Header Ads

Ikhtiar Kolektif Berbasis Agama dalam Membangun Masyarakat

Terjadi lagi seorang kurir dibegal, tepatnya pekan lalu. Padahal sang kurir sedang berteduh dari hujan. Kejadiannya juga di siang hari. Perihnya motor dan barang-barang bawaan kurir diambil semua oleh begal yang terdiri dari tiga orang dengan dua motor.


Sebuah pertanyaan yang wajar untuk disampaikan: Dimana hati nurani para begal itu? Apakah kesulitan ekonomi telah mematikan nurani, berganti kebengisan?

Sang kurir dan para begal sama-sama lelaki. Statusnya mungkin juga sama, yakni pencari nafkah untuk keluarga. Pertanyaan berikutnya muncul, haruskah mencari nafkah dengan mematikan nafkah orang lain?

Akan tetapi, meskipun sederet pertanyaan terus diajukan, apalah guna jika nurani telah tiada dan kebiasaan sinergi kebaikan juga tidak biasa. Akhirnya mencelakai orang lain pilihannya. Tak peduli akibat ke depannya.

Sungguh tidak bisa dikesampingkan bahwa ekonomi sulit akhir-akhir ini. Pengangguran tercipta di mana-mana. Sementara membuka usaha juga tidak mudah.

Di sisi lain sebagaimana ditemukan dan disampaikan beberapa pihak, banyak sekali orang berusia produktif yang belum memenuhi syarat untuk masuk dunia kerja. Sikap, pengetahuan, dan keterampilannya perlu diasah. Belumlah ini bicara tentang ketaatan beragama.

Ada juga temuan, beberapa unit usaha tidak memberikan imbalan yang layak. Sehingga sejumlah pencari kerja tidak berminat. Sementara sebagian pekerja merasa diperas tenaga, akhirnya mundur jadi jawaban.

Peran pemerintah tentu diharapkan. Agar situasi ekonomi menjadi kompetitif dan berkeadilan. Akan tetapi tidak ada salahnya jika ikhtiar kolektif dilakukan, tanpa harus menunggu dari pemerintah. 

Salah satu yang terpenting adalah membangun pemahaman agama. Indikasinya akhirat menjadi orientasi utamanya, sedangkan keterampilan kerja ditingkatkan sebagai ikhtiar menabung kebaikan akhirat. Keduanya tidak dipisahkan.

Dari sini dapat didetailkan pengetahuan agama apa saja yang prioritas untuk diajarkan kepada peserta didik. Dapat pula didetailkan apa saja keterampilan praktis yang perlu dilatihkan. Hubungan saling menguatkan antara kedua subjek, pengetahuan agama dan keterampilan, juga bisa dibangun guna menunjang karakternya.

Disadari bahwa tidak semua masyarakat tersentuh oleh lembaga pendidikan. Kemiskinan yang telah mengakar membuat sebagian lapisan masyarakat berpikir pragmatis. "Hari ini harus makan," itu saja.

Halal-haram sudah tidak lagi penting. Ibarat uap, sudah tidak ada bekasnya. Bahkan ceramah agama kadang membangkitkan trauma, bahkan luka baru.

Demikian realitas masyarakat kita. Sebagiannya tidak tersentuh agama dan tidak memiliki kapasitas bekerja. Sementara lainnya memiliki situasi yang lebih baik. Sebagiannya bergumul untuk terus menyedot kekayaan dengan tidak sah.

Berat nian lanskapnya, semoga jadi tantangan mujahid dakwah.

Wallah a'lam.
Diberdayakan oleh Blogger.