Header Ads

Mengenali Perilaku 'Menginjak Kepala Orang Lain'

Salah satu perilaku buruk di kumpulan manusia, di lingkungan manapun, adalah 'menginjak kepala orang lain'. Maknanya seseorang merendahkan orang lain dengan berbagai cara manipulatif. Tujuan utamanya agar sang pelaku tetap dipandang sebagai orang terpuji, sedangkan orang lain tidak seperti itu. Dengan demikian sang pelaku terus memiliki peluang untuk berada di posisi tertentu, bahkan naik. Sumber daya yang mahal bisa dikuasainya.


Sang pelaku bisa seseorang yang menduduki jabatan sebagai pimpinan. Akan tetapi bisa juga ia seorang senior. Bisa ditebak kemudian, betul sekali, bahwa yunior atau warga yang jadi sasaran. 

Pimpinan atau senior yang suka menginjak kepala orang lain, sebagaimana telah disampaikan, sering berperilaku manipulatif. Banyak tindakan yang tidak sinkron. Anehnya yunior dan warga yang justru terlihat salah.

Teknik komunikasi manipulatif banyak dimainkan secara halus. Senyum tetap mengembang dari sang pelaku. Akan tetapi kata-kata dan logika yang disampaikan memojokkan yunior dan warga. Sehingga perasaan bersalah sangat mungkin hadir di hati yunior dan warga.

Ada juga perilaku manipulatif yang tidak sekedar melibatkan kata-kata namun juga otoritas. Salah satu contohnya adalah menyimpan informasi penting. Tujuannya, tentu saja, agar sang pelaku memiliki hak istimewa atas akses informasi. Sementara orang lain, apalagi yunior dan warga, hanya jadi pihak penunggu. Dirinya berada di posisi penting dan di atas, sedangkan orang lain pasif dan di posisi bawah.

Contoh lainnya adalah memanipulasi detail pertemuan, antara lain tentang waktu dan isinya. Kepada orang-orang disampaikan bahwa waktu pertemuan di jam j, tapi sebenarnya lebih mundur. Nah, sang pelaku manipulasi ini biasanya hadir di waktu yang sebenarnya. Sang pelaku tega orang-orang menunggu. Tidak ada rasa bersalah, apalagi permintaan maaf.

Seputar isi pertemuan, sang pelaku menyampaikan agenda tertentu kepada orang-orang. Akan tetapi sebenarnya ada agenda tersembunyi. Saat pertemuan berlangsung, agenda tersembunyi ini dimunculkan. Kekagetan orang-orang dikelola sedemikian agar kemudian terjadi penerimaan terhadap agenda tersembunyi tersebut.

Mencegah orang-orang berkembang itu contoh lainnya lagi. Otoritas digunakan sang pelaku untuk menghalang-halangi orang yang ingin belajar. Agresi verbal tidak ketinggalan.


Perilaku menginjak kepala orang lain biasanya lahir dari sosok minim kompetensi. Dengan merendahkan orang lain dan meninggikan diri sendiri, sang pelaku berharap dirinya dinilai sebagai sosok berkompetensi tinggi. Di saat bersamaan orang lain terlihat rendah.

Meskipun energi dan resiko dalam melakukan manipulasi terbilang besar, sosok penginjak kepala orang lain tidak peduli. Bahkan jika perlu, manipulasi dimainkan lebih canggih. Lelah diabaikan. Semuanya demi citra diri.

Sebagai ikhtiar memperbesar manipulasinya, sosok satu ini membangun kelompok pendukung. Kapanpun dukungan dibutuhkan, kelompok pendukung langsung bergerak. Tidak peduli apakah akibatnya buruk atau baik.

Dua resiko mengintai komunitas, termasuk organisasi, apabila perilaku menginjak kepala orang lain tidak segera dihentikan. Pertama, orang-orang berkompetensi tinggi menjadi tidak betah. Kapan saja mereka bisa pergi. Gagasan segar berkurang jauh. Sementara aktivitas tidak lagi kontributif. Komunitas melemah.

Kedua, masih berkaitan dengan resiko pertama, komunitas kekurangan calon pemimpin unggul. Karena orang berkompetensi tinggi sudah pergi. Tersisa mereka yang berkompetensi rendah. Alhasil komunitas perlahan menemui ajalnya.

Lalu apa yang jadi solusi? Menghidupkan kejujuran dan membudayakan pengembangan diri. Siapapun diharapkan konsisten dengan keduanya.

Lebih jauh perlu disuburkan kesadaran ukhrawi. Sehingga posisi tinggi tidaklah diperebutkan. Akan tetapi setiap posisi dijalankan dengan kesungguhan, semoga jadi amal shaleh.



Melawan dengan Elegan 

Saat direndahkan oleh pihak yang lebih senior atau berkedudukan lebih tinggi, hendaklah seseorang melawan dengan elegan. Respon diam dan pasif membuka peluang untuk seseorang terus direndahkan. Sedangkan respon eksplosif seperti marah hanya akan jadi senjata makan tuan. Dengan mudah respon eksplosif di-framing sebagai kerendahan budi pekerti.

Sekali lagi, lawanlah dengan elegan. Jagalah sikap tenang. Kembangkan juga senyum. 

Jaga suara secara wajar. Berikutnya susunlah kata-kata pembelaan yang berfokus pada diri sendiri. Tidak perlu senior atau atasan diserang.

Jauh lebih penting tunjukkan kinerja berkualitas tinggi. Di saat bersamaan tunjukkan prinsip diri. Bahwa kesetaraan itu yang jadi harapan, bukan saling merendahkan.

Wallah a'lam.


Fu'ad F
Diberdayakan oleh Blogger.