Header Ads

Menjaga Kepemimpinan Bersama-sama


Salah satu perilaku buruk di kumpulan manusia (lingkungan, komunitas, organisasi, tempat kerja) adalah fitnah kepada pemimpin. Sang pemimpin digambarkan sebagai sosok buruk dengan perilaku buruk. Sehingga ia layak untuk dipermalukan dan diturunkan dari kepemimpinannya.

Para pembuat fitnah kerapkali sembunyi-bunyi. Mereka tidak menampakkan diri dalam menyebarkan fitnah. Akan tetapi perlahan fitnah disebarkan secara luas di komunitas. 

Apabila dikonfrontir, para pembuat fitnah akan mengelak. Berbagai cara berkelit dilakukan. Pokoknya mereka harus tetap bersih, tidak diketemukan sebagai biang kerok.

Di depan sang pemimpin, para pembuat fitnah sangat sering berperilaku ABS (asal bapak senang). Mereka berpekerti halus. Mereka mengiyakan seluruh arahan dan instruksi sang pemimpin. Akan tetapi di belakang sang pemimpin, mereka merencanakan sesuatu yang berat. Bukan hanya bagi sang pemimpin, tapi juga berat untuk komunitas.

Hal ini dikarenakan turunnya sang pemimpin dari kepemimpinannya bisa berdampak pada kualitas pengelolaan komunitas. Awalnya komunitas dipimpin dengan baik. Setelah sang pemimpin tidak lagi memimpin karena fitnah, komunitas berkemungkinan kacau. Tidak ada lagi pemimpin yang bertanggung jawab untuk memandu. 

Para pembuat fitnah, karena kebenciannya, tidak bisa berpikir jernih. Yang penting bagi mereka hanya satu: Sang pemimpin harus turun.

Tidak peduli ke depannya bagaimana nasib komunitas, pokoknya sang pemimpin harus turun. Ego betul-betul sudah menguasai pikiran para pembuat fitnah. Tak ada lagi empati.

Anehnya mereka, para pembuat fitnah, tidak mau memberikan kontribusi apapun pada pengelolaan komunitas. Buah pikiran tidak ada, sumbangan harta apalagi. Hanya buat ribut, itu perbuatan mereka.

Apabila kemudian ada pergantian pemimpin, sedangkan mereka tidak suka, main fitnah lagi itu yang dilakukan. Lama-lama tanpa sadar, terjadilah siklus. Akhirnya tidak pernah ada kebaikan menetap di komunitas. 

Ibarat perahu di aliran sungai, arusnya terlalu kencang untuk perahu meluncur mulus. Orang-orang di komunitas terlalu sibuk membahas fitnah kepada sang pemimpin. Tak ada produktivitas. Apabila ada aktivitas, itu semua kedok agar terlihat sibuk. Padahal hasilnya nol.

Sehubungan dengan itu semua, marilah semua pihak menyadari adab-adab kepemimpinan. Bahwa orang yang memimpin punya kewajiban serta etika, demikian pula yang dipimpin. Tidak bisa kewajiban serta etika diabaikan, apalagi hanya karena tidak suka.

Bagaimanapun tidak ada orang yang sempurna, baik pemimpin maupun dipimpin. Dalam hal ini hendaklah sistem kendali dan masukan dibangun. Semoga perbaikan dilakukan secara berkesinambungan.

Mekanisme yang diterapkan perlu diikuti secara seksama. Semoga aspirasi sampai dengan utuh. Bahkan pengayaan positif atas aspirasi dilakukan banyak pihak, sehingga aspirasi semakin menarik sekaligus relevan.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan. Kepemimpinan tumbuh secara natural, lalu dikuatkan oleh panduan-panduan. Ada panduan agama, pengetahuan, serta pemikiran.

Tidak bisa manusia hidup tanpa pemimpin. Kacau balau sangat mungkin terjadi. Dalam hal ini, buruk sangka terhadap pemimpin dan filosofi kepemimpinan hendaklah dibuang jauh-jauh.

Sebagai gantinya, Islam telah menawarkan banyak alternatif. Dua diantaranya adalah taushiyah dan ta'awun, saling menasehati dan kerjasama. Sehingga pemimpin dan orang yang dipimpin manunggal.

Trauma atas kepemimpinan zhalim kadang menimpa sekumpulan orang. Lalu mereka menyerukan agar menghapus kepemimpinan. Biar manusia bebas. Akan tetapi, justru kekacauan bisa semakin menjadi-jadi.

Wallah a'lam.
Diberdayakan oleh Blogger.