Header Ads

Memberi Ruang Tumbuh untuk Gagasan Baru

Dakwah Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam tidaklah mudah. Ada banyak tantangan yang perlu dihadapi. Sebagiannya fisik dan sebagian lainnya emosi.

Salah satu tantangan emosionalnya adalah ejekan, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur'an surat Al-Furqan ayat 7, "Dan mereka berkata, 'Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?"

Para mufassir sepakat bahwa ucapan orang-orang kafir itu ejekan kepada Baginda Rasulullah. Orang-orang kafir itu merendahkan beliau yang posisinya masih lemah. Orang-orang kafir beranggapan, suatu gagasan harusnya disertai kekuatan yang membela. Kekuatan itu harus kasat mata, benar-benar terlihat.

Masih menurut keterangan para mufassir, Baginda Rasulullah sempat bersedih karena ejekan ini. Allah ta'ala menguatkan beliau lewat ayat ini. Bahkan Allah ta'ala menentang logika orang-orang kafir tentang kemanusiaan Baginda Rasulullah. 

Bagaimanapun seorang rasul tetaplah manusia. Sisi-sisi kemanusiaannya tetap melekat. Justru dakwah tidak efektif disampaikan jika sisi-sisi kemanusiaan seorang rasul tiada.

Hal ini dikarenakan dakwah tidak sekedar menyampaikan kata-kata. Akan tetapi dakwah bergelut dengan segala kompleksitas kehidupan manusia. Masalah-masalah ditemukan, lalu diurai dengan solusi-solusi sesuai ajaran Ilahi.

Jika hanya kata-kata dan tidak menyentuh kompleksitas kehidupan manusia, maka tidak lama dakwah akan dilupakan. Walaupun kata-kata itu disertai kekuatan memaksa, tanpa bersentuhan dengan kompleksitas manusia, dakwah tetaplah sulit berdampak. Karena memang esensi dakwah adalah menghadirkan solusi.

Lebih jauh sejumlah ibrah tertangkap dari cara berpikir orang-orang kafir tersebut. 


Pertama, ada golongan orang yang sulit menerima sesuatu yang abstrak semisal ide. Mereka tidak mau tahu, harus ada sesuatu yang kasat mata. Kata-kata, menurut mereka, hanya bualan semata; semisal angin yang datang lalu pergi lagi.

Golongan ini memiliki daya pikir yang perlu ditingkatkan. Bahwa apa yang tidak kasat mata bukan berarti tidak ada. Gagasan memang tidak bisa diindera. Akan tetapi lambat laun dengan kemudahan dari Allah ta'ala, semoga segera gagasan itu terwujud. 

Di sini tertangkap kemalasan mendengar dan berpikir. Keinginan yang mengemuka adalah langsung disodori. Kemanjaan terlihat.

Akibatnya bisa fatal, yakni ketertutupan terhadap hal-hal baru yang bermanfaat tapi belum sempurna. Dengan mendengar dan berpikir, seharusnya hal-hal baru itu ditangkap dan ditakar peluang kebaikannya. Akan tetapi karena kemalasan menyelimuti diri, hal-hal baru dengan potensi kebaikannya lewat. Akhirnya kualitas hidup berada di garis standar begitu-begitu saja, tanpa peningkatan.

Kedua, ada golongan orang yang sulit membedakan ide dengan implementasi. Ide boleh besar, namun implementasinya boleh kecil terlebih dulu. Seiring tahapan-tahapan yang dilaluinya, ide akan berbentuk.

Komunitas perlu memberikan ruang dan waktu untuk ide diwujudkan. Ini apresiasi terhadap orang yang sudah melahirkan ide. Ejekan berpotensi mematikan daya pikir dan kreativitas. Jika perilaku negatif tersebut sudah terlanjur membudaya, komunitas akan merasakan dampaknya. Kebaruan sulit lahir dari komunitas.

Akibatnya kualitas hidup komunitas stagnan. Komunitas hanya jadi konsumsi atas ide pihak luar. Di titik yang lebih ekstrem, komunitas menyerahkan dirinya untuk dijajah oleh ide-ide besar dari pihak luar.

Ketiga, ada golongan orang yang sulit hidup dalam kesetaraan. Mereka memiliki pemahaman dan keyakinan bahwa hidup ini arena pertarungan untuk berebut kekuasaan, pihak yang kuat berhak menguasai yang lemah. Tidak ada lintasan pikiran, pihak yang kuat membantu yang lemah; pihak yang sama-sama kuat hidup dalam harmoni kesetaraan dan sinergis.

Alhasil hidup diwarnai dengan berbagai konflik. Perasaan takut dominasinya runtuh terus menghantui. Saat orang lain menyampaikan gagasan, maka gagasan ditempatkan sebagai potensi gangguan. Upaya membumihanguskanmya perlu segera dilakukan.

Golongan seperti ini lupa bahwa manusia berasal dari proses yang sama. Oleh karena itu kesetaraan dan sinergi perlu diperhatikan. Tanpa kehendak seperti itu, kehidupan manusia sangat sulit menggapai ketenangan serta kemajuan.

Pada akhirnya sangat baik jika setiap insan terbuka terhadap kebaruan-kebaruan dalam kehidupan ini. Jika mungkin kebaruan lahir dari dirinya. Dirinya menjadi pelopor kebaikan, sebagaimana Baginda Rasulullah.

Wallah a'lam.

Diberdayakan oleh Blogger.