Header Ads

Manfaat Kolaborasi bagi Siapa dan Dimana Saja

Kompetisi itu boleh, tapi sesekali saja. Karena bagaimanapun kompetisi itu membutuhkan banyak energi. Fisik akan lelah, mental juga.

Apalagi jika kompetisi dilakukan secara individual. Lelahnya akan berlipat-lipat. Karena tidak ada teman ngobrol atau berbagi. Sepi dan hampa rasanya.

Sebagai gantinya, bagaimana jika kolaborasi saja? Satu sama lain saling bantu. Beban dibagi. Tidak harus rata, yang penting proporsional.


Selain itu, dengan kolaborasi, ada teman ngobrol. Ini penting sekali, mengingat banyak manfaat seputar ngobrol. Di aspek afeksi, misalkan, ada teman berbagi rasa, entah sedih atau gembira. Sehingga tumpukan serta gejolak rasa di hati bisa dikurangi sedikit demi sedikit.

Apabila tidak begitu, booom!!! Meledaklah perasaan. Depresi atau sejenisnya kemudian menimpa. Situasinya buruk.

Di aspek kognisi, teman ngobrol penting untuk validasi dan verifikasi ide. Sejauhmana ide itu runtut sekaligus revelan? Bagaimana pengaruh ide-ide sebelumnya terhadap ide baru ini? Cara apa paling mudah dalam melaksanakan ide ini?

Memang, diakui, sebagian orang merasa ribet dengan proses validasi dan verifikasi ide. Menurut mereka, itu bertele-tele dan menghabiskan waktu. Ide tidak bisa diaplikasikan segera.

Akan tetapi bagi orang yang terbiasa bekerja sistemik dan akuntabel, validasi dan verifikasi ide itu penting dilakukan. Agar pada saatnya diaplikasikan, ide benar-benar mantap. Hasilnya jauh lebih efektif.

Lebih jauh, dari sisi coaching atau peer-coaching, kolaborasi berperan sebagai 'cermin'. Sebagaimana sering terjadi di keseharian, seseorang gamang atau mengalami kacau pikir. Banyak hal bercampur di kepala, seperti benang kusut. 

Dengan adanya rekan sebagai kolaborator, sejumlah pertanyaan penjelas bisa diajukan dan didiskusikan. Misalkan, "Apakah opsi ini sudah pas dengan tujuan yang telah ditetapkan?"

Insya Allah, keselarasan akan lebih terjamin. Tujuan dan gerakan di lapangan nyambung. Semua pihak yang terlibat akan bergerak dengan nyaman. Semoga kontribusi mereka all-out.

Selain menyediakan 'cermin', kolaborasi juga menyediakan bantuan untuk seseorang tumbuh lebih cepat, terutama pada junior. Karena bantuan coach/senior mengalir lewat aktivitas riil. Bukan hanya itu, bahkan teori dan refleksi juga ikut mengalir.

Dengan demikian seorang junior berkemungkinan lebih cepat menyerap pelajaran, menstimulus perkembangan soft skill dan hard skill secara simultan. Sehingga junior lebih siap menghadapi tantangan. Pergerakannya kemudian lebih akseleratif.

Di aspek sosial, kolaborasi membuka pintu pengenalan antarorang lebih lebar. Satu sama lain tidak saja saling tahu, tapi saling paham. Kelebihan rekannya apa, begitu juga kelemahannya dipahami dengan seksama.

Salah satu contoh kolaborasi jenis ini adalah pernikahan. Suami dan istri saling bantu, juga saling memahami lebih jauh pasangannya. Seiring waktu dan peningkatan kualitas kolaborasi, keduanya saling mengenal serta sayang. 

Sebuah pertanyaan muncul, dari mana mengawali kolaborasi? Jawabannya, memahami apa yang dikolaborasikan.

Semisal kolaborasi kebaikan dan takwa. Ini sangat mungkin terjadi jika kebaikan dan takwa dipahami dengan mendalam. Sehingga berbagai pihak bisa mengukur dirinya, lalu mengambil peran dalam kolaborasi.

Sudah lama kolaborasi menjadi harapan para ahli sumber daya insani. Karena kebaikannya begitu banyak. Di sisi lain kompetisi sudah banyak melahirkan penderitaan, baik individual ataupun kolektif. Bagaimana mungkin manusia membiarkan dirinya menderita padahal Sang Pencipta menawarkan banyak potensi bahagia?

Wallah a'lam.


Fu'ad F
(Artikel ini diterbitkan pertama kali di hidayatullah.or.id dengan judul "Di Era Individualisasi, Kolaborasi Menjadi Jawaban"; ditulis ulang dengan penambahan yang diperlukan)
Diberdayakan oleh Blogger.