Header Ads

Cerdas Berbahasa Sebagai Modal Hidup Bahagia



"Fulan menggigit kucing", demikian sebuah kalimat disampaikan. 

Secara tata bahasa, tidak ada yang salah. Subjek, predikat, dan objeknya sudah pas. Hanya secara logika, agak susah dibayangkan, bagaimana seorang manusia menggigit kucing. Karena hampir tidak terjadi kejadian seperti itu. Lebih sering sebaliknya, kucing menggigit manusia. Bagaimanapun kucing punya gigi taring dan pemakan daging, selain kejadiannya pernah terjadi satu dua kali.

Demikian sebuah contoh yang menyampaikan pesan agar kebahasaan tidak hanya diajarkan di aspek tata bahasa, tapi juga logika. Agar pesan yang disampaikan oleh sebuah kalimat dapat diterima oleh akal pikiran manusia. Berikutnya kesimpulan dan tindak lanjut bisa disusun sekaligus dilaksanakan.

Problem yang kemudian sering ditemui di ruang-ruang kelas adalah pemahaman pendidik tentang konstruksi kebahasaan. Bahwa kebahasaan lebih banyak dikaitkan dengan tata bahasa. Penggalian gagasan dan penguatan logika hampir terlupakan.

Padahal ketiganya merupakan satu kesatuan dan saling terhubung. Gagasan sangat mungkin digali apabila logika berfungsi baik. Sebagaimana diketahui, logika akan mengolah berbagai informasi yang masuk untuk disimpulkan serta direspon. Kesimpulan dan respon inilah yang bisa dijadikan sumber gagasan.

Langkah selanjutnya gagasan ditata lebih rapi dalam suatu algoritma untuk disampaikan sebagai kalimat-kalimat tertata rapi. Diksi dipilih agar kalimat semakin efektif, sesuai siapa sasaran bincangan. Semoga gagasan sampai kepada sasaran bincangan. Sehingga timbal balik sesuai dengan yang diharapkan.


Dengan pengajaran kebahasaan yang integratif antara ketiga sisi kebahasaan tersebut, semoga kebahasaan tidak saja mengantarkan anak berbahasa secara baik serta benar. Bahkan anak berkemampuan menggunakan bahasa sebagai sarana memperbaiki kualitas hidupnya. Sebagaimana diketahui, bahasa merupakan salah satu alat utama bagi manusia memperbaiki dan meningkatkan kualitas dirinya sendiri. Baik kognitif ataupun afektif, keduanya memerlukan sentuhan bahasa. Tentu yang dimaksud adalah bentuk bahasa yang membangun, bukan merusak. Ada inspirasi ditemukan dari pesan yang disampaikan lewat bahasa.

Demikian pula bahasa menjadi alat utama untuk membangun hubungan sosial yang akrab. Bahasa membangun kenyamanan, bukan konflik apalagi permusuhan. Bahkan bahasa dapat digunakan untuk menstimulus potensi-potensi kebaikan yang dimiliki orang lain.

Kehadiran TKA (tes kompetensi akademik) sebenarnya memiliki potensi pengungkit agar pendidik meningkatkan kualitas pembelajaran kebahasaannya. Telah disampaikan bahwa kebahasaan tidak hanya tentang tata bahasa. Ada logika dan penggalian gagasan yang tidak boleh ditinggalkan. Apabila anak dilatih secara komprehensif, semoga kemampuan literasinya meningkat. TKA di bidang literasi bisa dilalui dengan relatif mudah.

Bukan berarti TKA jadi tujuan utama dalam pembelajaran kebahasaan yang integratif. TKA hanya tujuan sementara. Di sisi lain, tidak mengapa apabila pendidik menggunakan TKA sebagai titik awal perbaikan pembelajaran kebahasaan. Karena bagaimanapun perolehan yang baik di TKA memberikan sedikit banyak dampak baik kepada anak. Semoga anak semakin terpacu untuk berbahasa secara baik, benar, dan cerdas.


Ya, mungkin sudah waktunya untuk 'cerdas' dimasukkan sebagai semboyan berbahasa. Agar mindset pembelajaran kebahasaan semakin menjangkau dua sisi yang jarang dipelajari oleh anak, logika dan penggalian gagasan. Semoga tidak hanya para pendidik yang tergerak untuk memperbaiki pembelajaran kebahasaan, para pengelola pendidikan di berbagai tingkatan serta orangtua juga memiliki kepedulian yang sama. 

Dengan demikian bahasa menempati posisi yang seharusnya, posisi penuh keistimewaan. Sebagaimana Al-Qur'an menempatkan bahasa dalam urutan istimewa, "(Tuhan) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur'an. Dia menciptakan manusia, mengajarkannya pandai bicara (dalam bahasa)." (Terjemah Q.S. Ar-Rahman: 1-4)

Lihatlah bicara berada di posisi keempat setelah Allah ta'ala, Al-Qur'an, dan manusia. Ini isyarat agar kebahasaan tidak dianggap remeh. Bahwa kebahasaan merupakan suatu kebaikan dan berpotensi melahirkan kebaikan-kebaikan selanjutnya. Iya, TKA dan asesmen-asesmen lain termasuk di dalamnya. Intinya tantangan jangka pendek dan jangka panjang, insya Allah, lebih mudah ditaklukkan. Semoga hidup senantiasa bahagia.

Wallah a'lam.
Diberdayakan oleh Blogger.