Header Ads

Peran Kultur Ilmiah dalam Mengenang Pahlawan

Hampir setiap komunitas memiliki sosok pahlawan. Sosok ini dikenal karena kerelaan dan keberaniannya dalam berkorban untuk komunitasnya. Mungkin harta yang dikorbankannya, mungkin jiwa raga; atau keduanya.



Pahlawan merupakan sosok yang terus dikenang dalam komunitasnya. Beberapa cara dilakukan. Misalkan membuat gambar bahkan patung. Lalu gambar dan patung tersebut dipajang di tempat-tempat umum dengan posisi yang terhormat.

Cara lainnya adalah mengabadikan nama pahlawan sebagai nama jalan, biasanya jalan-jalan utama di perkotaan. Jalan-jalan ini menjadi pusat pemerintahan, bisnis, dan pendidikan. Orang terus lalu-lalang, tidak pernah sepi.

Mendoakan pahlawan tentunya tidak dilupakan. Upacara bendera salah satu momen mendoakan pahlawan secara umum. Ada juga haul, memperingati wafatnya seorang pahlawan, diisi dengan doa dan narasi jasa sang pahlawan.

Buku biografi pahlawan wujud lain mengenang pahlawan. Tergambarkan perikehidupan seorang pahlawan kepada generasi berikutnya. Sehingga generasi berikutnya bisa meneladaninya.

Seiring perkembangan digitalisasi, flyer dan animasi menjadi media ‘menghidupkan’ pahlawan. Kata-kata mutiara kerapkali ditampilkan di kedua media ini. Terkadang dengan bantuan permodalan yang cukup, animasi mengisahkan perjuangan seorang pahlawan.

Semangat dan pemikiran pahlawan berusaha terus ditumbuhsuburkan. Agar ada transmisi nilai dari generasi ke generasi. Sehingga generasi berikutnya menjadi pelanjut cita-cita mulia pahlawan.

Dalam suatu transmisi nilai biasanya ada tiga arus utama. Pertama, tekstualis, kelompok yang menafsirkan semangat dan pemikiran pahlawan sebagaimana tertulis. Situasi kekinian kurang dipertimbangkan. Kedua, liberalis, kelompok yang menafsirkan semangat dan pemikiran pahlawan dengan kerangka berpikir yang jauh berbeda dari sang pahlawan. Ketiga, kontekstualis, kelompok yang menafsirkan semangat dan pemikiran pahlawan dengan semurni mungkin lalu menempatkannya dalam bingkai kekinian.

Kelompok pertama dan kedua bisa dikatakan berada di kutub ekstrem. Satu tertahan di masa lalu. Sementara satu lagi melepaskan total situasi masa lalu.

Kelompok ketiga bersifat kompromis. Bagaimana semangat dan pemikiran pahlawan dipahami sedemikian rupa, lalu dibawa ke masa kini sebagai warna. Selanjutnya warna ini digunakan untuk mensuasanakan situasi terkini agar terus terhubung dengan pahlawan. 

Kontekstualisasi tentu sesuatu yang berat. Karena beberapa ikhtiar dilakukan sekaligus. Setelah menafsirkan semangat dan pemikiran pahlawan semurni mungkin, ikhtiar berikutnya membawa penafsiran tersebut ke masa kini lalu memposisikannya dengan tepat.

Jika kultur ilmiah tidak ada, maka rangkaian ikhtiar itu sulit dilakukan. Karena semangat tidaklah cukup, perlu ada panduan sistematis agar semangat itu terus mengalir dengan terarah. Hingga akhirnya aliran itu sampai pada tujuan.

Selain sebagai dasar kontekstualisasi, kultur ilmiah juga berfungsi menyaring mitos dan fakta. Sehingga generasi berikutnya menangkap figur seorang pahlawan sebagai sosok manusia secara proporsional. Tidak ada sikap mengelu-elukan berlebihan.

Kultur ilmiah pada akhirnya diharapkan mampu membentuk framework berbasis pemikiran pahlawan, semisal framework perkoperasian warisan Muhammad Hatta. Framework ini menjadi bekal generasi berikutnya untuk membangun komunitas, warisan amat berharga.

Sekali lagi kultur ilmiah jalannya, tidak sekedar rasa kagum yang membuncah di dada.

Wallahu a'lam.

Diberdayakan oleh Blogger.