Header Ads

Membangun Empati di Era Modern sebagai Jalan Menuju Kepemimpinan Umat

"Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul yang berasal dari kaum kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan kalian. Ia sangat menginginkan kebaikan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian. Ia amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang beriman." (Terjemah Q.S. At-Taubah: 128)


Ayat ini menggambarkan keagungan akhlak Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam. Ditemukan empati, sebagaimana ditemukan pula semangat untuk memberdayakan orang-orang yang menjadi pengikut beliau. Hebatnya, baik empati ataupun semangat pemberdayaan, keduanya dibalut dengan kelembutan. Maka terbayang, tindakan apapun yang dilakukan beliau, pasti terasa nyaman di hati. Sehingga kelekatan beliau dan para pengikut beliau akan semakin erat seiring berjalannya waktu.

Ya, benar, demikianlah gambaran seorang pemimpin. Empati, semangat pemberdayaan, dan kelembutan menyatu dan menyertai berbagai tindakan sang pemimpin. Berat? Sangat.

Apalagi jika seseorang ingin menjadi pemimpin umat, formal maupun informal. Kata-kata dan retorika sangat tidak memadai. Apalah arti kata-kata jika kemudian hanya kehilangan makna, bahkan melahirkan luka.

Justru kerendahan hati butuh hadir. Karena dengannya bakal tersedia telinga yang mendengar secara seksama. Ada mata yang teduh. Bahasa tubuh begitu menenangkan. Sehingga orang-orang berkenan menceritakan aneka kisah mereka, bahagia dan duka.

Selanjutnya sang pemimpin memberikan respon sebaik mungkin, selembut mungkin, sesuai kemampuan yang dimilikinya. Mungkin responnya belum menjadi solusi terbaik. Akan tetapi, minimal, orang-orang yang bercerita tidak merasakan penderitaan baru.

Ayat ini dan uraiannya terasa semakin urgen untuk diangkat di era ini, sebuah era saat derita lahir dan batin terasa semakin perih sekaligus kompleks. Seseorang mungkin terlihat baik-baik saja, tetapi ternyata ada sakit di sana. Fisik dan mentalnya sama-sama menderita. Apatah lagi orang-orang yang sudah jelas-jelas terlihat kesusahan.

Seseorang yang ingin jadi pemimpin umat harus siap menjelajahi aneka kehidupan, baik di alam nyata ataupun maya. Hendaklah ia menangkap berbagai fakta dan fenomena yang ada, lalu mengonfirmasi semua itu dengan tuntunan Ilahiyah. Sehingga tergambar jelas apa yang salah. Selanjutnya solusi-solusi diupayakan untuk muncul.

Satu godaan yang kerapkali muncul saat jelajah aneka kehidupan ini dilakukan adalah menghakimi. Wujudnya lewat celaan, verbal ataupun nonverbal. Memang siapa yang salah kadang-kadang harus ditetapkan. Akan tetapi, walaupun konsekuensi harus ditegakkan, celaan hendaklah tidak ikut menyertai. Sekali lagi, empati dan solusi lebih dibutuhkan.

Godaan lainnya adalah menyepelekan rasa sakit yang diderita orang lain. Bagaimanapun setiap orang boleh sakit dan mengungkapkan rasa sakitnya. Biarkan ceritanya mengalir. Kemudian marilah bersama-sama memulai perjalanan untuk sembuh.

Sungguh dua godaan tersebut tidak ringan. Oleh karena itu seseorang yang menjelajahi berbagai corak kehidupan dan ingin menghadirkan solusi-solusi, hendaklah ia bergerak dalam kebersamaan. Ia berkelompok, berjamaah. Ada saling topang dan mengingatkan di dalam jamaah. Semoga masalah-masalah baru tidak muncul, khususnya masalah akibat salah komunikasi.

Semoga pula pertahanan diri terjaga. Jika tidak, derita akan menular pada orang-orang yang awalnya diharapkan membawa solusi. Situasi semakin buruk.

Pada akhirnya niat dan tindakan baik butuh dikuatkan dengan munajat-munajat berkualitas. Allah ta'ala senantiasa dihadirkan sekaligus dimohonkan pertolongan-Nya. Semoga segala berakhir baik.

Wallah a'lam.

Diberdayakan oleh Blogger.