Header Ads

Menenangkan Perbedaan Pendapat Seputar Ilmu Pengetahuan di Era Mutakhir

Dunia, dengan kehadiran media sosial, terasa dekat. Apa yang ada di sana dan apa di sini bisa dipertemukan dengan mudah. Tinggal satu konten diambil dari satu sumber, lalu konten lain dari sumber berbeda juga diambil. Berikutnya kedua konten tersebut dikumpulkan di satu akun media sosial.


Meskipun demikian, ternyata apa-apa yang bisa didekatkan tidak kemudian langsung bisa diakrabkan. Jarak tetap ada. Entah itu jarak pada pikiran atau perasaan, bahkan bisa jadi keduanya. Tak ayal terasakan hidup harmonis bagai mimpi di siang bolong.

Sebenarnya perbedaan pendapat bukanlah sesuatu yang baru. Sejak zaman dulu perihal semacam ini sudah ada. Hanya saja perbedaan pendapat dulu tidak bersifat terbuka. Sehingga masih ada peluang untuk pikiran dan hati menemukan kejernihannya.

Selain itu perbedaan di era dulu bisa dikatakan lebih utuh, tidak sepenggal-sepenggal. Konteks mudah diperoleh. Dengan demikian telaah mendalam lebih mungkin dilakukan. Titik temu berpotensi diketemukan. Keakraban perlahan dapat diikhtiarkan.

Sehubungan dengan itu semua, kiranya perlu setiap orang menyadari betapa luasnya ilmu pengetahuan. Bukan dari objeknya, tapi dari sederet perspektif yang mengitarinya. Bayangkan setiap perspektif membawa satu penjelasan, bagaimana jika ada sekian perspektif? Tentu sangat banyak.

Di situasi seperti ini, sangat penting dipahami tugas-tugas seorang penerima informasi atau ilmu pengetahuan. Pertama, ia perlu mendengar kedua pihak secara imbang dan utuh. Kedua, tersedia dua opsi: Melanjutkan telaah atau berhenti. Apabila telaah dilanjutkan, maka pendalaman bersifat wajib untuk dilakukan. Sebaliknya, bila berhenti jadi pilihan, maka sebaiknya tidak perlu ada komentar terucap.

Dalam hal pendalaman dilakukan, kiranya seorang penerima informasi memahami dasar dan alur dari tiap perspektif. Sehingga proses produksi pemikiran bisa diikuti. Benar dan salahnya dapat diperkirakan. 

Di titik inipun vonis dan standing point belum boleh ditetapkan. Karena bisa jadi ada satu atau dua hal terlewat. Pendalaman ulang, sebagai pengecekan, kiranya penting dilakukan.

Setelah pengecekan usai, kiranya mampu sang penerima informasi menetapkan sikap. Akan tetapi sifatnya masih temporer. Karena perkembangan berikutnya mungkin akan sangat dinamis. 

Dalam hal ini sikap terbuka masih harus dihidupkan. Biarkan berbagai ilmu pengetahuan masuk. Lalu proses telaah dilakukan ulang. Sikap terbaru ditetapkan. Lagi-lagi sifatnya masih temporer, bisa berubah sesuai perkembangan berikutnya. 

Sebagai penutup, mari menyadari kembali fungsi ilmu pengetahuan. Sebagian orang menempatkan ilmu sebagai ilmu. Sementara sebagian orang lainnya menempatkan ilmu sebagai awalan amal.

Bagi orang yang menempatkan ilmu sebagai awalan awal, maka hendaklah ilmu ditimbang dan dipilah-pilih sehingga jadi amal. Bagaimanapun ada ilmu yang butuh diwujudkan dalam amal sesegera mungkin. Sebagaimana ada ilmu yang mungkin lebih baik ditunda pengamalannya. 

Semoga amal yang telah dilakukan selama ini menjadi kian sempurna. Di sisi lain semoga amal yang dipraktikkan mampu berkontribusi dalam penyempurnaan ilmu. Semakin hari semakin matanglah ilmu. Semakin besar juga manfaatnya bagi kehidupan nyata.

Dengan sikap sejenis ini, peluang terkurung dalam pusaran kontradiksi ilmu pengetahuan menjadi berkurang. Bahkan, sebagaimana telah disampaikan, amal berpeluang untuk memberikan penyempurnaan terhadap ilmu pengetahuan. Terbentuk siklus antara amal dengan ilmu secara dinamis. Terajut pula hubungan antara entitas-entitas yang terlihat berjauhan, semisal jasad-ruh serta dunia-akhirat.

Wallah a'lam.
Diberdayakan oleh Blogger.