Header Ads

Transformasi Aktivis Dakwah


Lahir sebagai yatim lalu menggembala di usia yang sangat belia untuk meringankan beban ekonomi sang paman, Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam terus bertumbuh sedari kanak-kanak hingga dewasa. Selanjutnya beliau belajar dagang di usia remaja sebagai batu pijakan kuat untuk berdagang serius di usia dewasa. Hingga akhirnya beliau menikah dan mendapatkan posisi terpandang di tengah-tengah penduduk Mekkah.

Di usia ini, pertumbuhan beliau tidak lagi bersifat sekuensial. Lebih tepatnya beliau mengalami transformasi diri yang sedemikian hebat. Beliau sudah dikenal sebagai figur yang peduli kepada sekitar, tapi kenabian mengantarkan beliau menjadi figur yang lebih peduli. Dimensi kepeduliannya tidak tunggal, bahkan majemuk, lintas ruang serta waktu.

Hebatnya beliau siap menanggung segala konsekuensi. Beliau menanggung beban moral, mental, finansial, dan juga fisik. Dihinakan setelah dikagumi serta disakiti setelah dikasihi, mungkin itu ringkasan kondisi beliau saat dakwah Islam dirintis.

Tidak cukup beban beliau hingga di sini. Beliau juga dituntut berpikir strategis, terutama dalam hal pembinaan untuk para sahabat. Tujuannya jelas, bagaimana para sahabat senantiasa kuat bahkan bertumbuh saat penderitaan begitu menekan.

Beliau juga masih harus berpikir untuk merekrut kader-kader baru. Kemampuan diplomasi dan komunikasi interpersonal dibutuhkan. Lagi-lagi beliau melalui proses transformasi ini dengan sangat baik.

Sudah? Belum.

Di Madinah, beliau didorong untuk menjadi negarawan sekaligus panglima perang. Bagi seseorang tanpa pendidikan politik dan militer, tentu kedua peran itu tidak ringan. Apalagi situasi internal dan eksternal sedemikian dinamis. Akan tetapi inilah Baginda Rasulullah, sosok inspiratif dalam perbincangan transformasi diri.

Oleh karena itu kiranya menjadi refleksi bagi para aktivis dakwah agar transformasi diri terus dijalani. Bagaimanapun dakwah tidak bersifat tunggal atau homogen, tidak pula berjalan secara lateral. Perkembangan dari dalam tubuh umat ini dan desakan dari luarnya sudah cukup untuk menginisiasi dinamika sejarah dengan segala kejutannya.

Jika seorang aktivis dakwah tidak berkesempatan untuk mengantisipasi dinamika sejarah tersebut, cukuplah ia berselancar selaras dengannya. Ia tidak tertinggal. Sehingga kontribusinya selalu relevan.


Satu hal fundamental terkait transformasi diri aktivis dakwah adalah penjagaan nilai-nilai esensial. Biarlah hal-hal yang bersifat aksesoris berubah. Akan tetapi hal-hal prinsipil tidak berubah. Bahkan seiring perjalanan transformasi diri aktivis dakwah, hal-hal yang prinsipil mewujud ke dalam bentuk-bentuk makin kasat mata. Sehingga umat ini bahkan seluruh insan semakin mudah memahami misi yang dibawa sang aktivis dakwah.

Sebagaimana Baginda Rasulullah, seorang aktivis dakwah juga akan menjalani transformasi diri yang berat. Meskipun demikian paling tidak terdapat dua kata kunci sukses yang butuh digunakan secara simultan: Hablumminallah dan hablumminannas.

Kepada Allah subhanahu wa ta'ala, sang aktivis dakwah semakin khusyu'. Sementara kepada sesama aktivis dakwah, ta'awun-nya semakin kolaboratif. Di tengahnya ada keluarga. Ya, kepada keluarga, ia semakin hangat dan dekat.

Sosok aktivis dakwah, secara ringkas, ternyata tidak bisa mengamati dan bergumul dengan eksternal dirinya saja. Bahkan ia harus lebih eksploratif ke dalam. Ia mengamati dan membersamai dirinya agar senantiasa berkelindan dengan perjalanan zaman.

Mungkin sesosok aktivis dakwah tidak memesona selayak bintang. Namun percayalah, ia juga bukan lilin yang membakar dirinya sendiri. Ia semisal cahaya yang menerangi, menentramkan sekaligus menghangatkan jiwa-jiwa yang rindu kepada Sang Pencipta, Allah subhanahu wa ta'ala.

Wallah a'lam.


Fu'ad F

Terinspirasi dari safari di rayon Hidayatullah Tapal Kuda, semoga transformasi aktivis dakwah dan lembaganya semakin berjalan progresif.

Diberdayakan oleh Blogger.