Akselerasi Organisasi
Serombongan orang akan bepergian dengan mobil dari Depok, Jawa Barat. Tujuannya Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbasis data Google Map, lama perjalanan diperkirakan kurang dari delapan jam. Dengan rehat dan segala macamnya, sepuluh jam bisa dijadikan perkiraan maksimal.
Sebelum rombongan tersebut berangkat, ada pesan dari seorang teman di Kebumen, Jawa Tengah. Isinya pertanyaan, bagaimana jika rombongan mampir dulu ke Kebumen lalu bersama-sama menuju Sleman?
Google Map kembali dibuka. Ternyata perjalanan mobil Depok-Kebumen diperkirakan butuh waktu lebih dari delapan jam. Itu sudah lewat tol. Apabila lama perjalanan Kebumen-Sleman 2,5 jam, itupun tanpa rehat, maka lama perjalanan rombongan akan semakin bertambah-tambah.
Sebuah keputusan diambil. Sesuai kesepakatan antara rombongan dengan sang teman, semuanya bertemu di Sleman. Agar waktu bisa digunakan efisien.
Terasa ada yang janggal, tapi demikian kenyataannya. Jalan tol menjadikan korelasi jarak dan waktu tempuh tidak sama seperti dulu. Perhitungan konvensional hampir tidak bisa digunakan lagi.
Nah, fenomena jalan tol ini bisa diadaptasi terhadap situasi organisasi. Sebagaimana lazim terjadi pada organisasi, ada kesenjangan/jarak antara realitas dengan idealitas. Berbagai faktor turut andil dalam menciptakan kesenjangan tersebut.
Kemudian sejumlah rumusan solusi disusun. Agar kesenjangan semakin dekat. Berikutnya disusun program kerja dan aktivitasnya. Menyusul kegiatannya. Demikian kebiasaan yang terjadi di organisasi. Bila diibaratkan jalan, jalan yang ditempuh merupakan jalan umum, bukan tol. Alhasil akselerasi kurang cepat terjadi.
Sebaiknya organisasi memperluas spektrum berpikir dan bekerjanya. Wujudnya antara lain: Perumusan masalah dan solusi yang fundamental, pelaksanaan aktivitas yang sinergis antarbagian, dan penguatan dampak (outcome).
1. Perumusan masalah dan solusi yang fundamental
Kerapkali masalah-masalah yang ditemukan bersifat artifisial alias permukaan. Diperlukan sebuah penelitian atau kajian untuk merumuskan masalah secara mendalam. Agar akar masalah benar-benar ditemukan untuk kemudian disusun kerangka solusi yang mantap. Sehingga ke depan, organisasi diharapkan memiliki kebaruan. Gerakannya semakin gesit.
2. Pelaksanaan aktivitas yang sinergis antarbagian
Telah banyak disinggung oleh para pakar agar sinergis antarbagian muncul di organisasi. Hal ini dikarenakan efektivitas kegiatan seringkali butuh topangan pihak lain. Oleh karena itu ego sektoral butuh diminimalisir. Sebaliknya, secara formal ataupun informal, pertemuan antarbagian butuh dilakukan. Harapannya terjadi kesepahaman yang menjadi titik awal dari sinergi.
3. Penguatan dampak (outcome)
Sering terjadi di organisasi, kegiatan selesai maka dinyatakan satu program dinyatakan selesai. Satu sisi ini benar. Sisi lainnya kurang tepat. Bagaimanapun besaran dampak (outcome) butuh dijalankan. Selain berkaitan dengan efisiensi anggaran, besaran dampak (outcome) akan membantu organisasi memilah dan memilih kegiatan terbaiknya. Apabila dampaknya luas, maka kegiatan tersebut dapat dilanjutkan. Apabila dampaknya cukup luas, maka kegiatan tersebut dilanjutkan dengan perbaikan. Adapun apabila dampaknya kurang, maka di masa depan kegiatan tersebut tidak perlu dilanjutkan.
Mengingat kompleksnya pemikiran dan kerangka kerja (framework) yang akan dibangun di organisasi, peran pemimpin sangat dibutuhkan. Tanpa keterlibatan yang intens, sulit akselerasi terjadi. Sehubungan itu semua, hendaklah pemimpin terus-menerus membangun kemampuannya dalam berpikir strategis. Semoga, tidak sekedar relevan, tapi organisasi juga berakselerasi.
Wallah a'lam.
Post a Comment