Header Ads

Membedah Perilaku Suka Terlambat Datang ke Pertemuan

Di tempat kerja sering ditemukan tipe orang suka terlambat datang ke pertemuan. Bukan hanya sesekali, tapi ia hampir selalu terlambat ke semua pertemuan. Pertemuannya entah di pagi hari, siang, atau sore, ia sama saja: Terlambat.


Faktor kesibukan? Mungkin. Akan tetapi jika setiap pertemuan didatangi dengan keterlambatan, sepertinya bukan kesibukan yang penyebabnya.

Ada penyebab yang lebih dominan, tapi cenderung sulit diakui, yakni ketidakmampuan mengatur agenda. Mana yang didulukan dan diakhirkan, tidak ada kriteria sebagai dasar prioritas. Asal terlihat sesuatu butuh diselesaikan, maka diselesaikan saat itu juga. Padahal agenda pertemuan terjadwal sudah menunggu.

Ketidakmampuan mengatur agenda diperparah dengan lemahnya delegasi, khususnya bagi pemimpin. Semuanya ditangani sang pemimpin sendirian. Sementara staf tidak dilibatkan atau dikembangkan secara sistematis.

Akibatnya tim yang dipimpinnya tergantung pada dirinya. Tanpa ada dirinya, tim tidak bisa jalan, apalagi memutuskan. Kerangka berpikir kolektif tidak terbentuk.

Iklim seperti ini tidak bagus untuk tim. Selain anggota tim tidak terlatih memutuskan, kinerja tim tidak otonom. Akibatnya geraknya lamban. Capaian target sulit diwujudkan.

Situasinya semakin buruk manakala tidak ada respek kepada pihak lain. Ada semacam perasaan narsis, meskipun terselubung. Sehingga minim sekali keinginan untuk menyimak pertemuan dari awal hingga akhir, mendengar setiap peserta pertemuan untuk menyampaikan gagasan masing-masing.

Akan tetapi, saat gilirannya bicara, jangan ditanya betapa semangatnya. Menyala itu ekspresinya. Keinginan memukau seluruh pertemuan sangat terlihat.

Orang-orang sejenis ini perlu dihentikan perilakunya. Perlahan tidak apa-apa. Yang pasti caranya harus elegan. Bagaimanapun gaya playing victim tidak jarang mereka lakukan.

Lebih jauh, marilah menggali pesan Baginda Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam kepada orang-orang yang sering terlambat shalat sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, "Jika suatu kaum senantiasa terlambat, maka Allah akan memperlambat mereka.”

Maksudnya, sebagaimana dijelaskan ulama, seorang muslim yang nyaman untuk sering terlambat shalat jamaah maka dikhawatirkan kebaikan-kebaikan akan lambat sampai kepada dirinya. Akhirnya peningkatan kualitas ruhiyahnya berlangsung pelan. Kecenderungan pada kebaikan tidak terlalu jelas, masih bercampur dengan impulsivitas nafsu.

Memang hadits tersebut berkaitan dengan shalat. Akan tetapi relevansinya dengan aktivitas harian lainnya sangat erat. Apalagi dengan aktivitas di dunia kerja, relevansinya sangat tinggi. Disiplin mungkin bukan segalanya, tapi disiplin punya posisi yang amat penting dalam menggapai banyak kebaikan.

Disiplin pula yang kemudian menjadi ukuran penting suksesnya pertemuan. Disiplin waktu dan pembahasan, dua hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Apabila keduanya terjaga, semoga pertemuan disikapi secara sungguh-sungguh oleh semua pihak.

Pada akhirnya, semoga datang tepat waktu di berbagai pertemuan menjadi bukti adanya tawadhu' (rendah hati). Selanjutnya tawadhu' menjadi awalan menuju tafahum (saling memahami). Sehingga ta'awun (sinergi penuh makna) dapat berlangsung mulus.

Wallah a'lam.


Fu'ad F
Diberdayakan oleh Blogger.