Memahami Kompleksitas Menulis sebagai Dasar Membangun Kultur Belajar
“Menurut penilaian dari sisi ini,
maka Al-Qur’an merupakan yang terhebat, terkuat, serta seruan agama yang paling
awal kepada ilmu, membaca, dan menulis,” demikian ditulis Syeikh Muhammad ‘Izzat
Darwazah dalam At-Tafsir Al-Hadits. Tulisan beliau merupakan sanjungan kepada
Al-Qur’an surat Al-‘Alaq ayat 1-5, wahyu yang pertama kali turun.
Tergambar jelas dari wahyu pertama
tersebut bahwa pena menjadi sebab utama turunnya ilmu dari Allah ta’ala kepada
manusia. Kesannya sederhana. Akan tetapi bila ditelaah, ternyata ada
kompleksitas di situ.
Marilah menelaah sejumlah skenario
berikut.
Pertama, seseorang berbicara atau
mendiktekan, lalu orang lain menulis. Hasil tulisan tersebut disimpan oleh sang
penulis. Berikutnya sang penulis memperbanyak tulisan untuk disebarkan kepada orang banyak.
Kedua, seseorang berbicara atau
mendiktekan, lalu orang lain menulis. Berikutnya datang orang lain lagi untuk menyalin dan
memperbanyak hasil tulisannya. Orang banyak bisa menikmatinya dengan leluasa.
Ketiga, seseorang menulis, lalu
disalin orang lain. Salinan ini kemudian diperbanyak sehingga orang banyak bisa membaca, bisa juga membacakannya.
Keempat, seseorang menulis. Lalu orang lain membacakan tulisan tersebut kepada orang banyak. Apa yang ditulis kemudian
menyebar luas.
Kelima, seseorang menulis. Kemudian orang banyak membaca dan menghafalkannya. Penyebaran tulisan terjadi lewat dua jalan
sekaligus: Hafalan dan tulisan.
Dan seterusnya, masih terbuka peluang
berlangsungnya skenario-skenario lainnya.
Dari pemahaman ini, dua pesan penting dapat digarisbawahi: Tindakan aktif dan kompleks. Menulis membutuhkan tindakan aktif, baik dari pemberi ataupun penerima tulisan. Di sisi lain menulis memerlukan aktivitas kognitif dan fisik yang terpadu. Agar koneksi di dalam dan luar diri bisa terbangun. Sehingga aktivitas menulis berhasil menyampaikan maksud.
Dalam konteks persekolahan, khususnya kelas, pesan penting tersebut memberikan inspirasi tersendiri. Bahwa tindakan aktif dan kompleks perlu dihadirkan dalam kegiatan belajar-mengajar. Guru, murid, orangtua, pengelola, dan warga sekolah lainnya siap bertindak aktif agar terbangun kultur belajar. Tindakan aktif yang dilakukan juga tidak ala kadar, tapi sepenuh daya sehingga memberikan dampak.
Kultur belajar yang dimaksud di sini adalah segala aktivitas yang membuahkan kebaruan kepada murid, bisa pengetahuan ataupun prinsip pengetahuan. Sehingga kontruksi berpikir murid berkembang. Dampaknya sistemik, terutama pada progres perilaku murid.
Pengelola sekolah dan guru diharapkan bekerja sama untuk merancang aktivitas yang dapat menumbuhkan motivasi pada seluruh unsur yang terlibat. Di sisi lain paradigma transaksional dijauhkan. Agar tindakan aktif dan berdampak dikontribusikan oleh setiap unsur. Insya Allah sekolah akan menjadi pusat kultur belajar yang kuat, dengan alumni berenergi motivasional hebat. Berbagai kebaikan tumbuh, kapanpun dan dimanapun.
Wallah a'lam.

Post a Comment