Header Ads

Libur telah Tiba, Semoga Semuanya Gembira

Libur sekolah tiba. Saatnya murid-murid terlepas dari rutinitas belajar harian. Kini mereka bisa rehat.


Di situasi rehat ini ada beberapa aktivitas yang terasa penting untuk dilakukan orangtua. Supaya anak dapat dideteksi, apakah anak mengalami kebosanan belajar di sekolah. Tentu saja, selanjutnya, semoga di masa liburan ini kebosanan itu bisa dikurangi bahkan dihapuskan.

Selain itu, semoga anak memiliki mindset yang luas tentang belajar. Bahwa belajar itu bisa di mana saja. Sekolah itu salah satu kepingan saja. Rumah, lingkungan bermain, dan masjid merupakan kepingan lain yang penting dalam pembelajaran anak di kehidupannya.

Sebelum pembahasan dilanjutkan, kiranya penting untuk membangun konteks yang inklusif. Bahwa pembahasan berikut mungkin untuk dipraktikkan di rumah yang salah satu orangtua atau keduanya bekerja. Sehingga terbuka bagi semua orangtua untuk menelaah pembahasan berikut.

Pertama, marilah memeriksa interaksi anak dengan gadget. Kemungkinan besar anak semakin senang dan intim dengan gadget. Ya, benar sekali, orangtua perlu mengajak anak bicara seputar penggunaan gadget selama liburan semisal durasi setiap hari. Poin lainnya yang juga diperhatikan banyak orangtua, dan ini sangat bagus, adalah jam tidur. Agar anak tetap disiplin shalat Subuh.

Kedua, ada baiknya orangtua mengapresiasi kebaikan anak, sekecil apapun. Agar mengundang berkah, sertakan hamdalah di setiap apresiasi. Tindakan ini penting sebagai tabungan emosi. Semoga berkurang keluhan umum anak tentang orangtuanya, "Marah-marah terus."

Bangun pagi sebelum waktu shalat Subuh habis, mau sarapan, meletakkan piring kotor di tempatnya, serta membantu pekerjaan-pekerjaan kecil rumah tangga merupakan beberapa contoh perbuatan perlu diapresiasi. Iya, kadang orangtua merasa, itu semua sudah kewajiban anak sehingga tidak perlu diapresiasi. Akan tetapi pikiran anak sering berbeda dengan orangtua. Sangat mungkin tertanam dalam benak anak bahwa mereka sudah effort luar biasa sehingga layak diapresiasi. 

Ketiga, orangtua perlu memastikan anak aman selama ditinggal pergi khususnya orangtua yang keduanya bekerja. Bekerja sama dengan keluarga besar merupakan satu opsi yang sangat sering dipilih. Opsi ini bagus saja, asal keluarga besar memiliki kelapangan.

Opsi lainnya adalah kolaborasi dengan tetangga dekat. Opsi ini juga cukup bagus. Hanya memang perlu pengecekan intensif, boleh dilakukan secara acak waktunya, guna memastikan keamanan anak. Agar husnuzhan orangtua kepada tetangga dekat benar-benar terbukti.

Apa lagi opsi yang tersedia? Mengajak anak ke tempat kerja juga satu opsi yang ditempuh beberapa orangtua. Asalkan tempat kerja oke dan anak bisa dikondisikan, yuk gas. Semoga anak jadi tahu bagaimana aktivitas kerja orangtuanya.

Keempat, orangtua mengontak guru sang anak. Catatan apa yang dimiliki guru tentang sang anak. Apa saja yang butuh diperbaiki atau ditingkatkan anak. Bahkan jika mungkin, orangtua bisa minta guru untuk memberi rekomendasi aktivitas sang anak selama liburan.

Kelima, orangtua mengondisikan anak bisa diajak dialog. Waktunya cukup 7-10 menit. Sampaikan secara jelas kepada anak bahwa anak perlu fokus selama waktu itu. Tujuannya untuk mengetahui, mungkin anak sudah punya rencana aktivitas selama liburan.

