Nilai-nilai Islam sebagai Budaya Universal di Keseharian Aktivitas Sekolah
Salah satu pertanyaan di sela-sela bincangan seputar persidangan dugaan korupsi Chromebook di Kemdikbud RI adalah proses belajar-mengajar yang relevan dengan luasnya bentangan wilayah Indonesia. Pertanyaan ini muncul tentu bukan dari kalangan guru. Karena sebagian besar guru sudah mengetahui jawabannya.
Terlepas mewakili netizen dari unsur mana, pertanyaan ini menjadi momen emas untuk mengedukasi sekaligus menguatkan kembali apa yang telah dirintis pada proses pendidikan Indonesia khususnya konteks persekolahan. Sebelumnya marilah kembali menyadari kekayaan budaya Indonesia. Tidak hanya berbasis tradisi lokal, tapi juga budaya berbasis agama, bahkan gabungan antara agama dengan tradisi lokal.
Link berkaitan: https://www.dpwhidayatullahdiyjatengbagsel.org/2024/09/menguatkan-literasi-dengan-bahasa-ibu.html
Keragaman budaya tersebut menjadi modal dalam aktivitas persekolahan. Bahwa dari keragaman budaya tersebut, hendaklah peserta didik membangun konstruksi berpikir ilmiah. Ini sangat memungkinkan karena peserta didik relatif dekat serta akrab dengan budayanya.
Demikianlah semangat yang ingin ditumbuhkan pada KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan RI hanya memberikan standar isi dan standar proses. Satuan pendidikan, khususnya para guru, mengisi aktivitas persekolahan dengan lokalitas. Budaya setempat termasuk dalam lokalitas yang dimaksud.
Di Kurikulum 2013 semangat yang sama berusaha diusung kembali. Ilustrasi dan narasi keragaman Indonesia begitu mudah ditemukan di buku-buku ajarnya, terutama tingkat sekolah dasar. Harapannya guru-guru terstimulus untuk mengembangkan lokalitas di aktivitas persekolahan.
Di Kurikulum Merdeka semangat ini sebenarnya tidak dihapus ataupun sekedar dikurangi. Hanya saja situasi Kurikulum Merdeka menuntut guru berpikir keras untuk mendesain struktur isi pembelajarannya lewat ATP (Alur Tujuan Pembelajaran), sehingga lokalitas ini sering terlewat. Akhirnya semangat berbudaya Indonesia meredup.
Seiring situasi pendidikan Indonesia yang terus dinamis, para guru dihadapkan pada banyak percabangan pikiran. Sehingga sangat ideal jika ada fasilitasi dari pihak-pihak otoritatif, semisal akademisi, untuk membantu guru memfokuskan kembali energi pikirannya. Dengan demikian berbagai target dapat diraih, jangka pendek ataupun panjang.
Kemudian marilah membahas ajaran Islam sebagai budaya di sekolah. Sebagaimana diketahui bersama, budaya Islami sudah banyak diserap dan diaplikasikan di sekolah-sekolah. Senyum, sapa, salam, dan sopan santun adalah salah satu contohnya.
Ke depan tentu menjadi sebuah harapan agar Islam dijalankan lebih paripurna di sekolah-sekolah terkecuali sekolah dengan muatan agama lain. Shalat jamaah, sebagai contoh, pelaksanaannya lebih ditingkatkan secara kualitas. Kemudian hijab laki-laki dan perempuan.
Lebih jauh harapannya iman dan takwa menjadi lebih paradigma akademis yang lebih operasional dalam aktivitas persekolahan. Sebagaimana tertuang dalam UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003, salah satu tujuan pendidikan Indonesia adalah mengantarkan insan beriman dan bertakwa. Oleh karena itu seluruh aktivitas persekolahan, baik paradigma akademis ataupun kultur, perlu bersumber dari keduanya.
Wallah a'lam.
Fu'ad F

Post a Comment