Header Ads

Membangun Kejayaan

“Jika kalian pada perang Uhud mendapat luka, maka sesungguhnya kaum kafir itupun pada perang Badar mendapat luka yang serupa. Dan masa kejayaan serta kehancuran itu Kami (Allah) pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran.” (Terjemah Q.S. Ali Imran: 140) 



Ayat ini turun seiring kekalahan pasukan Islam di perang Uhud. Lewat ayat ini Allah ta'ala hendak menghibur dan menguatkan pasukan Islam. Agar semangat juang mereka menyala kembali.

Di sisi lain ayat ini menggambarkan bahwa ada prinsip-prinsip untuk berjaya. Pemimpin, pengikut, dan sistem kerja perlu mendapat perhatian utuh. Selain itu ketiganya perlu dikuatkan secara simultan.

Para pemimpin perlu dekat kepada Allah ta'ala. Hatinya suci. Pandangannya jauh ke depan.

Kedekatan dengan Allah ta'ala dibangun lewat ulumuddin dan munajat yang istiqomah. Berkaca pada Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam, para sahabat, tabi'in, dan Muhammad Al-Fatih, munajat tidak pernah ditinggalkan. Mereka adalah singa di siang hari, rahib di malam hari.

Selanjutnya para pemimpin menguatkan kepemimpinannya dengan strategi yang kokoh. Ilmu kepemimpinan dan manajemen perlu senantiasa diasah. Hingga sang pemimpin mampu menjangkau seluruh pengikut dan sistem. Bagaimana mengelola dan mengembangkan keduanya secara berkelanjutan.

Lebih dalam tentang upgrading pengikut, ada banyak langkah yang bisa dilakukan. Ada kumpulan formal, juga nonformal. Ada event di ruangan, juga di lapangan terbuka. Kumpulan antarkeluarga tidak dilupakan.

Dalam upgrading pengikut, pendekatan-pendekatan kontemporer dipilah serta dipilih. Asalkan secara syar’i dibolehkan, relevansinya bagus, dan hasilnya teruji, maka suatu pendekatan layak untuk digunakan. Satu garis bawah yang juga penting adalah tahapan. Agar pengikut mampu melakukan penyesuaian dengan nyaman.

Di sisi lain para pengikut diharapkan memiliki ketaatan kepada pemimpin. Sami'na wa atha'na terus disuburkan. Dalam hal ini pengikut percaya bahwa pemimpin menginginkan hanya kebaikan.

Para pengikut juga didorong untuk ta'awun atau sinergi. Satu sama lain saling bantu. Agar kompetensi yang dimiliki bisa terkoneksi. Inilah asas menuju penguatan sistem organisasi.

Lebih jauh tentang sistem, sebagaimana upgrading pengikut, pemilihan dan pemilahan ilmu-ilmu terbaru diperlukan. Demikian pula dengan penggunaan aplikasi teknologi informasi. Tidak perlu ada keterburu-buruan. Lebih baik ada kajian yang menyeluruh terlebih dahulu.

Terakhir bahwa suatu perjalanan menuju kejayaan merupakan perjalanan panjang. Satu generasi menyelesaikan bagiannya. Generasi berikutnya juga sama. Yang paling penting adanya mata rantai perjuangan. 

Antargenerasi saling sayang, saling mendoakan sebagaimana dicontohkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 10, ‘Wahai Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami. Dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

https://www.dpwhidayatullahdiyjatengbagsel.org/2025/08/agar-perintis-dan-pewaris-dalam-satu.html

Wallahu a’lam.


Diberdayakan oleh Blogger.