Apabila anak sudah punya rencana aktivitas selama liburan dan sifatnya positif, boleh sekali orangtua mendukung. Salah satunya dengan memberikan dukungan dana. Selanjutnya sepakati apa yang butuh dilakukan anak dan orangtua sebagai kendali agar aktivitas anak tetap positif.

Bagaimana dengan masukan guru tentang perbaikan anak? Dalam hal ini, orangtua bisa menyimpannya dulu. Apabila orangtua memaksakan rekomendasi guru kepada anak, dikhawatirkan anak kehilangan gairah, jadinya bad mood. Aktivitas positif yang sudah dirancang bisa langsung menguap lenyap.

Di saat anak belum punya rencana selama liburan, ini momen tepat untuk orangtua memasukkan rekomendasi guru. Betul sekali, orangtua tidak perlu menyampaikan bahwa ini pesan dari guru. Sebagian besar anak tidak ingin dibayangi pesan guru selama liburan. Seperti ada lelah yang langsung terasa saat nama guru disebut di kala liburan.

Usulkan saja, lalu tawarkan fasilitasi kepada anak. Jika anak menolak, tawarkan alternatif yang semisal. Misalkan anak tidak mau baca buku, mungkin anak mau baca cerpen digital. Alternatif lainnya baca artikel tentang influencer positif.

Jika anak berkeinginan untuk tidak melakukan apa-apa, orangtua butuh mengedepankan empati, "Kamu pasti capek urusan sekolah ya?"

Tanyakan juga, "Kira-kira apa yang membuatmu sangat capek?"

Setelah itu semoga dialog lebih cair. Anak kemudian mau menjatuhkan pilihan tentang aktivitasnya selama liburan. Sehingga liburan dijalani kosongan, ada sesuatu yang digapai. 

Disclaimer-nya, sesuatu yang digapai tersebut tidak mesti 'wah'. Sekedar anak menyadari jalannya sinar matahari yang masuk kamar, mengetahui berapa kali piring kotor dicuci dalam sehari, dan bagaimana lingkungan bertetangga di pagi hari, itu semua sudah cukup. Intinya anak menyadari bahwa dirinya memiliki hubungan dengan tempat tinggalnya serta tetangganya.


Bagaimana dengan rekreasi keluarga? Apabila itu mungkin untuk dilakukan, bagus juga. Akan tetapi jika tidak, tidak masalah. Asalkan, sebagaimana disepakati oleh hampir seluruh orangtua, anak perlu diajak bicara tentang situasi yang ada.

Semoga kemudian muncul opsi-opsi memungkinkan. Misalkan jalan-jalan ke pusat makan terdekat. Alternatif lainnya beraktivitas bersama di rumah dengan durasi satu atau dua jam.

Lebih jauh kadang sekolah menawarkan kegiatan untuk mengisi liburan anak. Sehubungan dengan itu, perhatikan berapa lama kegiatan itu berlangsung. Pastikan anak memiliki cukup waktu untuk menjauh sebentar dari hiruk-pikuk persekolahan. Supaya anak kembali segar saat kembali masuk sekolah.

Terakhir, satu tindakan bijak untuk orangtua membangun kerangka waktu pada anak. Di hari pertama liburan, anak bisa diberitahu bahwa anak punya waktu berlibur sekian hari. Beberapa hari berikutnya, sampaikan kepada anak, masih sekian hari liburan. Semoga anak tidak kaget di detik-detik jelang masuk sekolah kembali.

Sebagai penutup, semoga liburan sekolah menjadi waktu emas untuk anak menemukan dirinya kembali. Bahwa dirinya bukan hanya angka-angka di rapor nilai, bukan pula capaian belajar lainnya. Jauh lebih penting anak menemukan makna dalam aktivitasnya di sekolah ini, mengapa dan untuk apa. Sehingga dirinya lebih mudah menggambar perjalanan hidupnya ke depan dengan kemantapan hati.

Wallah a'lam.
Diberdayakan oleh Blogger.