Mengeksplorasi Kehidupan, Mengeksplorasi Kebahagiaan
Dalam hidupnya, manusia bisa menemukan situasi-situasi yang membahagiakan. Kesehatan yang prima, harta yang cukup, karier yang lancar, keluarga yang harmonis, serta pertemanan yang akrab merupakan sebagian situasi yang membahagiakan tersebut. Tentu masih banyak lagi situasi lain yang membahagiakan.
Di titik ini terbelahlah manusia, secara umum, dalam dua golongan. Golongan pertama menikmati situasi bahagia, tanpa lebih jauh mencari kebahagiaan yang lebih nikmat lagi. Bahkan mungkin mereka menghindari untuk mencarinya, karena takut akan kehilangan situasi bahagianya saat ini. Cukuplah di sini, menurut mereka. Akal dan kesadaran kemudian dinonaktifkan.
Golongan kedua juga menikmati situasi bahagia namun berusaha mencari kebahagiaan yang lebih nikmat lagi. Ada rasa penasaran yang senantiasa menghantui. Akal dan kesadaran terus menggedor, menghadirkan suara bertalu-talu, "Pasti ada kebahagiaan lain yang jauh nikmat ketimbang sekarang ini."
Pencarian pun dilakukan. Berbagai kemungkinan dibentangkan. Akhirnya tersedialah sejumlah pilihan untuk ditindaklanjuti.
Akal dan kesadaran yang baik akan dituntun pada pilihan-pilihan baik. Sementara akal dan kesadaran yang semrawut akan cenderung kacau menghadapi variasi pilihan. Akibatnya kacau pula perilaku seorang manusia.
Ya, di sinilah, peran masa kecil berbicara. Bila masa kecil seorang manusia dipenuhi dengan kesehatan logika dan kejernihan nurani, kemungkinan besar masa dewasanya tidaklah rumit dalam memilih. Sebaliknya bila masa kecil diwarnai dengan logika sakit dan rusaknya nurani, entah seperti apa kebuntuan-kebuntuan yang bakal menghantui.
Oleh karena itu...
Izinkanlah seorang anak melalui masa kecilnya dengan kebaikan sebanyak mungkin, khususnya pada bincangan-bincangan yang menyuburkan keinginan bahkan fantasi penuh manfaat. Tidak harus selalu dengan nada lembut. Nada marah, jika memang dibutuhkan, sesekali boleh saja. Asalkan lisan dan tangan masih terkendali.
Izinkanlah pula seorang anak mengajukan pertanyaan dan gagasan unik sekaligus pelik. Responlah semampunya. Lebih jauh, jujurlah jika memang tak sanggup untuk menjawabnya.
Selain itu...
Hendaklah manusia dewasa sadar bahwa ilusi-ilusi bertebaran di sekelilingnya. Ilusi penglihatan dan suara itu sudah banyak diketahui. Manusia mudah disadarkan perihal ini. Sedangkan ilusi lain, yang sebenarnya lebih menjebak, sulit disadari. Mari memberikan istilah: Ilusi keyakinan.
Bahwa apa yang terjadi saat ini bakal terus seperti ini, demikian ringkasnya definisi dari ilusi keyakinan. Sehingga kewaspadaan berkurang, pun kesadaran. Akhirnya perlahan keangkuhan tumbuh di dalam diri.
Di sinilah eksplorasi kehidupan dibutuhkan. Seorang manusia keluar dari lingkungan yang biasa ditinggalinya untuk mengenal corak kehidupan lainnya. Mungkin secara fisik, tapi tidak masalah jika ia memilih mode virtual.
Semoga kewaspadaan dan kesadaran terus menguat. Alhasil manusia diharapkan bertepi di satu titik tolak: Kepasrahan.
Tentu saja kepasrahan yang dimaksud adalah kepasrahan kepada-Nya. Bahwa apa yang dijalani saat ini mungkin akan berbeda di detakan waktu berikutnya, mungkin lebih baik lagi atau lebih buruk. Pasrah saja, apapun akan berusaha dijalani sesuai tuntunan-Nya.
Di momen inilah semoga bahagia sejati dapat ditemukan.
Wallah a'lam.

Post a Comment