Header Ads

Pemikir Strategis Organisasi, Bagaimana Memosisikannya dengan Tepat?


Alkisah suatu hari seorang pengawal curhat kepada sang raja tentang perbedaan dirinya dengan perdana menteri. "Ampun Baginda," ujarnya, "bagaimana mungkin gaji Perdana Menteri lebih besar ketimbang hamba? Padahal hamba menjaga istana ini hampir sepanjang hari, sementara beliau hanya datang beberapa waktu saja."

"Selain itu," lanjutnya, "beliau datang ke istana hanya duduk dan berbincang-bincang. Beberapa kali beliau keliling-keliling kerajaan, melihat-lihat, lalu pulang. Sementara hamba harus berkeringat menahan lelah."

Sang raja tersenyum. Lalu ia memberi perintah kepada sang pengawal, "Pergilah ke sungai dan lihat apa yang ada di sana."

Segera sang pengawal beranjak ke sungai. Tak lama ia kembali. Lalu ia melaporkan apa yang dilihatnya kepada sang raja, "Hamba melihat perahu dengan seorang pendayung dan seorang penumpang."

"Itu saja?" tanya sang raja.

"Iya, Baginda," jawab sang pengawal.

"Baik," ujar sang raja. Kemudian sang raja memberi perintah yang sama kepada sang perdana menteri.

Sang perdana menteri pergi ke sungai lalu melaporkan kepada sang raja, "Sebagaimana yang dilihat Pengawal, hamba juga melihat perahu dengan seorang pendayung dan seorang penumpang. Baju mereka sewarna namun sederhana. Sepertinya mereka bukan orang kaya. Apalagi perahunya tidak bermotif. Ohya, baju mereka sewarna dan wajah mereka mirip, hampir dapat dipastikan mereka berdua itu keluarga. Kemudian dikarenakan perahunya terbuka, maka terlihat apa saja di atasnya. Tidak terlihat apapun. Sehingga bisa dikatakan mereka tidak berpotensi mengancam keamanan kerajaan. Demikian laporan hamba, Baginda."


Sang raja tersenyum. Di saat bersamaan, sang pengawal tersenyum kecut, menyadari kesalahannya. Bahwa sang perdana menteri tidak hanya melihat, tapi mendalami. Lalu sang perdana menteri menghubungkan dengan situasi kerajaan. Kemampuan sang perdana menteri bukan kaleng-kaleng.

Dalam perspektif manajemen mutakhir, kemampuan yang dimiliki sang perdana menteri itu mirip dengan manajemen strategik. Apa yang terlihat tidak hanya dilihat, tapi didalami dan diuraikan. Berikutnya korelasi-korelasi dibangun. Agar tergambar seberapa besar dampaknya bagi organisasi, positif ataupun negatif.

Problemnya, sebagaimana dalam cerita fiksi tersebut, seorang pemikir strategis kadang dipertanyakan kinerjanya. Datang dan mengamati lebih banyak dinilai sebagai kegiatan tidak produktif. Siapapun dianggap bisa.

Padahal, lagi-lagi merujuk ke cerita fiksi tersebut, pengamatan seorang pemikir strategis bernilai jauh lebih berkualitas ketimbang pengamatan orang biasa. Dampak dari keduanya tentu berbeda. Jangkauannya juga berbeda, baik waktu ataupun tempat.


Di sinilah pentingnya organisasi, bisnis ataupun nirlaba, mengedukasikan kepada seluruh anggotanya perihal kerja berpikir strategis. Bahwa ini bukan kerja biasa. Cara mengukurnya juga istimewa, tidak sekedar output tapi juga outcome.

Di sisi lain para pemimpin organisasi hendaklah tidak menempatkan para pemikir strategis sebagai rival. Mereka mungkin tenar. Akan tetapi ketenaran mereka tidak selalu berbanding lurus dengan keinginan menjadi pemimpin. Bagi para pemikir strategis, belajar dan belajar lebih menggairahkan ketimbang mengejar kekuasaan.

Sehubungan dengan itu, baiknya para pemimpin organisasi mengamati pergerakan para pemikir strategis. Apabila tidak ada yang mencurigakan, baiknya rivalitas pemimpin organisasi versus pemikir strategis dihilangkan sepenuhnya. Jauh lebih relevan dan bermanfaat untuk komunikasi intensif dibangun. 

Sementara itu para pemikir strategis dianjurkan untuk menjalin komunikasi dengan berbagai pihak. Sikap rendah hati dijaga. Agar pemikiran strategis dapat dijadikan bahan sharing. Sehingga semua pihak merasa terlibat dalam kerja berpikir strategis.

Hal terpenting tentu saja para pemikir strategis diharapkan untuk senantiasa belajar dan mengajar. Tugas mencerahkan organisasi ada di pundak mereka. Mereka mungkin dipandang sebelah mata oleh orang-orang di organisasi, dianggap hanya pembual. Akan tetapi hendaklah mereka bersabar, sembari terus memberi opsi-opsi pengembangan organisasi berkelanjutan kepada pemimpin organisasi.

Wallah a'lam.


Fu'ad F
Diberdayakan oleh Blogger.