Sidang dengan Satu Pertanyaan: Seberapa Jauh Digitalisasi Dibutuhkan di Persekolahan?
Rangkaian sidang korupsi Chromebook Kemdikbudristek, yang baru saja menjatuhkan vonis kepada terdakwa kedua pada tanggal 30 Juni lalu, kini memunculkan kembali satu pertanyaan: Seberapa jauh digitalisasi dibutuhkan dalam aktivitas persekolahan?
Digitalisasi dibutuhkan, iya, hampir semua sepakat. Hanya saja seberapa jauhnya, perihal tersebut masih diperdebatkan. Aneka problem yang terus membelit pendidikan Indonesia dan belum meratanya infrastruktur merupakan dua topik yang hampir selalu hadir di ajang perdebatan.
Ditambah dengan kejadian-kejadian mutakhir, perdebatan dimungkinkan semakin memanas. Sebagaimana diketahui, baru saja start-up besar Indonesia bernama Tokopedia melakukan lay-off kepada 90% karyawannya. Padahal persoalan tentang besaran potongan admin mitra transportasi online juga belum bisa dianggap tuntas.
Sudah cukup? Belum. Pajak bagi pedagang online di marketplace masih dirasa memberatkan. Sebagian pedagang akhirnya beralih ke platform lain. Itupun masih dikejar perpajakan.
Prof. Zulfikar Amir, di akun X-nya tanggal 3 Juli lalu, mengomentari kejadian-kejadian mutakhir tersebut, "Jawabannya sederhana: ekonomi digital Indonesia berjalan di atas deindustrialisasi. Ia tidak tumbuh dari produksi, melainkan dari konsumsi. Akibatnya adalah pertumbuhan semu yang dipicu oleh valuasi hiperbolis."
Sementara itu fenomena digitalisasi di luar negeri, khususnya untuk anak sekolah, juga menarik perhatian. Sebagaimana diketahui, sejumlah negara maju kembali menerapkan buku cetak bagi sebagian muridnya terutama kelas bawah. Pembatasan medsos juga dikenakan kepada anak-anak.
Dengan demikian, saat ditanyakan lagi, seberapa jauh digitalisasi diperlukan dalam aktivitas persekolahan, maka sejumlah hal perlu dipertimbangkan. Bukan hanya kajian kebutuhan, infrastruktur, aksesibilitas, dan literasi digital yang dibutuhkan. Akan tetapi orientasi juga perlu ditetapkan untuk ditindaklanjuti secara detail.
Orientasi yang dimaksud, paling tidak, dapat disederhanakan menjadi dua: Pengguna (user) atau pengolah (creator).
Mari mengambil penggunaan AI (artificial intelligence) sebagai contoh. Apabila orientasinya pengguna, maka murid di sekolah cukup diajari menggunakan AI. Akan tetapi bila orientasinya pengolah, maka murid di sekolah butuh belajar banyak subjek pelajaran seputar AI. Tidak sekedar memberikan prompt, murid juga butuh belajar mengurasi hasil kerja AI dan berbagai etika penggunaan AI.
Demikian pula apabila AI hendak digunakan dalam manajemen sekolah, maka pengelola sekolah dilatih untuk terampil menggunakan AI dalam meningkatkan produktivitas yang akurat, relevan, serta beretika. Pemberian prompt hanya satu bagian dari keterampilan ber-AI. Bagian lainnya juga butuh diperdalam.
Contoh lainnya adalah learning management system (LMS). Kiranya baik jika LMS menjadi media interaktif pengelola sekolah, pendidik, peserta didik, dan orangtua dalam merumuskan perjalanan akademik peserta didik (academical path). Tersedia berbagai fitur seperti abstraksi subjek pelajaran, reviu kemampuan individual, dan saran-saran perbaikan. Fitur pembiayaan juga bisa disertakan sebagai pelengkap. Jadilah LMS sebagai one stop service.
Semoga dengan kerangka berpikir yang multiperspektif tersebut, aktivitas persekolahan mampu ditopang oleh digitalisasi yang memanusiakan sekaligus solutif. Sehingga tujuan pendidikan dapat tergapai paripurna, "Untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."
Wallah a'lam.
Fu'ad F


Post a Comment