Transformasi Kepemimpinan Karismatik Lembaga Pendidikan
Salah satu tantangan lembaga pendidikan adalah menimbang kepemimpinan karismatik secara proporsional, seberapa jauh kepemimpinan ini dijalankan. Hal ini dikarenakan kepemimpinan karismatik tidak salah secara mutlak. Bagaimanapun karisma perlu terpancar dari seorang pemimpin.
Di sisi lain ketergantungan kepada satu sosok itu berpotensi menimbulkan stagnasi yang cukup parah di masa depan. Saat sang pemimpin karismatik tiada, generasi berikutnya berkemungkinan tidak bisa menjalankan lembaga pendidikan sebagaimana sang pemimpin karismatik. Ini wajar karena generasi berikutnya tidak terlatih secara sistemik untuk menjadi pemimpin selanjutnya.
Benar, kuncinya pada pelatihan yang sistemik. Sifatnya utuh, tidak hanya satu jenis aktivitas dengan implementasi yang itu-itu saja. Sifatnya juga banyak arah dengan keterlibatan banyak pihak.
Persoalannya, harus diakui bahwa pelatihan yang sistemik kadang tidak dipahami apalagi diaplikasikan oleh lembaga-lembaga pendidikan. Need analysis, misalkan, kerapkali diabaikan. Jika ada pun, mungkin tidak bisa ditindaklanjuti dengan baik. Selaksa kepentingan memaksa lembaga pendidikan untuk mengabaikan hasil need analysis.
Dengan demikian hendaklah setiap lembaga pendidikan bersungguh-sungguh menyelenggarakan pelatihan yang sistemik kepada sivitas akademikanya, lengkap dengan tahapan-tahapan yang mengawalinya. Dua target semoga bisa diraih sekaligus: Memperkuat kualitas sumber daya insani (SDI) dan menyiapkan kepemimpinan era berikutnya.
Semoga kepemimpinan karismatik, yang mungkin saat ini dipilih sebagai salah satu opsi terbaik, kemudian diperkuat oleh hadirnya insan-insan tangguh. Mereka mampu memproduksi pemikiran dan konsep operasional yang lebih relevan bagi lembaga pendidikan. Sehingga langkah akseleratif lebih mungkin terjadi.
Teruslah beri ruang gerak bagi kepemimpinan karismatik. Karena, sebagaimana telah disampaikan, tidak ada kesalahan mutlak dari kepemimpinan karismatik. Rintisan dan perjalanan awal suatu lembaga pendidikan kerapkali menjadikan kepemimpinan karismatik sebagai pilihan satu-satunya
Di era berikutnya, setelah terlihat insan-insan berpotensi unggul, kepemimpinan karismatik butuh ditransformasikan ke arah kepemimpinan yang lebih akomodatif. Pintu gagasan dibuka lebih lebar. Gagasan-gagasan dikumpulkan dan dikaji. Lalu ekstraksi dilakukan. Semoga strategi yang lebih relevan dan efektif didapatkan.
Ada dua perspektif yang butuh selaras dalam membangun pelatihan sistemik di lembaga pendidikan, yakni perspektif lembaga pendidikan dan SDI. Dalam perspektif lembaga pendidikan, pelatihan sistemik perlu disadari sebagai kebutuhan berkelanjutan. Budaya saling belajar dan menguatkan baiknya terus diupayakan. Kepemimpinan karismatik yang ada diupayakan bisa menjadi pelindung budaya-budaya progresif tersebut, bukan sebagai penolak.
Sedangkan dalam perspektif SDI, insan-insan di lembaga pendidikan hendaklah membangun dirinya sebagai pribadi dan profesional. Agar perjalanan diri serta lembaga pendidikannya memiliki kesesuaian. Aneka konflik bisa diminimalisir, bahkan diolah menjadi modal sosial. Lembaga pendidikan berpotensi lebih kuat di masa depan.
Sebagai penutup, marilah setiap pengelola lembaga pendidikan menyadari bahwa konstruksi mentalitas di setiap tahap perjalanan organisasi tidaklah monoton. Dibutuhkan konstruksi mentalitas yang dinamis seiring tumbuh kembangnya lembaga pendidikan. Apabila ini tidak disadari, maka status quo lebih mudah terbentuk. Bibit stagnasi perlahan tumbuh, berkecambah, dan tidak lama kemudian mencengkeram lembaga pendidikan. Akibatnya lembaga pendidikan sulit bergerak dan merespon situasi mutakhir. Kejayaan semakin menjauh.
Wallah a'lam.
Fu'ad F

.jpeg)

Post a Comment