanakan.
Dalam hal peningkatan kapasitas anggota serta kader, sejumlah aspek perlu diperhatikan. Pertama, standar output dan outcome. Kedua, kurikulum. Ketiga, pendekatan pembinaan.
Tentang pembinaan, sebagaimana kader organisasi Islam pada umumnya, lingkar-lingkar tugas perkaderan penting untuk dipertimbangkan. Agar konflik intra dan antarpersonal tidak terjadi. Di sisi lain kebaikan meningkat.
Link terkait: https://hidayatullah.or.id/lingkar-lingkar-tugas-kader-organisasi-islam/
Perkembangan zaman mengantarkan tantangan yang semakin kompleks. Dibutuhkan muslimah yang canggih dalam berpikir sekaligus terampil membangun keseimbangan-keseimbangan. Oleh karena itu, sebagaimana telah disampaikan terkait soft skill, membuka berbagai referensi manajemen dan kepemimpinan semakin urgen. Framework-nya bisa diambil, kontennya diganti dengan sirah salafush shaleh. Dengan demikian kecanggihan berpikir terbangun, sedangkan keterhubungan dengan spirit keshalehan terjalin.
Semoga dengan semua bekal tersebut, keseimbangan baru yang kokoh berjalan seiring. Berkualitas kadernya, maju organisasinya, dan bahagia keluarganya. Insya Allah itu semua bisa.
Wallah a'lam.
Fu'ad Fahrudin, sekretaris DPW Hidayatullah DIY - Jateng Bagian Selatan periode 2020-2025.

Post a Comment